C3: Harga Diri Keluarga Yashura

Chapter 3: Harga Diri Keluarga Yashura

Keluarga Yashura terdiri dari lebih dari ratusan rumah, dengan anggota kira-kira seribu rakyat biasa dan sekitar seratus petarung. Para petarung biasanya memiliki status tinggi di keluarga.

Posisi teratas adalah para Dewan Keluarga dan Kepala Keluarga yang mengatur dan memiliki wewenang tertinggi dalam pengambilan keputusan dan penyaluran sumber daya di keluarga. Kepala Keluarga tentu saja Ayah Mila, Shuro Yashura, yang merupakan level 38 Swordsman. Kemudian untuk Dewan Keluarga terdiri dari kakek dan nenek dari dua generasi yang lalu, rata-rata lebih dari enam puluh tahunan dan semuanya memiliki level di atas tiga puluhan.

Beberapa dari mereka bahkan sudah melampaui level 40 dan mendapatkan promosi kelas ke tier-2. Mereka adalah Dewan Besar yang terdiri dari tiga orang.

Gharu Yashura, level 41 tier-2 Swordsman.

Tilang Yashura, level 43 tier-2 Alchemist.

Dan terakhir adalah Dewan Besar termuda dan terkuat di keluarga; Jhuro Yashura, level 46 Blackfang Swordsman.

Jhuro Yashura, meski pun memiliki jabatan tinggi di keluarga, namun bisa dibilang itu hanyalah gelar belaka. Ia jarang ikut campur dengan urusan keluarga. Tapi, dalam perkembangan keluarga beberapa tahun ini setelah mengalami kemunduran semenjak tiga puluh tahun yang lalu, Jhuro Yashura memiliki peran besar. Ia membuka koneksi luar untuk keluarga dengan mengandalkan posisinya sebagai sepuh di sekolah Hatim Malakas. Keberadaannya yang cukup ditakuti dan diakui di benua Tiramikal pula yang membuat bisnis keluarga yang di beberapa sektor pasar jarang diganggu oleh orang luar.

Dan Jhuro Yashura pula alasan terbesar mengapa ada ratusan rombongan di depan gerbang Keluarga Yashura datang hari ini. Ia dan ayah si gadis Malikh adalah saudara seperjuangan semenjak mereka muda dan pergi ke dunia luar untuk mencari pengalaman.

Kemudian anak mereka lahir di saat yang hampir bersamaan. Seorang anak laki-laki dan perempuan. Dua saudara seperjuangan itu kemudian bertekad untuk menyatukan dua keluarga melalui pernikahan anak mereka. Dan saudara seperjuangan Jhuro itu adalah Kepala Keluarga Malikh yang menjabat saat ini.

Bisa dibilang hubungan mereka sangat erat sampai-sampai banyak orang yang mengeluh tak puas.

Tapi sekarang ini Jhuro sedang keluar untuk misi sekolahnya. Ia tak bisa hadir menyambut tamu dari Keluarga Malikh.

Karena itu hanya dua dari tiga Dewan Besar yang hadir untuk menunggu rombongan yang berhenti di depan gerbang. Mereka adalah Gharu dan Tilang Yashura, kakek dan nenek yang sudah mencapai usia delapan puluh tahun mendampingi Shira di samping mereka. Di belakang mereka bertiga, ratusan anggota keluarga datang pula untuk menyambut tamu.

Shuro Yashura, sang kepala keluarga, datang beberapa saat kemudian dan mengambil posisi di antara Gharu dan Shira. Wajah kasarnya dihiasi senyum tak alami yang terlihat seperti seorang penjahat melihat mangsanya. Itu adalah raut muka khas yang selalu ia berikan kepada orang lain di luar keluarganya. Ia tak bisa memperbaikinya.

Mila menyelip di antara anggota keluarga yang lain, kemudian muncul tepat di belakang Shira.

“Shira, jangan gugup. Usahakan jaga kegantenganmu semaksimal mungkin di depan cewek itu.”

Wajah Shira tetap datar melihat ke depan. Tak terpengaruh ucapan Mila dari belakang.

