C2: Harapan

Chapter 2: Harapan

“Mengapa kau tak merasakannya? Aku masih menunggu...”

Suara serak seorang tua misterius terkadang terngiang di kepalanya ketika ia memejamkan mata. Shira selalu memperhatikan kata-kata orang tua yang berlalu di kepalanya walau pun yang ia dengar tak masuk akal sama sekali.

“Aku masih menunggu... sungai dan gunung masih menunggu... langit dan surga masih menunggu...”

“Lautan diam menunggu... awan pun diam menunggu...”

Semenjak kecil, Shira tahu bahwa dirinya berbeda dengan orang lain. Awalnya suara itu membuatnya takut dan menghantui mimpinya.

Lambat laun ia mengerti ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin berkomunikasi dengannya. Walau suara itu terdengar putus asa mengeluh tanpa henti, terkadang orang tua itu berbicara tentang suatu petunjuk tentang Shira.

Bertahun-tahun menyimak suara tersebut membuatnya mengerti satu atau dua hal tentang keganjilan yang menemaninya.

Tapi hari ini ia tak mendapatkan apa yang ingin ia dengar. Ia hanya mendesah dalam hati, lalu membuka pelan matanya.

“Dek Shira, sudah selesai melamunnya?”

Sebuah suara lembut menyapanya saat ia terbangun ke dunia nyata. Shira melihat tubuhnya yang kurus dan wajahnya yang tampan seperti anak kecil terpantul di cermin di hadapannya. Ia sedang duduk di sebuah kursi kayu dengan ornamen singa lambang Keluarga Yashura, dan seorang wanita muda tiga tahun lebih tua darinya sedang menyisir rambutnya yang sudah diberi minyak.

“Hihi, Dek Shira sudah gede. Sebentar lagi mau nikah beneran. Jadi deg-degan. Hihihi.”

Shira diam mendengar godaan itu, mimik mukanya bahkan tak berubah. Ia memang biasa terlihat dingin tapi hubungannya dengan Mila Yashura, kakak sepupunya cukup dekat semenjak mereka kecil.

Sekarang remaja ini hampir menjadi dewasa. Hari ini ia akan bertemu dengan calon istrinya untuk pertama kali. Walaupun mereka tinggal dalam satu desa, Shira sama sekali tak tahu banyak tentang gadis itu.

Semua orang di Desa Badril tahu gadis yang dijanjikan kepada Shira adalah mutiara terbaik di desa ini. Dan tanggal pernikahan sudah lama ditetapkan yaitu saat pemuda itu, secara tradisi, resmi menjadi pria dewasa saat berumur enam belas tahun. Mila tak henti-hentinya senyam-senyum sendiri semenjak kemarin karena saking bahagianya.

Mila berkata tentang banyak hal dan Shira terdiam mendengar ocehan kakaknya. Tiba-tiba saja, sebuah sosok transparan muncul menembus tembok.

“Aku mendengar satu dua hal gosip tentang cewekmu barusan. Bocah, hati-hati. Barangkali ntar ada orang yang cari masalah,” sosok transparan itu adalah Arwah Baik Hati.

Shira sama sekali tak menoleh ke arahnya, tetapi dahinya mengerut.

Awalnya ia tidak begitu peduli dengan sedikit masalah tentang hal-hal sepele seperti ini. Jika memang benar ada orang yang mencari masalah dengannya, biasanya Shira akan menghiraukannya. Toh satu dua jam kemudian ia sudah lupa kalau ada orang yang mengganggunya.

Tapi kini, ia melihat wajah sepupunya yang berseri-seri. Perasaannya semakin menjadi tak nyaman.

Ada yang salah? Siapa yang berani buat masalah di saat-saat seperti ini?

“Dek Shira? Ada apa?”

Mila menyadari mimik wajah Shira yang berubah. Keraguan tergambar di matanya. Jarang-jarang ada suatu hal yang bisa mengubah ekspresi dingin di wajah anak itu.

“Gak ada.” Ia menjawab singkat sambil menggeleng sekali.

Mila saling menekan kedua bibirnya mendengar jawaban Shira. Ia sudah lama mengenal adik sepupunya itu. Tidak sulit untuk menebak jika ada sesuatu yang membebani pikirinya dengan sekali pandang di wajahnya. Tapi Mila tak memaksanya untuk berbicara kali ini. Ia kembali memasang wajah berseri sambil membantu Shira mengenakan baju hitam tradisional keluarga Yashura yang sering digunakan untuk hari besar atau pesta lainnya.

“Hmm. Gak kerasa kamu sudah tinggi sekarang. Aku gak nyangka Dek Shira bakal jadi seganteng ini. Hihi.”

Tak lama kemudian, mereka mendengar suara pintu diketuk. Yulong berdiri di ambang pintu sambil memegang sebuah kotak dengan kedua tangannya.

