C24: Di Laut Ia Menunggu Waktu

Chapter 24: Di Laut Ia Menunggu Waktu

Dalam tidurnya, Shira bermimpi.

Angin laut terasa dingin, menggelitik kulitnya. Di sekitarnya, tak ada daratan untuk dipijak.

Shira berdiri di atas permukaan laut yang tenang. Pijakan kakinya bergerak seiring dengan gerakan gelombang laut.

Tubuhnya tak diam di satu tempat. Terkadang laut membawanya ke arah kiri. Saat angin berhembus kencang, ia kembali ke arah semula. Ia tak melangkahkan kakinya. Membiarkan laut membimbing...

Pelan-pelan, ia merasakan energi yang terasa tak asing.

“Energi ‘kungfu’ lembut... sangat pekat,” gumamnya.

Energi kungfu yang ia maksud, tentu adalah energi Yin yang dibutuhkan skill ‘Water Flowing Style’-nya. Energi Yin, dalam bentuk dan manifestasinya, sangat beragam. Sering kali dikaitkan dengan sesuatu yang lembut, di sisi lain, juga menggambarkan dingin serta pula tentang kematian.

Energi yang Shira rasakan adalah Yin murni lembut, sangat cocok untuk proses ‘Water Flowing Style’-nya. Bahkan ia merasakan, energi ini berjuta-juta lebih cocok ketimbang tempat latihannya yang sebelumnya.

“Tempat apa ini? Entah mengapa serasa... skill ‘Water Flowing Style’ yang diajarkan Mas Arwah Baik Hati berasal dari sini.”

Shira kemudian duduk bersila. Ia mencoba menutup matanya dan mendengar suara kakek yang bersemayam dalam tubuhnya.

Suara itu adalah milik Immortal Blood Knight. Dalam beberapa tahun ini Shira merasakan manfaat menelaah racauan kakek itu. Ia merasa banyak teka-teki dan petunjuk tentang kewibawaan kuno yang bisa ia petik dari omong kosong Immortal Blood Knight.

Tetapi kali ini Shira tak mendengar apa pun. Immortal Blood Knight sudah pergi untuk mencari masalah dengan orang-orang langit.

Ia menghela napas panjang. Bangkit, dan berkata dalam hati; “barangkali saja dia sudah pergi. Tapi setidaknya, dengan petunjuk darinya aku bisa menaikkan level ‘Water Flowing Style’ ke level 7 tanpa ada halangan.”

Ia mengambil kuda-kuda, dan langsung menari-nari seperti orang gila. Dengan cepat tubuhnya menyerap energi Yin di udara.

Tapi entah mengapa Shira sulit berkonsentrasi di tempat ini. Padahal damai sekali tempatnya. Samar-samar ia merasakan, berdiri di atas laut ini... seperti ia berdiri di ratusan tempat yang berbeda. Jiwanya kebingungan seakan hendak di bawa ke segala arah.

“Kalau begini terus, aku akan kesulitan mencerna energi kungfunya.”

Ia berhenti sejenak, mengambil napas teratur dan bermeditasi.

Lautan ini serasa tak nyata, di sisi lain juga samar-samar menunjukkan tanda dunia nyata. Pada dasarnya, Shira mengerti ia tengah bermimpi. Atau jiwanya tengah di bawa ke suatu tempat seperti ia pergi ke alam bawah sadarnya di mana gerbang berkabut ungu berada.

Semenjak dulu, ia sudah merasakan hal yang lebih aneh daripada ini. Jadi ia tak ambil pusing, langsung cepat-cepat ingin menyerap dan memproses energi Yin untuk menaikkan level ‘Water Flowing Style’-nya.

Ia tenggelam dalam meditasi. Waktu cepat berlalu. Satu jam, dua jam, empat jam, dua belas jam....

Laut ini sangat aneh. Di sini, matahari tetap menyangkut di langit. Malam tak kunjung tiba.

Tapi Shira tetap menghitung waktu.

Satu hari, dua hari, empat hari, satu minggu...

Ia tak merasa lapar dan haus. Hanya bosan. Tapi ia tetap berusaha dalam meditasinya, berusaha untuk bisa berkonsentrasi dan menaikkan level ‘Water Flowing Style’-nya.

Tapi semua itu sia-sia. Selalu saja jiwanya terasa bingung entah mengapa.

“Apa yang terjadi? Di mana jalan keluarnya? Aku harus kembali pulang. Kalau nggak nanti bisa-bisa dipukul Mbak Mila pakai sapu.”

