C28: Pesta Kepulangan Kakek Lharu

Chapter 28: Pesta Kepulangan Kakek Lharu

“Kakek Lharu?” sebuah wajah bertanya muncul pada Shuro. “Siapa itu?”

Shuro Yashura mengangkat alisnya. Ia tak pernah mendengar nama Lharu.

“Tuan Shuro. Aku pernah mendengar nama Kakek Lharu dari Tuan Jhuro. Beliau adalah kakek sedarah Anda,” wajah Yulong sangat sopan menjelaskan dari samping.

Shuro melihat ke arah Yulong. Ia mengangguk-angguk dan menyuruh orang yang membawakan pesan tadi untuk menyiapkan jamuan kepada Kakek Lharu.

“Dia kakekku,” kata Shuro kepada Yulong. “Dulu ayahku bilang kakekku sudah meninggal.”

“Begitu juga yang dipikirkan Tuan Jhuro. Tapi beberapa tahun yang lalu beliau menemukan jejak kakek Anda dan pergi menemuinya.”

“Ada kejadian seperti ini? Mengapa Jhuro gak ngomong sama aku?”

“Karena pada akhirnya Tuan Jhuro memiliki sedikit konflik dengan Kakek Lharu,” kata Yulong menjelaskan.

Sebenarnya, Jhuro tak pernah berkata kepada siapa-siapa bahwa ia bertemu dengan kakekknya. Kakeknya pun, selain kepada orang-orang terdekatnya, tak pernah mengatakan ia bertemu cucunya atau terang-terangan mengatakan ia seorang Yashura.

Tapi informasi ini keluar dari mulut Yulong seolah-olah ia sendiri mendengar dari orangnya.

“Jadi itu yang terjadi. Kalau dia memang kakekku, aku harus segera menemuinya. Konfliknya dengan Jhuro adalah masalah sepele. Kediaman Yashura seharusnya menampung Keluarga Yashura, siapa pun itu.”

Faktanya, Lharu Yashura sudah benar-benar menghilang sejarahnya di Keluarga Yashura. Tak ada yang menulis nama atau ia sudah menghilang dalam silsilah keluarga.

Lebih dari seratus tahun yang lalu, waktu saat Lharu masih muda dan penuh semangat, ia mengalami konflik luar biasa dengan kakaknya. Alasannya sederhana, karena perebutan kursi kepala keluarga.

Saat itu Lharu kalah. Ia tak memiliki dukungan para sepuh dan Dewan Keluarga. Tapi di desa, ia terkenal memiliki talenta hebat, jadi ketika ia kabur dari rumah dan mengatakan tak akan pernah kembali, kakaknya langsung mendepaknya sendiri dan mencoret namanya dari dokumen Keluarga Yashura.

Siapa yang mengira, beberapa tahun kemudian, Lharu langsung terkenal. Hidup seperti gelandangan dan tujuan hidup, ia selalu menantang ahli pedang yang ia temui demi mengembangkan kemampuan berpedangnya sampai ke puncak.

Pada era itulah dunia mengenal seorang pria dengan julukan “Pendekar Pedang Kidal”.

Semua orang tak mengenal siapa itu Lharu. Atau seorang Yashura yang menghabiskan bertahun-tahun berkeliling tujuh benua untuk mengasah kemampuan berpedangnya.

Tapi ketika mereka mendengar nama Pendekar Pedang Kidal, semua orang langsung termenung takjub.

“Tuan Shuro. Jika Anda memperkenankan, saya memiliki sedikit urusan dengan Kakek Jharu,” kata Yulong sopan.

“Apa itu?”

“Tuan Jhuro selama ini mengirimkan ramuan kepada Tuan Muda Shira. Sebenarnya ia sudah mencari banyak Alchemist dan mencoba banyak resep, namun semuanya gagal. Tapi dua tahun yang lalu beliau pernah mengirimkan satu botol ramuan khusus.”

Mendengar ramuan khusus yang dimaksud, mata Shuro berkilat.

“Aku ingat ramuan itu. Sangat misterius. Hanya ramuan itu yang mujarab bagi perkembangan Shira. Dulu sekali meminum level-nya naik dari dua tingkat dari level 1!”

Shuro melihat ke arah Yulong dengan tatapan bermakna.

“Apa maksudmu, Kakek Lharu tau tentang ramuan khusus ini?”

Yulong mengangguk. “Alasan Tuan Jhuro bisa mendapatkan ramuan itu adalah... karena waktu itu ia memintanya langsung dari Kakek Lharu!”

Shuro langsung menampar pahanya dan sontak berdiri.

