C35: Percakapan di Keluarga Malikh

Chapter 35: Percakapan di Keluarga Malikh

Keluarga Malikh.

Nenek Sari tengah menyeduh teh. Aroma khas menyeruak memberikan suasana nyaman di ruangan itu. Selain dirinya, ada dua gadis tengah duduk menghadap Nenek Sari. Mereka adalah Bhela Malikh dan Lyla Blackwood.

Bhela duduk tenang sambil memegang kuas, menulis kaligrafi tradisional timur. Lyla juga memegang kuas, tetapi ia lebih memilih menggambar burung mungil yang ia lihat sore tadi.

“Memang bagus jika kamu memiliki konsentrasi tinggi,” kata Nenek Sari melihat ke arah Bhela. “Tapi kamu sedang mengerjakan sebuah karya seni. Kamu seharusnya mendengarkan lingkungan sekitarmu, namun di saat yang bersamaan, mengabaikannya. Lepaskan dirimu, itulah kuncinya. Mereka yang terlalu fokus terkadang mengabaikan kreativitas yang ditawarkan oleh intuisi mereka, sama sekali tak melihat ide dan jalan baru.”

Nenek Sari menyadari jalan pikir Bhela yang kaku, menghasilkan kaligrafi, yang walau sekilas terlihat sangat baik, tetapi fondasi dan gayanya sedikit sekali mengekspresikan suara individu yang menulisnya. Dengan kata lain, kaligrafi yang Bhela tulis sangatlah ortodoks.

“Seperti Lyla?” tanya Bhela, sambil menoleh ke arah sahabatnya.

Lyla tak terpengaruh tatapan Bhela dan juga Nenek Sari. Ia tetap menggambar burung, pepohonan, bunga, ulat, apa pun yang terlintas di benaknya.

Nenek Sari tersenyum melihat keseriusan Lyla. “Dia berbeda denganmu. Kebalikannya. Dia hanya butuh fokus.”

Benar saja. Tak lama kemudian, setelah menggambar banyak sekali objek-objek yang ia senangi, Lyla langsung saja bosan. Ia menaruh kuasnya, sambil malas membereskan kertas menggambarnya, ia bangkit dan berjalan riang ke meja tempat Nenek Sari duduk.

“Apa kamu menyukai teh manis?” tanya Nenek Sari sambil tersenyum.

“Mm mm!” Lyla mengangguk. Di depan Nenek Sari, ia sama sekali tak bersikap kaku dan formal.

Sedang Nenek Sari sendiri dengan senang hati menyeduhkan teh untuk Lyla. Awalnya, ketika mendengar Bhela memiliki sahabat gadis dari Blackwood, ia menentangnya. Tapi ketika bertemu dengan gadis empat belas tahun ini, hatinya melunak.

Lyla Blackwood, adalah gadis polos yang selalu membawa hari-harinya dengan suasana hati ceria. Membenci gadis mungil seperti ini sangatlah sulit untuk seorang nenek seperti Nenek Sari. Menyalahkan kesalahan Blackwood pada gadis yang tak mengerti apa-apa ini pun, rasanya sangat tak adil.

“Lyla, apa ada seseorang yang kamu sayangi?” goda Nenek Sari tiba-tiba ketika Lyla tengah menikmati tehnya.

“Hm? Yang aku sayang? Ada kok,” jawab Lyla polos.

“Siapa?” tanya nenek itu sambil tersenyum hangat.

“Kak Bhela,” kata Lyla sambil melompat untuk memeluk Bhela. “Berada di dekatnya sangat hangat sekali. Kak Bhela selalu mendengarkan ceritaku dan melindungiku saat berpetualang. Aku sayang Kak Bhela selama-lamanya!” katanya sambil memeluk dan mengusap-usap wajahnya di lengan Bhela.

“Kamu sudah kuanggap adik sendiri,” kata Bhela tersenyum. “Maksud Nenek Sari, apa ada laki-laki yang kamu sayangi?”

“Laki-laki?” Lyla sedikit bingung. Dia sudah empat belas tahun, sudah sampai usianya untuk mengenal lawan jenis lebih dekat lagi. Tapi ia yang sekarang tak mengerti tentang hal itu. Jadi Lyla hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya terhadap pertanyaan pasangan buyut dan cicit itu.

“Suatu saat nanti, jika kamu dipaksa untuk bersama dengan orang yang gak kamu cintai, kamu bisa memberitahu nenek,” kata Nenek Sari lembut. “Nenek akan melindungimu dan mengusahakan yang terbaik untukmu!”

Mata Lyla berkedip-kedip. Ia tak begitu paham tapi hanya bisa mengangguk.

Sedang Bhela mengerti maksud dari Nenek Sari. Lyla adalah gadis yang bisa dibilang cantik namun sangat polos dan selalu tenggelam dalam dunianya sendiri. Gadis seperti itu sangat mudah disukai banyak orang. Tapi sayangnya, Lyla lahir dalam keluarga ambisius seperti Blackwood. Jika tak ada yang melindunginya, ia hanya akan menjadi bahan dagangan untuk dinikahkan ke keluarga yang memiliki status lebih tinggi daripada Blackwood.

Nenek Sari, dengan statusnya sebagai Mage Tier 3, memiliki kemampuan untuk secara tidak langsung ikut campur dalam hal seperti ini. Terutama urusan keluarga bangsawan desa tingkat dua seperti Blackwood. Di masa depan, jika tiba waktunya bagi Lyla untuk menemukan pasangannya, Nenek Sari berniat untuk memberikan kesempatan untuknya mendapatkan cinta sejati.