Ia mencoba berjalan di atas gelombang laut tersebut. Walau terlihat tenang, tapi sebenarnya pijakan kaki Shira di atas air laut menjadi tak seimbang ketika ia melangkahkan kakinya.

Arus laut menjadi kacau, seperti mengatakan bahwa mereka tak senang sikap Shira yang menentang kehendak mereka.

Kemudian yang terjadi adalah Shira terombang-ambing di atas laut. Ia seperti papan yang mengambang di lautan ini.

“Aku harus pulang. Aku harus duel dengan Tuan Muda Blackwood. Aku laki-laki. Harus berani!”

Shira tetap berusaha. Namun lama-kelamaan, ia mulai merasa semakin tersesat. Tak ada daratan atau pintu atau sebagainya yang terlihat.

Ia memiliki firasat akan terjebak di lautan ini selamanya.

“Apa yang terjadi jika aku gak pulang? Bhela Malikh akan direbut Blackwood. Kalau cuma aku, gak masalah. Aku bahkan sama sekali gak akrab dengannya. Tapi harga diri Keluarga Yashura... adalah taruhannya!”

Ia kembali berusaha. Ia berjalan di atas permukaan air laut, bahkan mencoba untuk berlari.

Tetapi gelombang laut semakin menggila. Menunjukkan amarah mereka kepada Shira.

Shira tak peduli, ia terus berlari!

Sampai sebulan kemudian, ia mulai lelah dan putus asa.

“Gak bisa! Jadwal duelku dengan Tuan Muda Blackwood sudah lama berlalu. Buat apa lagi aku berusaha selama ini? Keluarga Yashura barangkali sudah menjadi bahan tertawaan sekarang.”

Pikirannya semakin lama semakin negatif. Ia tak memiliki harapan sama sekali.

“Kalau semua ini percuma... daripada berusaha sia-sia... mending aku tidur saja.”

Motivasinya hilang. Penyakit malasnya pun kumat lagi.

Sebulan berlalu lagi. Kemudian, setelah waktu berjalan lagi, lagi... lagi dan lagi, Shira menghitung ia sudah berada di sini selama enam bulan. Setelah itu, ia malas menghitung hari lagi. Berbaring di permukaan laut sambil menatap langit, Shira menikmati siang hari yang tak pernah berganti ke malam.

Cahaya matahari, selalu ada di situ. Begitu juga Shira, selalu terbaring malas terbawa gelombang laut...

Rupanya, semenjak Shira menyerah, lautan menjadi ramah kepadanya.

Angin menjadi sepoi-sepoi. Sinar matahari tak begitu menyengat. Shira menjadi nyaman. Dengan laut, ia merasa bersatu. Bahkan menghabiskan waktu bermalas-malasan seorang diri seperti ini seumur hidup, ia tak akan mengeluh.

Waktu berlalu lagi... entah satu atau dua atau berapa tahun Shira berada di sini... ia juga tak tahu.

Tapi pada suatu hari, Shira merasakan sesuatu yang aneh.

Ia merasakan energi kungfu di udara bergetar tak beraturan. Seperti mereka menggigil, merasakan sesuatu yang menakutkan.

Shira pun merasakan hal yang sama dalam tubuhnya. Suatu energi yang merupakan fondasi skill ‘Water Flowing Style’-nya merasakan sesuatu yang sangat mengintimidasi.

Lalu, tepat di depan Shira, ruang dimensi terobek....

Dari robekan ruang dimensi tersebut, muncullah sebuah rakit dan sebuah sosok berpakaian compang-camping.

Sosok itu sangat misterius dan aneh. Seaneh lautan ini. Wajahnya tak bisa terlihat oleh Shira, karena diselubungi kabut tebal.

Shira terdiam, menatap lekat sosok itu. Tapi ketika sosok itu membalas tatapannya, Shira ketakutan, langsung membuang muka.

“Apa kamu tuan dari dunia ini?” tanya sosok itu pelan. Tapi dengan mendengar nadanya yang pelan itu, jantung Shira melompat. Ia merasakan sesuatu yang sangat tak asing.

Seperti ia mengenal betul siapa sosok ini. Tapi entah mengapa ia tak bisa yakin.