Semua Keluarga Yashura yang hadir berdiri diam di halaman keluarga melihat keluar, di mana rombongan berada. Bagian terdepan rombongan itu adalah orang-orang yang berpakaian penuh warna dan sedang memainkan pertunjukan musik. Kemudian di belakang mereka ada kereta kuda yang dijaga oleh enam pengawal. Di belakang mereka lagi, ada ratusan tamu entah dari Keluarga Malikh atau kenalan kedua keluarga.

“Lihat kereta kuda itu. Mewahnya bukan main! Heh, aku gak tau Malikh bisa beli kereta kuda seperti itu, cuma buat acara seperti ini.”

“Sepertinya Kepala Keluarga Malikh memang niat tetepin pertunangan ini. Ngotot benar dia, katanya hampir semua Dewan Keluarga Malikh gak puas sama keputusannya.”

“Iya, iya. Aku juga denger banyak anggota Keluarga Malikh yang gak puas harta karun mereka dicemplungin ke jamban bareng bocah cacat itu. Ah, mending nikah sama aku aja ceweknya!”

“Loh, bukannya itu kereta kuda dari desa tingkat dua? Hmm... kelihatan mirip seperti kereta kudanya Keluarga Blackwood...”

“Heehhh... pantesan mewah. Minjem toh. Haha, kirain...”

“Yang bener? Jadi kabar Blackwood mau nikung pertunangan itu...”

“Hush! Sudah jangan kebanyakan gosip!”

Tak lama kemudian, musik mereda dan para pemusik membungkuk ke arah Keluarga Yashura dan orang-orang yang menonton di luar. Suara tepuk tangan meriah dan siulan menyambut, lalu para pemusik itu berjalan ke arah belakang rombongan.

Kemudian, di saat para pemusik mundur, enam pengawal dan kereta kuda kemudian maju ke arah gerbang untuk memimpin rombongan.

Riuh pikuk berhenti. Semua orang kemudian diam menunggu tuan putri Malikh yang konon dikagumi ribuan pemuda desa itu untuk memberkahi mereka dengan kecantikannya.

Kereta kuda itu lalu berhenti tepat di depan gerbang. Dan seorang pengawal membuka pintu kereta...

Kaki seseorang keluar dari kereta. Ia tak terburu-buru. Di saat itu, raut muka semua orang berubah. Orang-orang yang menonton melihat dengan wajah ingin tahu. Dan wajah Keluarga Yashura hampir semua mengerutkan dahi.

Karena yang keluar dari kereta itu bukanlah si gadis Malikh. Melainkan seorang pemuda berwajah arogan dan berbaju mewah. Semua orang yang melihat walau sekilas tahu pemuda itu datang dari keluarga ningrat.

Setelah turun, ia menawarkan tangannya ke arah kereta. Kemudian tangan seorang wanita muda yang lembut terlihat memegang tangan pemuda itu membantunya turun.

Dan mereka semua kemudian melihat gadis keluar dari kereta itu. Bibirnya tipis dan proporsi wajahnya yang putih membuatnya terlihat elegan seperti mutiara kelas atas. Pinggangnya yang langsing dan pinggulnya yang elok membuat gadis cantik lain di sekitarnya terlihat seperti gadis desa. Lalu dadanya yang terisi penuh membuat pandangan pria tak bisa terlepas dari situ. Usianya masih lima belas tahun tetapi ia memancarkan aura seorang wanita dewasa karena wajahnya yang dingin tanpa ekspresi. Ia mengenakan gaun merah dengan hiasan bermacam-macam warna, tapi nampak tak serasi dengan dingin air mukanya.

Wajah gadis itu lebih dingin dari pada raut muka yang biasanya ada di wajah Shira. Jika Shira dingin karena di matanya terlihat malas berinteraksi dengan orang lain, maka gadis ini memiliki aura dingin yang berbeda. Saat ia melihat pemuda itu, ia tak melihat manusia. Saat ia melihat orang-orang yang menonton, ia tak melihat kumpulan manusia. Saat ia melihat ke arah Keluarga Yashura, ke arah Shira... ia seperti melihat ke arah udara.