Sikap polos dan hati bersih Lyla sudah mendapatkan tempat di benak Nenek Sari. Setiap kali ia melihat gadis ini, ia selalu saja ingin memanjakannya. Walaupun Lyla bukanlah keluarganya, melihat keakraban Lyla dengan buyutnya, hatinya selalu meleleh.

“Bagaimana denganmu, Bhela?” tanya Nenek Sari.

“Aku?” tanya Bhela balik.

“Kamu ditunangkan oleh ayahmu. Apa kamu menyukai calon pasanganmu?”

“Shira Yashura? Entahlah. Aku gak pernah berbincang dengannya.”

Nenek Sari melihat ekspresi datar di wajah Lyla ketika menjawab pertanyaannya. Ia hanya mendesahkan napas dalam hati.

“Bhela, apa ada seseorang yang kamu sayangi?” tanyanya.

Bhela menggelengkan kepalanya. “Siapa saja, asal berlaku adil, sudah cukup bagiku.”

“Bagaimana dengan Shira?”

“Kudengar dia orangnya sedikit tertutup. Tapi pertama kali aku bertemu dengannya, kesan pertamaku adalah kalau anak itu diam-diam sangat angkuh.”

“Apa maksud Kak Bhela saat dia menolak party kita?” Lyla ikut bertanya ketika mendengar impresi negatif Bhela terhadap Shira.

Bhela tak menyangkal. “Sendirian masuk ke area yang berbahaya. Lihat apa yang terjadi padanya,” dalam hatinya sebenarnya Bhela sedikit kesal, namun juga ada rasa simpati. Tapi suaranya terdengar datar tanpa emosi.

“Kamu bakal kelepek-kelepek kalau melihat apa yang sebenarnya terjadi di gunung itu,” goda Nenek Sari.

Ia tak diam saja semenjak tiba di Keluarga Malikh. Yang membuatnya sibuk adalah meluluhkan pengaruh Blackwood di kalangan sepuh-sepuh dan juga dewan keluarganya.

Tapi belakangan ini, ia cepat menerima banyak informasi tentang Shira. Karena Shira adalah tunangan buyutnya, sekaligus buyut dari Kakek Lharu, tentu saja Nenek Sari penasaran ingin melihat pemuda ini dari dekat.

Alhasil, ia mendapati cerita bahwa Shira telah mengalahkan banyak hewan buas yang jauh lebih kuat darinya. Dengan berfondasikan petarung novice level 3, ia bisa mengalahkan gorila yang memiliki level 10. Siapa pun yang mendengar itu, tentu saja akan takjub dibuatnya.

Sayangnya, Shira sendiri sudah memiliki reputasi dengan memiliki talenta yang sangat buruk sebagai petarung. Level 3 di usia lima belas tahun sangat dipandang rendah oleh semua orang.

“Sayang sekali dia memiliki kondisi itu,” kata Nenek Sari dalam hati. “Tapi Lharu sudah tau apa yang sebenarnya terjadi. Di masa lalu dia gak bisa terlalu membantu Shira karena jabatannya sebagai Pendeta Tinggi. Tapi sekarang dia sudah pensiun, aku yakin dia gak bakal tinggal diam melihat kondisi Shira yang masih berada di level 3.”

Nenek Sari melihat lekat-lekat ke arah Bhela, kemudian berkata:

“Bhela, jujur saja, Nenek Sari memiliki hubungan baik dengan Keluarga Yashura. Nenek sangat berharap sekali kamu bisa menyatukan Yashura dan Malikh. Semenjak dulu nenek selalu bermimpi hal itu... tapi sampai sekarang hanya bisa menyimpannya dalam hati.”

Bhela melihat ke arah mata Nenek Sari yang nampak sangat nostalgia. Pada saat itu, ia sekejap menyadari secara tidak langsung Nenek Sari membicarakan tentang kisah cinta gagal yang terjadi di masa lalu antara dia dan seseorang dari Keluarga Yashura.

“Aku gak keberatan,” kata Bhela. “Shira Yashura sebenarnya adalah pemuda yang baik-baik. Jika gak mengundang masalah, aku rela dinikahkan dengan Shira.”

Bhela tak memutuskan pernikahaannya berdasarkan cinta atas pasangannya. Melainkan cinta atas keluarganya. Mendengar keputusan Bhela, Nenek Sari hanya bisa menghela napasnya.

“Bagaimana kalau besok pagi kita menjenguk Shira? Sekaligus menjadi gestur sikap kita terhadap Keluarga Shira dan memperbaiki hubungan dua keluarga yang memburuk selama sebulan lebih ini,” usul Nenek Sari.

Bhela sebenarnya tak nyaman tentang ide untuk datang lagi ke kediaman Keluarga Yashura semenjak hari itu. Tapi ia tahu sudah salah ketika mendengar permohonan para sepuh yang ingin memperlihatkan bahwa ia sudah dekat dengan Frane Blackwood. Jadi ia tak memiliki pilihan lain selain mengangguki usul Nenek Sari.

“Menjenguk Shira?” terhadap usul ini, Lyla malah merasa aneh.

“Lyla, ada apa?” Bhela melihat ekspresi wajah Lyla yang tak biasa, membuatnya menjadi bingung.

Lyla tak tahu harus berkata apa. Saat ini, ia meyakini kalau Shira sudah meninggal dan arwahnya gentayangan menjadi hantu cabul yang suka mengintip perempuan mandi. Tapi apa yang harus ia katakan kepada Bhela dan Nenek Sari, ia sendiri juga tak tahu.

Loading...