“Aku gak mengerti apa yang Anda maksud. Sudah lama sekali aku terjebak di sini. Jadi aku gak tau siapa tuan dari dunia ini,” jawab Shira. Ia mengira tuan yang dimaksud oleh sosok itu adalah penguasa dunia ini. Tapi ia tak yakin semenjak buku sejarah yang ia baca di perpustakaan hanya memberitahu orang-orang hebat di masa lalu. Untuk siapa yang mengendalikan situasi dan menjadi tuan dari dunia saat ini, ia sama sekali tak tahu.

Mendengar jawaban Shira, sosok itu terdiam sejenak.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu bisa terjebak? Lagi pula ‘Water Flowing Style’-mu hanya level 3. Aku salut kamu bisa bertahan di sini tanpa tersesat sama sekali.”

Mata Shira berkilat-kilat. Ia merasakan lautan ini berhubungan dengan skill ‘Water Flowing Style’-nya semenjak ia datang ke sini. Dan ketika mendengar sosok itu menyebat skill tersebut, ia sadar bahwa sosok itu tahu banyak tentang lautan ini.

“Apakah Anda tau tempat apa ini?” tanya Shira.

“Tentu saja aku tau tempat apa ini,” kata sosok itu dengan nada sedikit jengkel, seperti Shira bertanya suatu pertanyaan bodoh.

Tubuh Shira gemetaran penuh harap. Sebentar lagi, ia akan tahu cara untuk pulang.

“Jadi, Tuan... bisakah Anda mengatakan tempat apa ini?”

“Tempat ini namanya laut,” jawab sosok itu singkat.

Mulut Shira menganga. Memang benar sekali tempat ini adalah laut... tapi bukan itu maksud dari pertanyaan Shira. Namun sosok tersebut, masih dengan nada jengkelnya, lanjut berkata:

“Kamu lihat, semua yang ada di sini adalah air laut. Gak ada pulau sama sekali. Kalau lagi iseng mending kamu jangan tanya hal bodoh seperti itu. Aku lagi sibuk!”

Sosok itu mendengus dan tak berkata apa-apa lagi. Dengan rakitnya, ia pergi. Meninggalkan Shira seorang diri.

Shira melihat rakit dan sosok itu pergi menjauh ke arah cakrawala. Setelah itu, waktu berlalu lagi. Beberapa bulan, Shira tak memusingkan pertemuannya dengan sosok berwajah kabut itu.

Shira, di waktu senggangnya, selalu bersiul santai. Terkadang ia juga bernyanyi lagu yang sering dinyanyikan di desanya. Laut menyukainya.

Suara Shira tidaklah sebagus itu. Tapi setiap kali ia bernyanyi, lautan yang nampak memiliki kesadaran dan kepribadian tersendiri itu selalu menyambutnya dengan gelombang dan tiupan angin lembut.

Satu tahun berlalu lagi. Dua tahun. Tiga tahun. Cepat saja, tujuh tahun berlalu....

Selama ini, tubuh Shira sama sekali tak berkembang. Kecuali usia mentalnya yang menjadi dewasa, waktu yang berjalan di lautan ini tak memiliki pengaruh apa pun pada Shira.

Saat ini, Shira dan laut sangat akrab sekali. Jika Shira ingin ke suatu tempat, tinggal berkata ia maka laut akan mengantarkannya.

Tapi dalam hatinya, Shira mulai resah. Sudah terlalu lama ia terjebak di sini. Ia juga ingin kembali ke rumahnya.

“Laut, bisakah kamu memberitahuku cara untuk kembali?” ia bertanya hal seperti itu kepada lautan, tentu tak mendapat jawaban apa-apa. Tapi yang terjadi malah lautan menjadi sedih. Temannya ingin kembali meninggalkannya. Shira melihat keraguan laut. Ia terdiam, tak berkata apa-apa lagi setelahnya.

Empat tahun lagi berlalu.... sosok di atas rakit itu kembali dan melihat Shira tengah duduk santai bernyanyi mesra untuk lautan.

“Anak itu.... sebenarnya ngapain dia ada di sini?” tanya sosok tersebut.

Untuknya, dan orang lain, lautan ini adalah tempat yang mematikan. Bertahun-tahun semenjak awal zaman, sudah tak terhitung jiwa yang lenyap tertelan lautan ini.

Tapi di situ Shira yang duduk di atas permukaan air laut tanpa alas, bermalas-malasan seperti tak memiliki beban duniawi.

“Apa mungkin anak itu benar-benar terjebak?” kalau betul begitu, sosok tersebut menimbang dalam hati untuk membantunya kembali. Jiwa Shira sudah terlalu lama ada di sini.