Gadis itu memancarkan aura seorang ratu yang melihat ke arah rakyat jelata.

Orang lain tak cukup penting untuk mendapatkan perhatiannya. Itulah kesan yang pertama kali didapatkan jika seseorang melihat gadis itu.

“Ck, mentang lebih cakep dikit dari pada aku, sombongnya bukan main,” gerutu Mila melihat gadis itu. Ia sudah mendengar kabar gadis tercantik di desa ini dan sempat melihatnya dari kejauhan. Tapi ia tak menyangka tatapan dingin seperti itu muncul dan membuatnya kesal bukan main. “Lagian, cowok itu siapanya? Jangan bilang dia berani bawa pacar ke sini, hmph! Cari mati!”

Shira mendengar omelan kakak sepupunya. Ia melihat ke arah tunangannya, ada reaksi sekilas di matanya ketika melihat gadis itu, tapi kemudian langsung kembali seperti semua. Mata yang melihat malas seperti ikan mati. Lalu ia menoleh ke arah pemuda yang menolong tunangannya turun dari kereta kuda. Kedua alisnya naik sedikit.

Jadi orang ini yang akan membuat masalah?

Ia melihat pemuda itu bersikap gentleman kepada tunangannya. Tapi ia tak merasa cemburu karena baru pertama kali ia bertemu tunangannya. Dengan gerakan kepala yang lembut, ia menoleh melihat sekitarnya. Dewan Besar di sebelahnya mengerutkan alis. Senyum Shuro Yashura sudah menghilang dan wajahnya kembali menjadi kasar.

Semua Keluarga Yashura terdiam melihat pemuda dan gadis turun dari kereta yang sama. Mereka tahu pemuda ini bukanlah anggota Keluarga Malikh.

Dada mereka sesak, mencoba untuk menahan rasa malu. Mereka tak bisa seenaknya mengucapkan sumpah serapah yang menyangkut di tenggorokan mereka karena mereka tahu pemuda itu adalah seorang ningrat yang tak bisa dibuat marah begitu saja.

Mereka terdiam melihat ke arah kepala keluarga mereka dari belakang. Tangan mengepal keras pria paruh baya itu bergetar karena ia menahan diri dari hasratnya menghajar seorang pemuda kurang ajar yang menyentuh kulit tunangan keponakannya di depan ratusan orang yang menonton.

Jika pemuda itu tak ingin mencari masalah, lalu apa tujuannya datang kemari?

Dan lalu, dengan senyum enteng di wajahnya, pemuda itu menawarkan lengannya untuk digandeng. Gadis Malikh itu tak menolak.

“Bhela, apa maksudnya ini?!” raungan Shuro meledak melihat dua muda-mudi itu terlihat bersikap intim di hadapannya. “Siapa anak itu? Jangan kurang ajar kamu! Tunanganmu itu Shira, apa maksudnya kamu gandeng tangan orang lain?”

Air muka Shuro sudah terbakar habis-habisan. Di depan adegan tunangan keponakannya menggandeng tangan pemuda lain, di depan ratusan penduduk desa yang menonton, ia sama sekali tak memiliki wajah lagi untuk menjadi kepala keluarga yang disegani di Desa Badril.

“Salam kepada Kepala Keluarga Yashura!” Pemuda di samping Bhela Malikh yang menjawab dengan senyum meledek dan nada sarkastis yang disengaja. “Akhirnya Tuan Muda Blackwood ini bisa melihat kehebatan Yashura dari dekat. Adik Bhela sudah sering kali menceritakan banyak hal tentang Keluarga Yashura kepada Tuan Muda ini.”

“Jadi kamu dari Blackwood? Ada urusan apa kamu datang kemari?”

Shuro Yashura tak ingin berbasa-basi. Raut wajahnya menghitam dan matanya menatap murka, ia sama sekali tak menyembunyikan hasrat membunuhnya. Hampir semua orang gemetar melihat ekspresi wajahnya, terutama anggota Keluarga Yashura. Para pengawal kereta mulai bersiap dengan pedang yang menggantung di pinggang mereka. Mereka tahu Jhuro Yashura terkenal dengan temperamennya yang buruk, dan kelihatannya si kakak juga tak kalah buruknya.

