C19: Rencana Arwah Baik Hati

Chapter 19: Rencana Arwah Baik Hati

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Jerrin dengan wajah muram kepada wanita berkulit sawo yang nampak memegang kendali situasi itu. Di matanya tersirat kekhawatiran ketika ia melihat tubuh Shira yang tak sadarkan diri.

“Dia kena amukan Raja Gorila,” jawab wanita itu singkat.

“Kubunuh gorila itu!” desis Jerrin.

Wanita itu yang mendengarnya langsung mengerutkan dahi. “Kamu sepertinya orang luar, gak tau aturannya di desa ini. Semua petarung berusia di atas dua puluh lima gak boleh berurusan dengan monster elite. Kita tungguh para sepuh desa mengendalikan suasana, dan nanti Raja Hutan sendiri yang akan menghukum Raja Gorila dan memberikan kompensasi kepada korban luka.”

Ia menjelaskan sekilas tentang aturan yang sudah ada di desa ini. Sebenarnya, itu adalah kesepakatan antara Kepala Desa dan Raja Hutan puluhan tahun yang lalu. Awalnya, Raja Hutan sebelumnya sangat ditakuti dan petarung Desa Badril tak mungkin mengalahkan pasukannya. Gunung dan hutan Desa Badril ratusan tahun menjadi tempat berbahaya yang tak mungkin disinggahi.

Namun ketika Raja Hutan tersebut meninggal dan anaknya naik takhta. Raja Hutan yang sekarang tahu bahwa perkembangan manusia jauh lebih cepat daripada monster. Ia melihat di masa depan jika para monster dan hewan buas tetap bersikap arogan seperti ini, lambat laun manusia akan melampaui mereka dan akan memusnahkan mereka semua. Oleh karena itu, ia memanfaatkan keadaan untuk membuat kesepakatan dengan manusia yang tinggal di dekat daerah kekuasaannya.

Isinya, penduduk desa boleh berburu dan menjadikan hutan sebagai tempat latihan selama mereka menghormati kekuasaan Raja Hutan. Tentu yang boleh diburu adalah monster dan hewan buas berinteligensi rendah yang tak ada yang peduli pada mereka. Selain itu, Raja Hutan juga mengatakan yang hanya boleh menantang monster elite adalah petarung di bawah usia dua puluh lima. Di sisi lain monster elite pun dilarang membuat masalah kepada manusia tanpa sebab.

Oleh karena itu, sikap Raja Gorila yang mengamuk tentu akan dihukum keras oleh Raja Hutan untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa ia tetap menghargai kesepakatan tersebut.

“Hmm, sepertinya monyet bodoh itu agak berlebihan padanya.”

Sebuah sosok transparan dan mengambang menggosok dagunya melihat ke arah Shira jatuh tadi. Ia tengah duduk bersila di udara. Satu meter di bawahnya tanah penuh dengan tulisan simbol-simbol yang aneh. Tak ada manusia yang masih hidup yang mengenal simbol-simbol tersebut.

“Apa boleh buat. Sesekali dia harus merasakan kalah. Kalau enggak begitu dia akan terus bermalas-malasan,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sosok itu adalah Arwah Baik Hati. Ia tak kembali ke kaki gunung menunggu Shira tetapi pergi ke puncak gunung di mana tak ada makhluk hidup yang bisa sampai ke sana. Entah manusia dan para monster tak tahu mengapa mereka tiba-tiba penghalang berkekuatan tinggi muncul di puncak gunung setahun yang lalu.

“Aku baru saja selesai membuat persiapannya. Kebetulan sekali, padahal belakangan ini inspirasiku untuk membuat rune-rune ini benar-benar buntu. Pertanda? Hmm... Apa mungkin ini benar-benar waktunya?”

Arwah Baik Hati menimbang-nimbang dalam hati. Ia ragu apakah setelah Shira dikalahkan telak oleh Raja Gorila ia akan menjadi lebih bersemangat. Kalau tidak begitu dan ia tetap menjalankan rencananya, maka usahanya menggambar semua simbol selama setahun belakangan ini akan menjadi sia-sia.