Tapi belum ia cukup dekat dengan Shira, sosok itu menyadari sesuatu.

“Anak ini! Dia belum menjadi Spirit Conductor!” sosok itu menarik napas dalam-dalam karena terkejut. Tubuhnya seperti tersambar petir, menggigil di seluruh tubuhnya. “Mustahil! Seharusnya tanpa kekuatan Spirit Conductor ia gak akan bisa sampai ke sini dan berkeliaran seperti hantu. Kecuali....”

Sosok itu terdiam sejenak, menatap Shira dari jauh dengan mata yang penuh dengan rasa iri.

“Perjalanan mentalnya setelah jiwa Pemberontaknya terbuka.... membawanya ke sini. Jiwanya mungkin gak bisa menahan tekanan dari ruang dimensi yang saling menindih, tapi selama ini ia sudah mendapatkan restu dari laut!”

Setelah menimbang-nimbang dalam hati, sosok itu memilih untuk tak mengganggu Shira. Ia balik dan pergi lagi begitu saja. Shira tentunya tak menyadari bahwa sosok itu sempat kembali.

Namun setahun kemudian, Shira melihat ada orang lain juga di laut ini.

Nampak di kejauhan, ada seorang nelayan yang sedang memancing di atas perahu kecil. Shira menatap nelayan yang serius menunggu ikan.

Beberapa jam, nelayan itu menyadari tengah ditatap dari jauh oleh Shira. Ia menghadap pemuda itu, dan melambaikan tangannya.

Shira juga melambaikan tangannya. Kemudian kembali ke urusannya sendiri. Nelayan itu juga kembali memancing. Rupanya ia tak terlalu heboh melihat Shira yang bisa berdiri di atas permukaan laut.

Besoknya, nelayan itu pergi. Shira sendirian lagi bersama laut.

Dua puluh tahun berlalu semenjak itu, sosok di atas rakit itu muncul lagi.

“Gak bagus. Ia terlalu lama di sini,” ia pun memilih untuk mendatangi Shira.

Shira sendiri, karena terlalu lama ada di sini, rasa resah di hatinya sudah menghilang. Ia menerima fakta bahwa lautan ini adalah rumah baru baginya. Ia sudah tak berminat untuk mencari jalan pulang. Pelan-pelan, memori tentang keluarganya mulai memudar.

Saat ini, Shira tengah duduk sambil bercanda dengan lautan. Ia tak menyadari sosok di atas rakit mendekat dari belakangnya.

“Anak muda.... kamu masih gak kembali juga?”

Shira menoleh, tersenyum pahit melihat sosok itu. Ia mengingat kembali bertahun-tahun lalu waktu pertama kali mereka bertemu.

“Aku terjebak di sini. Mungkin gak bisa pulang kembali.”

“Ada jalan untuk kembali. Jika kamu ingin pulang ke rumah, aku akan memberitahumu.”

Shira hanya mengangguk, tak menunjukkan rasa antusias.

Melihat ini, sosok itu mendengus tak senang.

“Anak muda, bagaimana kabar keluargamu sebelum datang kemari?”

“Keluarga Yashura? Hmm. Biasa saja, sepertinya. Selain duelku dengan Tuan Muda Blackwood, gak ada hal penting yang terjadi di keluargaku.”

“Bagaimana dengan Paman Shuro, dia masih sehat?”

“Paman Shuro? Terakhir kali kulihat dia gembira karena berteman dengan Tuan Baront Staterwind.”

“Bagaimana dengan Mila?”

“Dia orangnya masih galak. Barangkali kalau pulang, habis aku dihajar olehnya.”

Sosok itu tertawa lega mendengar jawaban Shira.

“Jadi, nama Tatalghia Kingdom dan Keluarga Blackwood gak berarti apa-apa untukmu?”

“Kalau Blackwood, aku gak senang kepada mereka. Harga diri Keluarga Yashura diinjak-injak ketika mereka datang bersama Keluarga Malikh ke depan gerbang keluargaku.

“Tapi kalau Tatalghia Kingdom... bukannya itu nama kerajaan terbesar di Benua Tiramikal? Apa hubungannya denganku?”

“Kalau kamu berpikir demikian, sebaiknya kamu cepat kembali pulang,” kata sosok itu. “Jika ‘Water Flowing Style’-mu memiliki level puncak dan hampir berevolusi menjadi ‘Liquid Dragon Flowing Style’, maka kamu bisa pulang sendiri dari laut ini. Tapi kamu yang sekarang terlalu lemah. Aku juga gak bisa membantumu, terlalu banyak menanam karma di antara kita akan membuat masalah di masa depan. Untuk saat ini, seharusnya kamu pergi menemui Penguasa Laut.”