“Kepala Keluarga Yashura, mengapa harus dibawa emosi? Kami datang dengan maksud baik.”

Melihat Shuro hampir tak bisa menahan tatapan arogan dan senyum meledek pemuda Blackwood ini, Tilang Yashura maju dua langkah. Nenek yang merupakan salah satu anggota Dewan Besar ini, tahu jika semakin lama Shuro menghadapi provokasi Blackwood, maka situasi sudah tak akan bisa terkendali lagi.

“Tuan Muda Blackwood, kami dari Keluarga Yashura sangat merasa terhormat bila Anda sempat menghabiskan waktu untuk mengunjungi keluarga kami yang sederhana ini,” ucapan nenek itu pelan dan merendah. “Jika di lain kesempatan Anda datang untuk berkunjung, tentu kami akan lebih bisa menjamu Anda dengan lebih baik. Tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat. Dan juga, maaf saja, kami merasa sekarang Anda datang dengan cara yang tidak tepat pula. Kami dari Keluarga Yashura bertanya-tanya tentang maksud baik yang Anda katakan barusan?”

Tuan Muda Blackwood tak langsung menjawab. Ia tertawa sesaat. Tak ada yang mengerti mengapa ia tertawa. Wajah anggota Keluarga Yashura semakin menjadi-jadi. Sekarang mereka bahkan mulai membenci Keluarga Malikh karena telah membawa anak ningrat kurang ajar ini ke pintu gerbang mereka.

Melihat pemuda di sampingnya menertawai Keluarga Yashura, Bhela Malikh tak berkata apa-apa. Ekspresinya tetap dingin. Ia tak membuka mulut untuk menjelaskan situasi atau pun ia ikut meledek Yashura.

Jika dilihat baik-baik, gadis itu tak benar-benar menggandeng tangan pemuda kaya di sebelahnya. Bisa dibilang itu hanyalah sentuhan kulit semata. Di matanya yang dingin, bisa terlihat kalau dia juga mulai terlihat kesal. Bukan karena masalah Yashura atau sikap Tuan Muda Blackwood, tetapi karena ia merasa datang ke sini adalah hal yang sia-sia. Ia kesal karena dipaksa datang dan membuang-buang waktunya.

Bahkan ia beberapa hari yang lalu ia juga disuruh untuk ‘akrab’ dengan Tuan Muda Blackwood oleh beberapa Dewan Keluarga Malikh. Sikapnya waktu itu kurang lebih sama seperti Shira, sikap tak acuh membuatnya menerima perintah itu begitu saja.

Padahal, jika ia enggan, ia bisa melapor kepada ayahnya. Jika ayahnya, Kepala Keluarga Malikh, tahu maksud sebenarnya untuk kunjungan rombongan ini ke Keluarga Yashura, barangkali ia sudah mengamuk dan menghajar para Dewan Keluarga itu. Beberapa tahun belakangan ini ia mulai merasa malu jika bertemu dengan Jhuro sahabatnya. Ia tak tahan bila ada anggota keluarganya yang berniat tak baik terhadap Keluarga Yashura.

Tawa Tuan Muda Blackwood masih di situ. Barangkali ia merasa terhibur melihat rakyat jelata di depannya akan segera ia sentil dan robohkan.

Sejak awal ia sudah melihat kunjungan ini sebagai guyonan. Bahkan pertunangan ini adalah guyon terbesar yang membuat perut dan pipinya sakit karena ia tertawa terbahak-bahak sampai guling-guling di lantai.

Gadis jenius dinikahkan dengan sampah dari keluarga rendahan?

Sampai-sampai nenek moyang Blackwood pun ikut tertawa melihat Tuhan membuat panggung guyon seperti ini.