“Permisi Tuan Muda Shira, Nyonya Muda Mila. Kiriman ramuan dari Tuan Jhuro untuk minggu ini sudah datang.”

“Oh, ramuan buat Dek Shira? Wah, banyak sekali!”

“Total lima belas botol ‘Lesser Elixir of Experience’ yang ditukar oleh Tuan Jhuro dari tiga botol ramuan tingkat atas. Sangat efektif untuk tenaga dalam yang masih dalam perkembangan seperti Tuan Muda Shira.”

Mila menerima kotak itu dengan senyum ceria.

“Apa rombongan keluarga Malikh sudah tiba?”

“Iya. Sekarang mereka sedang ada di pintu gerbang. Tapi akan ada jeda sekitar sepuluh menit sebelum mereka masuk sesuai dengan tradisi.”

Benar saja. Shira dan Mila sudah merasakan suara keramaian dan musik dari arah gerbang kediaman keluarga Yashura. Mila langsung bergegas membuka kotak ramuan di tangannya dan mengeluarkan botol ‘Lesser Elixir of Experience’ yang berisi cairan kental berwarna hijau.

“Cepat! Segera minum semuanya. Kamu harus terlihat sebaik mungkin!”

Shira tak menolak. Ia segera menegak botol demi botol. Cairan pahit hampir membuatnya mual. Jika saja botol-botol itu berukuran lebih besar, Shira pasti sudah memuntahkan semua isi perutnya.

Mila baru tiga bulan lulus tes pengambilan kelas. Ia adalah seorang Specialist. Kelas support yang khusus mengelola informasi dan masalah trivial dalam pertarungan. Dan pada umumnya, Specialist adalah kelas khusus yang bisa melihat status dan atribut orang lain.

Dan alis Mila mengerut melihat proses level Shira yang tak ada kemajuan walau sudah meminum sepuluh botol ramuan lebih.

“Apa dia benar-benar cacat?” bisiknya dalam hati. Sebuah keraguan yang mengerikan terlintas di benaknya, cukup mengerikan sampai ia menjadi panik dalam hati. Mila sudah sering mendengar rumor tentang adik sepupunya yang cacat dan tak bisa naik level lagi. Jantungnya berdebar-debar.

“Dek Shira, aku punya beberapa scroll strength yang gak dipakai. Mau baca?” tanya Mila segera setelah Shira menegak semua botol ramuannya.

Mila mengeluarkan dua gulungan ‘Scroll of Strength’ dari mystic bag-nya. Mystic bag yang ia gunakan adalah kualitas rendah, tapi cukup mahal untuk ukuran keluarga kecil seperti keluarga Yashura. Di dalamnya terdapat ruang dimensi buatan sebesar tiga kali tiga meter, sudah bisa dibilang besar untuk keperluan sehari-hari tapi tak mencukupi untuk keperluan berpetualang.

“Nng,” Shira menggeleng mendengar tawaran itu. Ia tahu seberapa mahal harga ‘Scroll of Strength’, yang bisa menambah atribut strength hanya dalam hitungan menit setelah membacanya. “Lebih baik buku biografi tentang Saint Doctor, atau dongeng tentang harta karun Blondie. Apa Mbak Mila punya? Aku lagi butuh.”

Senyum segar Mila berubah menjadi masam mendengar itu. Awalnya, Mila memiliki dua mystic bag. Tapi satu sudah ia jual karena tabungannya tak cukup untuk membeli ‘Scroll of Strength’. Dan Shira langsung menolaknya. Sebenarnya ia tak terlalu ambil hati jika adiknya itu menolak. Ia tahu Shira adalah pribadi yang dingin dan keras kepala.

Tapi ketika mendengar permintaan tentang buku biografi dan buku dongeng, hatinya mengeras. Ia sudah lama menentang Shira membaca buku-buku seperti itu. Jika membaca sekilas untuk menghilangkan bosan tak apa-apa. Tapi jika menjadi rutinitas, efeknya sama seperti membaca ‘Scroll of Wisdom’.

“Sudah kubilang berhenti membaca buku-buku seperti itu!” Suara Mila tegas tak lagi terdengar manis. Raut wajahnya terlihat kesal. “Jika kamu menambah atribut wisdom dengan membaca buku-buku itu, maka tak ada ruang untuk membaca scroll atribut yang lain! Kamu gak ingin berakhir menjadi Specialist sepertiku, kan? Sini, biar kuperiksa statusmu.”

Mila sudah menjadi Specialist level 11 di usia tujuh belas. Perkembangan seperti itu sudah bisa dibilang jenius. Biasanya orang-orang bisa lulus tes pengambilan kelas pada umur dua puluh tahun dan ketika memiliki level 10. Tapi Specialist adalah kelas support. Kemunculan jenius dalam kelas ini tak seheboh jenius untuk kelas petarung.