“Siapkan jamuan terbaik! Kita pesta besar-besaran sekarang menyambut kepulangan Kakek Lharu!”

Puncak gunung Desa Badril.

Ada sebuah gong yang bersinar di puncak gunung tersebut. Seperti matahari. Menjadi sumber cahaya di tengah-tengah kegelapan.

Cahaya itu berwarna biru, berasal dari rune-rune yang tergambar di permukaan gong.

Saat ini, seorang sosok transparan tengah memijat keningnya yang terasa pusing sambil melototi rune-rune tersebut dengan matanya yang memerah.

“Apa yang salah?! Tiga belas ribu tahun dulu masih bisa kugunakan! Kenapa sekarang tiba-tiba macet?”

Arwah Baik Hati, Gyl, sudah empat hari berada di puncak gunung ini. Walau sesekali ia turun gunung, itu hanyalah untuk mengecek keadaan Shira. Selebih waktu, ia diam di puncak gunung untuk memutar otak di depan gong misterius ini.

“Haruskah aku mencari seorang Rune Master? Selain Gonzales semua dari mereka adalah sampah.”

Gyl mengingat temannya yang dulu sering menolongnya di saat ia susah. Sebagai seorang Rune Master, ia selalu memperbaiki artifact Gyl yang rusak dengan giat. Mereka berteman baik. Dan belakangan sebelum mereka berdua benar-benar berpisah, Gonzales sepertinya menyukai mengikuti jejak Gyl ke mana pun ia pergi. Saat itu, setiap kali mereka bertemu Gonzales selalu berseru, “Woi kambing, yang kemarin belum bayar! Anjir artifact yang ane pajang di toko dimaling juga! Woi, kampret kamu Gyl, jangan kabur woi!”

Gyl tersenyum mengenang masa lalu.

“Sayangnya Gonzales sudah meninggal ribuan tahun yang lalu. Saat ini, Rune Master sejenius dia mungkin sudah gak ada.”

Rune Master bukanlah sebuah kelas. Mereka adalah profesi yang semua orang bisa mempelajarinya. Biasanya menulis rune pada sebuah artifact adalah tugas Rune Master.

Rune Master didominasi oleh ahli dengan kelas support seperti Specialist, Blacksmith, dan Alchemist. Tapi tak jarang bahkan rakyat jelata biasa menjadi seorang Rune Master. Ketika seorang rakyat biasa menjadi Rune Master yang hebat, bahkan statusnya akan melonjak naik.

Gyl melihat ke arah gongnya.

Ia akan berkelana beberapa bulan setelah ini untuk mencari seorang Rune Master dan memperbaiki barang rongsokan ini.

“Jika aku ingin kembali tenar di Benua ini, gong ini harus bisa berfungsi!” katanya dengan sinar mata membara-bara.

Tapi ia mengingat Shira baru saja menjadi seorang Pemberontak. Pemberontak yang baru bermutasi jiwanya sama seperti sebuah besi yang dipanaskan. Jika tidak ditempa dengan baik di saat-saat krusial seperti itu, maka akhir jadinya ketika mendingin bentuknya akan tidak bagus.

Ia mengambil keputusan. Jika kondisi Shira tak juga membaik, ia akan pergi sesaat. Tetapi jika tiba-tiba saja secara ajaib Shira menjadi sehat, barangkali ia harus menunda sesaat keinginannya untuk membuat heboh acara kembalinya manusia terkuat tiga belas ribu tahun yang lalu.

Gyl menaruh kembali gongnya ke dalam mystic bag kusam yang ada di pinggangnya. Secara misterius dan dengan efek anomali ruang dimensi, gong yang berukuran tiga meter lebih itu masuk ke dalam mystic bag berdiameter lima belas sentimeter.

Lalu ia melayang turun gunung. Saat mendekat ke kediaman Keluarga Yashura, ia melihat sebuah pesta meriah yang jarang sekali.

Ia mengangkat alisnya, menembus dinding, dan sampai ke halaman yang ramai oleh anggota Keluarga Yashura. Aroma lezat daging bakar melapisi udara, nyanyian gembira mengisi malam, Gyl melihat Keluarga Yashura tengah mengadakan pesta terbesar semenjak ia datang setahun yang lalu.

Di tengah-tengah kerumunan, Gyl melihat bintang pesta ini tengah tertawa terbahak-bahak. Ia adalah seorang kakek yang matanya tenggelam sipit kita ia tersenyum lebar. Warna kulitnya gelap, rambut janggutnya sudah putih beruban semua. Keriput di wajahnya sangat pekat sampai-sampai orang yang melihat kakek ini bertanya-tanya ramuan ajaib apakah yang diminumnya sampai bisa setua ini. Tapi melihat sekilas ia tertawa seperti itu, semua orang tahu tubuhnya dipenuhi semangat hidup saat ini.