“Oh, Sepuh dari Keluarga Yashura, maafkan Tuan Muda yang tak sopan ini,” katanya pelan, membungkuk, namun tak mengambil usaha untuk melenyapkan senyum menjengkelkan di wajahnya. “Tuan Muda datang kemari setelah mendengar kabar Tuan Muda Yashura yang tak bisa naik ke level 4 belakangan ini. Jangan khawatir, Tuan Muda ini punya solusi untuk itu. Bagaimana jika Tuan Muda Yashura bertamu ke Keluarga Blackwood dan bertemu dengan Alchemist kami? Barangkali beliau bisa menyembuhkan cacat yang diderita Tuan Muda Yashura.”

Mendengar itu alis Mila mengerut dan matanya semakin tajam.

Pemuda ningrat ini ternyata hanyalah salah satu dari bully yang terus menerus datang untuk merendahkan adik sepupunya semata hanya untuk membuktikan superioritas mereka. Amarah yang ditahan di dadanya mulai merangkak naik ke tenggorokan, dan ia mengeluarkan raungan yang meledak jelas untuk didengar ratusan orang di situ.

“Adikku cacat? Kalau kamu sebut adikku cacat, terus harus aku sebut apa kamu? Benalu sepertimu cuma bisa nyusu dan ngandelin keluargamu aja! Hah! Gak malu? Kalau dibandingkan kamu dan adikku Shira, hah—masih untung kamu kalau punya kualifikasi buat dibandingkan sama adikku, sampah!”

Mila sudah lama dikenal sebagai gadis yang cantik namun berlidah pedas. Pengalamannya membela Shira saat dibully semenjak kecil membuatnya mengembangkan kemampuan sumpah serapahnya. Setiap kali ada yang mengejek adik sepupunya, maka ia akan lepas kendali.

Tak ada yang menyangka bila dia berani melakukannya di depan Tuan Muda dari desa tingkat dua.

Jika di hari biasa, orang-orang tua Keluarga Yashura akan mencoba menghentikan mulut gadis itu. Karena orang yang disumpahi datang dari keluarga ningrat di desa tingkat kedua. Akan menjadi masalah besar jika hal itu dibiarkan begitu saja.

Tapi hari ini mereka semua diam. Tak sedikit yang mengangguk-angguk mendengar sumpah serapah gadis itu. Terutama Shuro Yashura. Ada senyum puas di wajahnya.

Untuk pertama kalinya ia bangga melihat anak gadisnya berani mencari masalah. Ia pun meyakinkan dirinya, apa pun konsekuensi nantinya karena telah menyumpahi Tuan Muda arogan ini, ia akan melindungi Mila. Baginya, gadis itu sudah melakukan hal yang benar!

Tuan Muda Blackwood hanya tertawa kecil mendengar itu.

“Heh, apa iya? Tuan Muda ini tidak tahu kalau Tuan Muda Yashura sehebat itu. Kalau begitu, biarkan Tuan Muda ini melihat seberapa hebat Tuan Muda Yashura dalam duel satu lawan satu. Hehe, bagaimana? Biarkan orang lain membandingkan kami berdua? Tuan Muda ini kira dia punya kualifikasi untuk dibandingkan dengan kehebatan Tuan Muda Yashura.”

“Bah! Beraninya duel sama yang lebih muda. Itu bukan duel namanya, tapi bully! Orang-orang sepertimu itu yang mereka sebut sampah! Beraninya bully yang lemah, tapi ngejilat di depan yang kuat!”

Napas Mila Yashura sudah menjadi berat karena melepas amarah yang ditahan sejak tadi. Kemudian ia memicingkan mata sambil melototi Bhela Malikh yang menggandeng tangan Tuan Muda Blackwood.

“Kalian semua, ingat baik-baik nama Shira Yashura,” teriaknya untuk di dengar semua orang. “Hari ini mungkin kalian melihat dia sebagai cacat yang masih di level 3! Tapi lihat lima tahun kemudian, gak ada satu pun dari kalian yang layak disandingkan dengannya!

“Aku tahu tujuan Tuan Muda Sampah ini datang kemari. Dia mau nyuri tunangan adikku tepat di depan hidung kami pakai logika kalau adikku gak pantas untuk cewek jenius seperti dia. Kalau begitu maumu, ambil! Gak perlu basa-basi buat bantu adikku pakai Alchemist segala. Ambil lacur itu! Ambil! Shira gak butuh!”

Loading...