“Penguasa Laut?” Shira sama sekali tak pernah mendengar nama ini.

“Tiga kepribadian. Raja Gunung, Penguasa Laut, dan Kaisar Langit. Saat ini, kita sedang ada di wilayah Penguasa Laut. Seharusnya gak ada orang lain selainnya di sini. Saat kita pertama kali bertemu, aku bahkan mengira kamu adalah Penguasa Laut. Tapi ternyata hanya anak muda yang terjebak di sini.”

“Apa bakal susah untuk menemui Penguasa Laut?”

“Hmmm. Kalau dibilang susah, gak benar juga. Selama bertahun-tahun aku tiba di sini, aku selalu mencari keberadaannya. Tapi gak kelihatan sama sekali. Katanya, dia hanya memperlihatkan diri kepada orang-orang yang ditakdirkan bertemu dengannya.”

“Seperti apa rupa Penguasa Laut ini? Selama aku di sini, aku gak banyak melihat orang.”

“Menurut legenda, ia selalu mengambil rupa waktu ia berusia lima belas tahun. Seharusnya ia sepertimu. Sekali lihat kamu akan mengenalinya.”

“Aku sama sekali gak melihat anak muda lima belas tahun selain diriku,” ratap Shira.

“Selain itu, menurut legenda ia juga suka berubah wujud menjadi binatang. Burung camar, ikan laut, bahkan naga air. Tetapi biasanya, yang ia lakukan hanyalah memancing di atas perahu.”

Memancing di atas perahu? Ketika Shira mendengar itu, matanya langsung berkilat-kilat.

Bukannya Penguasa Laut yang dimaksud adalah nelayan yang melambai padanya waktu itu? Selama bertahun-tahun Shira ada adi sini, ia tak melihat orang lain memancing di lautan aneh seperti ini.

“Nelayan yang memancing ikan di atas perahu, sepertinya aku pernah bertemu dengannya.”

“Itu bagus. Ikuti saja arah ke mana dia pergi. Kamu akan menemukannya.”

“Ke arah dia pergi? Waktu itu ia pergi ke arah—”

Shira hampir menunjuk arah ke mana terakhir kali ia melihat nelayan itu, tetapi sosok di atas rakit itu cepat memotong ucapannya.

“Jangan beritahu aku!” seru sosok tersebut.

Sontak saja Shira kaget oleh seruannya.

“Dia memperlihatkan dirinya padamu, maka dia mempersilahkanmu untuk bertemu dengannya,” lanjut si sosok itu. “Hal itu gak ada hubungannya denganku. Aku akan menunggu dia memperlihatkan diri padaku juga, mencarinya hanya dengan mengandalkan takdirku!”

Shira mengangguk, kemudian mengangguk dan membungkukkan kepala memberi hormat.

“Kalau begitu aku permisi dulu. Terima kasih kepada Tuan yang memberi petunjuk kepadaku.”

Setelah itu, Shira meminta bantuan laut untuk membawanya ke arah nelayan itu pergi. Laut awalnya terdiam, tapi ia merasakan antusias Shira. Jadi dengan berat hati ia membentuk ombak, membawa Shira pergi menjauh.

Dari belakang, sosok di atas rakit itu melihat ke arah Shira pergi. Lama sekali ia menatap punggungnya sambil merenungkan sesuatu yang membuatnya sedih.

“Dari ucapannya, Tatalghia Kingdom belum datang ke Desa Badril,” kata sosok itu kepada dirinya sendiri. “Itu berarti, tragedi waktu itu belum datang ke dunia ini. Pantas saja dia belum menjadi Spirit Conductor.”

Sosok itu mendesahkan napas panjang. Dalam hatinya, ia ingin sekali mencegah tragedi yang akan menimpa Keluarga Yashura. Tapi ia bukanlah orang yang ada di sini. Membentuk karma dan mengubah sejarah dunia ini... akan membuatnya seolah-olah tak peduli dengan keberadaan Raja Gunung, sekaligus membuatnya menentang hukum alam yang telah diatur Kaisar Langit.

Beberapa saat kemudian, ia mendesah panjang lagi. Melihat sekali lagi ke arah Shira pergi, ia berlayar kembali.

Loading...