Awalnya, Arwah Baik Hati berencana melakukan hal ini setelah Shira melawan Tuan Muda Blackwood. Tetapi lambat laun ia menjadi ragu apakah Shira bisa dikalahkan dalam duel dengan mudah. Oleh karena itu, ia membuat rencana baru untuk memancing Shira dikalahkan oleh monster elite dan membuatnya sadar bahwa ia masih begitu lemah dan membutuhkan kekuatan lagi.

Tentu saja Arwah Baik Hati tahu tentang kesepakatan manusia dan Raja Hutan. Sejak awal ia yakin Raja Gorila tak akan berani membunuh Shira, walau pada akhirnya keadaan Shira tetap mengenaskan juga.

“Masa bodoh, ah! Yang penting aku sudah ingat desain rune-nya. Kalau gagal tinggal buat lagi.”

Dengan begitu, mulut Arwah Baik Hati komat-kamit merapal mantra. Simbol-simbol yang terlukis di tanah dengan tinta biru tua langsung menyala-nyala menerangi puncak gunung.

Tubuh Shira yang lemas digendong oleh Jerrin. Ia akan membawanya kembali ke kediaman Keluarga Yashura dan beristirahat. Barangkali ia tak akan siuman dalam beberapa hari mengingat kondisinya yang sudah parah begini.

Tulang-tulang Shira penuh dengan retakan dan beberapa patah. Semua orang yang melihat keadaannya yakin ia tak akan bisa bangkit lagi untuk dua bulan ke depan.

Saat Jerrin, Merly mengikuti tiga pemburu itu, banyak yang melihat ke arah mereka. Tanpa ambil pusing untuk mengecilkan suara mereka, suara mengejek pun masih saja muncul di mana-mana.

Dan yang paling keras tertawa mengejek adalah Bony. Sambil menepuk-nepuk belakang kepala dua anak buahnya, ia berkata, “gobloknya! Sudah untung diajakin buat party, sekarang pas sudah begini mau salahin siapa? Goblok, goblok.”

Jerrin yang mendengar itu langsung melototinya tajam. Begitu juga Merly, walau ia tak begitu peduli tentang kondisi Shira tapi mendengar suara arogan Bony membuat hatinya menjadi kesal.

Sedang dua anak buah Bony, hanya terdiam tak bergeming. Mereka diancam oleh tiga pemburu tadi untuk tak mengatakan alasan Shira seperti ini kepada orang lain. Karena jika orang-orang tahu alasan sebenarnya Raja Gorila itu mengamuk, maka akan menjadi masalah untuk Keluarga Yashura.

Yang bisa mereka lakukan hanyalah mendesah dalam hati, selamat dari amukan Raja Gorila saja sudah untung bagi mereka.

Lyla Blackwood berjalan di samping Bhela Malikh. Matanya yang mungil dan indah melihat terus-menerus ke arah Shira dengan ratapan prihatin. Bhela yang melihat hal itu hanya mengeluarkan napas panjang.

“Kita sudah memberikannya bantuan tapi dia menolak. Keadaannya yang begitu adalah kesalahannya sendiri,” kata Bhela pelan. Ia tahu Lyla memiliki hati yang murni dan polos, gadis itu sangat tersentuh melihat anak muda lemah seperti Shira tak sadarkan diri seperti itu. Lyla melihat ke arah Shira seperti ia melihat kelinci kecil yang sedang terluka.

Lalu tiba-tiba, dari kulit-kulit Shira yang kotor oleh tanah, muncul cahaya simbol-simbol aneh. Lyla yang memperhatikan Shira sejak tadi takjub melihatnya.

“Apa itu?”

Yang menyadari cahaya muncul dikulit Shira bukan hanya Lyla saja. Banyak orang yang terkejut melihat hal itu.

Merly juga ikut terkesima. Namun kemudian tiba-tiba Mama Ross keluar dari tubuhnya.