“Sini, sini, mana cucu-cicitku! Haha, sini, sini! Biar kuceritakan kalian petualanganku yang hebat semasa muda!”

Kakek Lharu gembira luar biasa ketika melihat anak-anak mulai mengerumuninya. Baru kali ini selama beberapa tahun belakangan ini bisa tertawa gelak panjang lebar, rasa kesepian di hari tuanya langsung menghilang begitu saja setelah malam ini. Dengan semangat yang membara-bara ia menceritakan sambil berpose sana-sini untuk menggambarkan detail ceritanya. Dari mulutnya, air liurnya muncrat ke mana-mana.

Tapi anak-anak sepuluh tahun ke bawah mendengarkan dengan mata berbinar-binar dan takjub.

“Begitu aku berada di ujung jalan, kulihat seekor naga sisik emas berada di depanku! Seribu pendekar yang mengejarku dari belakang sama sekali gak peduli dengan naga tersebut karena aku sudah terang-terangan mencuri batu mulia clan mereka.”

Banyak anak-anak yang menarik napas kuat karena saling tercengangnya. Ini adalah kisah petualangan terhebat yang pernah mereka dengar.

“Kakek Lharu, apa yang terjadi setelah itu?” tanya seorang bocah dengan polosnya.

Kakek Lharu tersenyum. Ia sengaja diam agar rasa penasaran anak-anak itu semakin menjadi-jadi.

Tak jauh darinya, seorang arwah juga ikut mendengarkan. Tapi wajahnya muncul seringai mengejek.

“Omong kosong tingkat dewa kakek itu. Kalau di situasi seperti itu, orang mana pun juga bakal mati. Kecuali—”

“Aku menjinakkan naga bersisik emas itu,” kata Kakek Lharu, seakan-akan bisa membaca pikiran Gyl. “Setelahnya, kuperintahkan naga tersebut untuk membakar seribu orang yang mengejarku. Semenjak saat itu, sangat sedikit yang berani macam-macam denganku!”

“Wooaahh!!!”

Mulai saat itu, Kakek Lharu menjadi sebuah sosok yang sangat dikagumi oleh anak-anak Keluarga Yashura. Ia senang sekali. Di wajahnya senyum tak henti-hentinya melebar dari telinga kanan ke telinga kiri.

Tapi beberapa dari anak-anak sudah tak percaya cerita ini. Mereka protes, tapi Kakek Lharu hanya tertawa mendengar kritikan anak-anak itu.

“Kakek bilang menjinakkan seekor naga emas?” tanya seorang gadis umur sembilan tahun yang cukup pintar di regu anak-anak itu. “Bagaimana kakek melakukannya?”

Kakek Lharu membusungkan dada sambil berkata: “Aku menepuk jidatnya sekali. Dan dia sudah menjadi peliharaanku,” kata Kakek Lharu dengan bangga.

Jawabannya malah membuat anak-anak semakin tak percaya. Bahkan yang tadinya melihat Kakek Lharu dengan mata berbinar-binar kini mulai mengatakannya kakek pembohong dengan nada nakal dan mengejek.

“Beneran tau! Nanti kalau ada waktu, kakek akan membawa kalian ke sarang naga itu supaya kalian semua bisa melihat dengan mata kepala kalian sendiri!” Kakek Lharu tertawa lagi, ia sangat menikmati menggodai anak-anak kecil ini.

Ia mengingat kembali masa-masanya menjadi Pendeta Tinggi saat di Moon Temple. Anak-anak saat itu semua pada takut dengan sosoknya. Mereka bahkan sudah didoktrin untuk membungkukkan kepala ketika melihatnya.

“Naga sisik emas, maksudnya Naga Danau Doba bukan?” tapi saat ini, terdengar sebuah suara bernada mengejek ditunjukkan kepada Kakek Lharu.

Kakek itu menghentikan tawanya. Ia menoleh ke arah sumber suara sambil mengerutkan dahi.

“Betul sekali! Danau Doba, ke situlah aku kabur ketika seribu pendekar mengejarku.”

“Sepertinya ada kesalahan di logikamu,” kata suara itu. Ia memperlihatkan dirinya, sebuah tubuh transparan yang mengambang.

Tak sengaja salah seorang anggota keluar yang melihat Gyl langsung berteriak.

“Hantuuuu!!!!”

Mereka yang tak kuat mentalnya, langsung kabur terpingkal-pingkal. Beberapa yang memiliki pengalaman, tahu seorang arwah tak semengerikan kedengarannya.

Loading...