“Status Window!”

Cincin di jemarinya menyala ketika Mila melambaikan tangannya ke arah Shira dan menggunakan skill ‘Status Window’, skill umum Specialist untuk membaca status dan atribut orang lain. Biasanya, jika Specialist menggunakan skill ini untuk seseorang dengan level yang jauh berada di atasnya, maka akan banyak informasi yang tertutup. Tapi jika ia menggunakan untuk seseorang untuk level di bawahnya, maka skill ini akan menjadi lebih efektif.

Mila memicingkan matanya ketika cahaya kuning perlahan-lahan membentuk huruf di hadapannya.

Mila tercengang. Matanya melebar dan mulutnya terbuka untuk beberapa saat, kemudian matanya menjadi tajam lagi.

“Hah! Lihat! Wisdomnya lima kali lipat dari pada strength. Nanti harus bilang apa aku kepada Paman Jhuro?” omel gadis itu sambil menginjak-injak pelan lantai.

Shira mengangkat bahunya santai.

“Haha, kalian nempel sekali seperti biasanya,” suara tawa berat terdengar dan seorang pria berbadan besar serta berwajah kasar datang dengan senyum di wajahnya. “Kalau orang luar lihat nanti bisa nyangka kalian yang bakal menikah. Hahaha.”

Pria berwajah kasar itu tentu saja adalah ayah Mila, Kepala Keluarga Yashura saat ini. Namanya Shuro Yashura. Walau pun rupanya seperti bandit tapi ia adalah orang yang sangat ramah dan lembut kepada orang-orang yang di dekatnya.

“Ayah, lihat keponakanmu ini! Dia baca buku gak jelas mulu, kalau begini terus dia bakal jadi kelas support sepertiku!”

“Oh, yang bener?” Shuro tak pernah lagi mengecek status Shira semenjak dua tahun yang lalu. Mungkin ia terlalu teledor kepada calon pewaris kepala keluarga ini, karena ia terlalu percaya pada ramuan yang dikirim oleh Jhuro setiap minggu.

“Wisdomnya 22 tapi strengthnya cuma 4! Bagaimana jadinya nanti kalau dia ambil tes Swordsman?!”

Senyum di wajahnya menghilang saat berubah menjadi serius. Ia tentu saja mendengar kabar kalau Shira sering menghabiskan waktu di perpustakaan tapi ia tak tahu bahwa akan muncul masalah seserius ini.

Tapi wajah seriusnya hanya bertahan sebentar saja. Ia kembali tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha, Mila, ngomong apa kamu! Shira masih level 3, nanti juga strength-nya lompat kalau dekat-dekat level 10. Santai, santai!” pria paruh baya itu kemudian menepuk-nepuk pundak Shira. “Shira, cepat pergi ke halaman buat sambut tunanganmu. Hehe, kamu belum pernah ketemu, kan?”

“Mn.” Shira lalu berjalan keluar ruangan itu meninggalkan Mila dan ayahnya.

“Haahhhh,” Ayah Mila melepaskan napas panjang sambil menggeleng-geleng. “Mila, kamu baru cek statusnya, kan? Coba ayah lihat.”

Mila masih menyimpan data status Shira di cincin miliknya. Di saat cincin itu menyala, muncul cahaya yang membentuk layar dan tulisan. Ia kemudian mendorong layar itu seperti ia mendorong angin, dan cahaya layar tersebut bergerak ke arah Ayah Mila.

“Ini...” sebuah ekspresi kecewa dan takjub bercampur di wajah kasar pria itu. Ia tak tahu harus berkata apa.

“Betul, kan? Wisdomnya ketinggian?”

Ayah Mila melihat ke arah anak gadisnya, kemudian terpaku kembali ke layar status dengan senyum aneh di wajahnya. “Memang betul wisdomnya lebih tinggi dari pada yang lain. Tapi ini, dodge-nya malah jadi variasi, dia juga sudah dapat elemental affinity di level 3.”

“Memangnya kenapa kalau status dodgenya aneh? Memang kenapa kalau dia sudah punya elemental affinity? Kalau ujung-ujungnya dia dapat kelas support, orang-orang malah semakin menjadi-jadi bully dia! Sejak dulu aku selalu berbicara untuknya melawan orang-orang sialan itu, tapi kenapa sampai sekarang dia gak pernah punya pendirian? Jadi kesal benar aku dibuatnya, hmph!”

Ayahnya hanya menggeleng-geleng mendengar komplain gadis dengan wajah cemberut.

“Tapi bagus kan, dia sudah dapat water elemental,” kata pria itu sambil tersenyum. Ada cahaya harapan terlintas di wajahnya yang terlihat kecewa itu.