Ekspresi terkejut dahsyat muncul di wajah Mama Ross melihat simbol-simbol itu. Hanya Jerrin Yurin dan Merly Yurin yang bisa melihatnya. Setelah melihat air muka Mama Ross yang bergetar hebat, mereka pun ikut khawatir.

“Mama Ross, apa yang terjadi?”

Tetapi pikiran Mama Ross yang masih syok melihat simbol-simbol itu tak sempat mendengar ucapan Merly. Ia hanya berbisik pada dirinya sendiri sambil meneguhkan hatinya.

“Aku selalu tau orang itu adalah monster.... Tapi aku gak pernah menyangka dia akan berbuat hal seperti ini.”

Cahaya simbol itu semakin terang. Baru Mama Ross bangun dari lamunannya.

“Jerrin,” kata arwah wanita itu, “bawa kembali Shira ke gunung. Kemudian tinggalkan dia di tempat yang sepi. Setelah itu tunggu gurumu di gerbang desa.”

Mama Ross tak peduli dengan Jerrin yang masih terkejut mendengar instruksinya. Ia menoleh ke arah Merly, dan berkata penuh dengan keseriusan.

“Merly sayangku. Bilang ke gurumu aku memerintahkannya untuk berkemas dan tinggalkan desa ini. Putus semua hubungan dengan Keluarga Yashura. Setelah ini, Mama gak mau mendengar nama Shira Yashura dikaitkan dengan kita lagi!”

Setelah itu, Mama Ross melihat ke arah puncak yang mulai bercahaya persis dengan cahaya di kulit Shira. Kemudian ia terbang ke arah puncak itu, meninggalkan Jerrin dan Merly yang masih takjub mencerna ucapan Mama Ross.

Mama Ross terbang dengan kecepatan penuh. Beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di puncak. Dengan menggunakan sihirnya, ia mengira bakal mudah menerobos pelindung yang ada di sana. Tetapi ia salah, Mama Ross bahkan membutuhkan artifact-nya untuk memperkuat sihir yang dimilikinya.

Di situ, ia melihat cahaya kebiruan yang menyilaukan. Mama Ross memicingkan matanya, samar-samar ia melihat sosok seorang pria yang tengah duduk bersila mengambang di udara.

“Yo. Bukannya ini Mbak Ross yang cakep? Ah, pasti sedang kangen sama aku makanya buru-buru kemari.”

Arwah Baik Hati menyambut dengan senyum di wajahnya. Air mukanya yang terlihat tengah kelelahan langsung bersemangat kembali ketika melihat Mama Ross datang ke situ. Terutama ketika ia menatap buah dada arwah wanita itu, matanya langsung bersinar segar kembali.

“Apa yang kamu rencanakan?” tanya Mama Ross. Sebenarnya, ia sudah tahu tujuan Arwah Baik Hati. Tetapi kejadian ini sangat membuat Mama Ross begitu terkejut sampai-sampai ia sendiri tak ingin mempercayainya.

“Sudah kubilang panggil aku abang, apa mbak sudah lupa?”

“Apa... yang abang rencanakan?”

“Apa rencanaku? Hmm, hmm.... Aku sudah berjanji kepada anak itu untuk mengajarkannya tentang ‘Deadly Strike’, jadi aku berencana untuk menepati janjiku.”

“!!!” mendengar jawaban santai Arwah Baik Hati, Mama Ross yang sudah terkejut semenjak tadi kini jantungnya hampir mau melompat. Ketika mendengar ‘Deadly Strike’, dugaan terburuknya akhirnya terbukti.

“Abang... berencana menaruh benih Pemberontak pada anak itu...”

Suara Mama Ross terdengar gemetar. Jelas ia sedang ketakutan sekarang. Tapi yang hanya bisa bertindak tentang hal ini hanya ia seorang sekarang. Jadi ia membulatkan tekadnya untuk berhadapan dengan monster yang ada di depannya ini.

“Apakah abang gak sadar kalau Shira menjadi seorang Pemberontak, mereka akan segera bertindak. Jika itu terjadi, maka akan banyak nyawa tak berdosa yang ikut menjadi korbannya!”

Ketika Mama Ross menyebut ‘mereka’, Arwah Baik Hati hanya tertawa kecil.

“Tentu saja aku tau. Mana ada orang yang lebih tau daripada aku? Lagipula, mereka lah yang membunuhku sejak awal.”

“Mereka akan membunuh Shira! Keluarganya pun juga akan ikut dimusnahkan!”

“Mbak Ross yang cantik, kamu gak perlu khawatir tentang anak itu. Kalau aku sudah memutuskan untuk melakukan ini, tentu aku punya rencana cadangan ketika mereka datang. Untuk keluarganya, hmmm... aku akan memastikan Shira menjadi lebih kuat untuk bisa membalaskan dendamnya.”

Lalu kemudian, aku akan mengambil alih tubuhnya! Begitulah yang pesan tersirat yang terpancar dari wajah Arwah Baik Hati yang cengar-cengir sendiri.

Terlihat dari luar, Arwah Baik Hati dengan santai menuntun Shira untuk menjadi lebih kuat. Ia melihat aura dan potensi Shira yang mengerikan, dan ketika Blackwood datang kengerian itu semakin menjadi-jadi.

Jadi ia memutuskan untuk mempercepat rencananya, untuk membuka potensi Shira menjadi jauh lebih kuat lagi!

Di benaknya, Arwah Baik Hati sedang membesarkan seorang monster. Ia tak peduli nasib orang lain saat ini. Jadi argumen apa pun yang Mama Ross lontarkan, tetap saja ia seperti berbicara dengan batu.

“Aku... akan menghentikanmu!”

Mama Ross menggigit bibir bawahnya, bertekad menggunakan separuh esensi kehidupannya untuk menciptakan sihir terkuat yang pernah ia buat. Walaupun ia adalah seorang arwah, darah pekat mengucur dari hidungnya. Di dalam tubuhnya aliran mana mulai mengalir kacau, tetapi kekuatan dahsyat merangkak dari dalam mana sphere-nya dan bola api raksasa yang nampak hidup pun muncul di puncak gunung itu.

Semua orang desa dapat melihat bola api itu dari bawah. Bahkan dari desa lain pun bisa terlihat. Besar bola api itu hampir separuh dari besar gunung. Jika bola api itu mendarat di gunung tersebut, tak ada yang tahu apakah gunung itu masih bisa bertahan seperti sedia kala.

“Sihir itu setidaknya dibuat oleh petarung berlevel super tinggi! Apa yang sedang terjadi di gunung itu?!”

“Apa saat ini ada pahlawan yang kebetulan lewat? Dan amukan Raja Gorila gak sengaja membuatnya kesal?”

“Semua monster dan hewan buas yang tinggal di gunung itu akan musnah. Entah bagaimana reaksi Raja Hutan kita semua gak tau!”

Orang-orang desa menjadi panik melihat bola api itu. Di suatu tempat di gunung, seorang pria muda tengah membaringkan tubuh Shira Yashura yang bercahaya dan membalutkan tubuhnya dengan selimut. Saat merasakan suhu udara memanas, ia pun mendongak. Wajahnya langsung pucat melihat bola api raksasa berotasi di atas puncak gunung.

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

Kembali ke puncak gunung, saat Arwah Baik Hati melihat bola api raksasa di atas kepalanya, ia hanya tersenyum kepada Mama Ross.

“Hehe, Mbak Ross gak berencana untuk menyusahkanku, bukan?”

Mama Ross tak menjawab. Bola apinya semakin membesar dan warnanya pun berubah menjadi ungu. Lidah api ungu itu bukanlah lidah api biasa. Jika para penyihir level tinggi di fraksi-fraksi terkuat benua Tiramikal melihat bola api ungu ini, barangkali mereka akan bersujud ketakutan di bawah kaki Mama Ross.

Tapi Arwah Baik Hati masih santai walau ia tahu seberapa besar kekuatan asli bola api ungu tersebut. Ia masih menunggu Mama Ross menjawabnya, tetapi yang ada di pancaran bola mata arwah wanita itu hanyalah tekad untuk menghentikan rencana Arwah Baik Hati.