“Memang aneh sekali dia sudah punya elemental affinity sebelum ambil kelas. Baru pertama kali juga aku tahu yang seperti itu.”

“Hehe, wajarlah kamu gak tau yang seperti itu. Ayahnya Shira pas muda juga kasusnya sama. Dia dapat poison affinity pas level 8 dulu.”

“Eh?”

“Kata orang biasanya, petarung yang dapat elemental affinity sebelum ambil kelas itu ciri-ciri dari mereka yang bakal dapat kelas unik. Si Jhuro juga sama, dia dapat kelas unik Swordsman yang ahli racik ramuan racun ke pedangnya. Ini jarang kejadiannya, jadi wajar kamu gak tau.”

“Itu berarti...”

Ayahnya mengangguk. “Kemungkinan Shira buat dapat kelas unik nanti sudah sangat besar. Biar kelas support sekali pun, orang-orang gak bakal berani bully seenaknya. Selama Jhuro dapat backingan dari sekolah Hatim Malakas, dan ngeliat kalau bakalan ada dua kelas unik di keluarga kita, barangkali status kita bakalan sederajat dengan keluarga dari desa tingkat kedua nantinya. Ayah yakin Shira bakalan bisa mimpin keluarga kita di masa depan.”

Jantung Mila berdebar-debar mendengar ucapan ayahnya dengan penuh harapan dan antisipasi.

“Memang sayang kalau dia cuma dapat kelas support. Ayah juga gak tau dia bakal dapat kelas unik seperti apa. Specialist? Summoner? Alchemist? Kalau dilihat dari water affinitynya barang kali dia dapat Healer,” Ayah Mila mendesah napas panjang lagi. “Tapi apa boleh buat. Perkembangan untuk kelas unik itu sensitif sekali. Lebih baik kita gak ikut campur terlalu banyak. Biar dia yang pilih jalannya sendiri. Kalau nggak gitu bisa gagal dia dapat kelas unik.”

“Iya, Mila juga kebawa emosi tadi. Mila selalu sedih ngelihat orang lain ngebully dia karena kelihatan lemah semenjak kecil.”

Wajah Mila merunduk ke bawah, khawatir dan lega bercampur membuat sinar di matanya terlihat aneh. Ia kemudian melihat ke arah gerbang keluarga besar Yashura. Menikah dengan gadis jenius dan akan menjadi kelas unik nantinya...

Gadis itu kemudian tersenyum membayangkan bagaimana jadinya masa depan Shira.

“Huh?”

Mila dan ayahnya terkejut ketika layar ‘Status Window’ tiba-tiba bergerak dengan cepat dan melayang di udara. Secara logika, layar itu tidak akan bisa bertahan jika tidak ada energi yang menopangnya. Tapi layar ‘Status Window’ itu melayang di udara. Beberapa saat kemudian, ia menghilang.

“Apaan barusan?” Wajah Mila dipenuhi ekspresi bingung.

“Gak tau juga,” jawab ayahnya. “Mending kita juga buruan nyambut tamu. Sebentar lagi musiknya selesai.”

Ayah dan anak itu kemudian berjalan ke luar ruangan.

Mereka tak tahu, di ruangan itu sebenarnya orang lain yang berdiri, namun kakinya mengambang tak menyentuh lantai.

Ia adalah orang yang mengambil layar ‘Status Window’ dari tangan Ayah Mila. Tubuhnya transparan dan manusia biasa tak bisa melihat dan menyadari kehadirannya.

“Heeehhh, ternyata dodgenya sudah naik drastis. Sepertinya dia bisa menguasai ‘Water Flowing Style’ lebih efektif daripada yang kukira. Terus water elemental affinity... kelas unik? Omong kosong macem apa itu? Entah kenapa standar orang-orang di jaman ini semua sudah turun drastis. Sekarang mereka yang dapat kelas unik ditakutin seperti dewa perang. Padahal dulu pas aku masih hidup orang yang ngandelin kelas unik doang cuma bisa hidup sebatas satpam.”

“Water affinity ini, pertanda... Kalau dipikir-pikir lagi, semua orang yang berhasil naikin ‘Water Flowing Style’ ke level di atas 5 semuanya punya water elemental affinity. Kalau memang begitu, aku sekarang yakin dia bisa nembus level itu. Tapi karena dia sudah pelajari skill ini sejak awal, elemental affinitynya langsung berubah jadi water. Beda sama orang-orang seperti aku... ini pertanda... pertanda...”

Mata Arwah Baik Hati langsung bersinar penuh harapan dan semangat setiap kali ia memikirkan ini.

“Hehe... ‘Liquid Dragon Flowing Style’... I am coming!!!”

Loading...