Mama Ross tahu, datangnya seorang Pemberontak tidak hanya mempengaruhi nasib seseorang atau satu keluarga saja. Setiap kali seorang Pemberontak lahir, kekacauan akan muncul dan darah mengalir di mana-mana. Seisi benua akan hangus terbakar menjadi puing-puing, dan pasukan dari seluruh dunia akan bergerak untuk menyerang satu sama lain di dalam kebingungan massal.

Tiga belas ribu tahun yang lalu adalah contohnya!

Karena Pemberontak adalah simbol resistansi manusia terhadap kekuatan yang selama ini menekan umat manusia, peperangan tiada akhir akan muncul dan milyaran nyawa manusia tak berdosa akan menjadi persembahannya.

“Aku gak mungkin membiarkan hal itu terjadi lagi....” Mama Ross membakar semakin banyak esensi kehidupannya lagi, dan bola api di atasnya berotasi semakin cepat. Kekuatannya pun semakin dahsyat dan ganas.

Arwah Baik Hati hanya menggeleng-geleng melihat itu.

“Apa mbak yakin hanya dengan sihir seperti ini bisa membunuhku?” ucap Arwah Baik Hati dengan nada setengah jengkel. “Biar aku memperlihatkanmu apa yang terjadi kalau Mbak Ross gagal membunuhku dengan bola api itu.”

Dari kantung kusam yang ada di pinggangnya, Arwah Baik Hati mengambil kertas putih tak berwarna. Di tangan kirinya, kertas putih itu terbakar dan ia melambaikan tangannya sehingga abu kertas itu menyerbak di depannya.

Kemudian, dari abu-abu itu, muncul gambar seorang gadis bertubuh mungil tengah terbaring di suatu tempat. Tangan dan kakinya tengah terikat. Ia masih hidup tapi di mata gadis itu, tak terlihat sedikit pun tanda-tanda semangat untuk hidup.

“Merly! Merly.... apa yang abang akan lakukan pada Merly?”

“Hmm? Kukira sudah jelas. Tapi kayaknya aku harus memperlihatkannya dari awal. Hmm. Yap. Dari sini kayaknya cukup.”

Gambar dari abu kertas itu berubah. Di situ, nampak di sebuah kastil yang tak asing bagi Mama Ross. Orang-orang berlarian panik dan ketakutan. Hijau rumput telah berubah merah oleh darah. Mayat-mayat tergelatak, kepala mereka sudah terpisah semua.

“Keluarga Yurin!” tenggorokan Mama Ross tersedak, tubuhnya menjadi lemas.

Kemudian di antara darah dan mayat-mayat Keluarga Yurin, berdiri seorang pemuda dengan ekspresi santai. Ia adalah Shira Yashura. Hanya saja, air mukanya nampak berbeda dari Shira yang sekarang. Pemuda itu tak terlihat malas seperti biasanya. Karena... ia sudah dikendalikan oleh Arwah Baik Hati.

“Sekarang, kamu akan mengerti apa yang akan terjadi jika menantangku!” kata Shira di gambar itu seolah-olah ia tengah berbicara kepada Mama Ross yang ada di sini.

Tiba-tiba Shira melangkah dan ia sudah beberapa puluh meter di tempat lain dalam sekejap. Di depannya, Merly Yurin merunduk lemas dibasahi dengan darah keluarganya sendiri.

Shira di gambar itu menarik tangan Merly dengan kasar. Gadis itu tak melawan, air matanya sudah kering karena terlalu lama menangis. Kemudian Shira menaruh tangannya di baju Merly. Dengan buas ia mulai merobeknya dan—

“JANGAAAANN!!!” teriakan pedih Mama Ross menggelegar di gunung itu. Langsung saja, bola api berwarna ungu raksasa memudar menjadi pecahan-pecahan lidah api kecil dan akhirnya menghilang di telan udara.

Mama Ross berlutut sambil memeluk tubuhnya sendiri. Matanya terpejam keras tak sanggup melihat apa yang ada di depannya. Rasa perih dari ratusan jarum yang menusuk-nusuk hatinya membuat tubuhnya gemetaran hebat. Ia tak bisa menahan air matanya yang tumpah deras saat Mama Ross berlutut di depan Arwah Baik Hati.

“Kumohon.... jangan lakukan itu....”

Senyum dan air muka santai Arwah Baik Hati sudah lenyap di wajahnya. Dengan ekspresi datar ia menatap Mama Ross yang mulai menangis terisak-isak. Akhirnya ia pun mendesah napas panjang.

“Sejak awal ini bukan urusanmu. Jangan ikut campur dan aku gak bakal mengganggumu lagi.”

Dengan begitu, Mama Ross bangkit sambil mengangguk kecil, merundukkan kepalanya serendah mungkin. Ia tak berkata lagi dan langsung terbang meninggalkan tempat itu.

Lima belas menit kemudian, cahaya simbol-simbol di puncak gunung itu meredup kembali. Begitu juga dengan yang ada di tubuh Shira. Cahayanya juga meredup dan yang tersisa hanyalah simbol-simbol berwarna biru tua menempel di kulitnya.

Jerrin Yurin yang tadinya diperintah untuk pergi setelah menaruh Shira masih diam di situ, menunggu. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi tetapi di dalam hatinya, sebagai senior, tak mungkin ia meninggalkan Shira yang tak sadarkan diri begitu saja.

“Entah apa yang sedang terjadi tapi...” Jerrin merasakan bola api raksasa tadi sudah lenyap tanpa merusak apa pun, dan cahaya di tubuh Shira sudah menghilang. “Apa sudah berakhir?”

Faktanya, tak seperti yang diharapkan Jerrin. Apa pun yang sedang direncanakan Arwah Baik Hati, hal itu baru saja dimulai sekarang.

Di dalam alam bawah sadarnya, Shira duduk di depan gerbang berkabut ungu yang terbuka sedikit celah. Tetapi yang ia lihat di celah itu hanyalah kegelapan pekat tak terbatas.

Saat di tubuhnya muncul simbol-simbol bercahaya, koneksi kesadarannya dengan dunia luar tiba-tiba terputus, dan sekarang yang hanya Shira bisa lakukan hanyalah mendengar ocehan suara-suara yang muncul dari dalam gerbang itu.

Tiba-tiba, suara lain yang ia kenal belakangan ini terdengar di sana. Shira merasakan suara ini datang dari luar, bukan dari gerbang itu.

“Bocah, sepertinya kamu kalah dari monyet itu. Hehehe.”

“Gorila berbulu emas itu lebih hebat daripada gorila biasa. Wajar aku gak bisa berbuat apa-apa.”

Shira hanya bisa tersenyum masam menjawab Arwah Baik Hati.

“Sepertinya kamu gak bisa menang melawannya dalam waktu dekat ini. Bahkan dengan skill gabungan terhebat pun dengan kekuatanmu yang level 3 saat ini bakalan sulit sekali untuk menang.”

“Aku tau.”

“Tapi ada jalan lain. Apa kamu mengingat ucapanku sebelumnya?”

“Hmm?”

“Kamu menunjukkan bakat untuk menggabungkan skill. Dan bahkan dengan bakat sehebat itu kamu masih belum puas. Barangkali.... kalau aku mengajarkanmu ‘Deadly Strike’, kamu langsung bisa berhadapan dengan monyet itu lagi. Memenggal kepalanya untuk digantung di rumah, bukanlah hal yang mustahil!!!

“Nak, apa kamu mau kuajarkan ‘Deadly Strike’?”

Saat ini, Shira tak tahu apa-apa tentang Pemberontak dan apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Yang ada dalam pikirannya adalah ingatannya dilempar oleh Raja Gorila. Baru kali ini ia mendapati kekalahan dan yang ia rasakan adalah malu bukan main!

“Ya,” jawab Shira tanpa ragu. “Ajarkan aku ‘Deadly Strike’ yang Mas Arwah katakan waktu itu. Aku akan kembali dan mengambil kepala monyet sialan itu dengan tanganku sendiri!”

Loading...