C4: Kelas Terunik Generasi Ini

Chapter 4: Kelas Terunik Generasi Ini

Semua orang terkejut mendengar sumpah serapah gadis yang nampak lugu seperti Mila semakin menjadi-jadi. Terutama Bhela, yang disebut lacur olehnya.

Tatapan mata Bhela berubah setelah itu. Namun tidak menjadi benci. Ekspresinya masih dingin tapi ia hanya bisa mendesah dalam hati. Sejak awal ia tahu rencana Blackwood untuk menekan ayahnya agar membatalkan pertunangan dengan seorang pemuda Yashura yang sejak awal tak pernah ia temui. Dan ketika Dewan Keluarga meyakinkannya untuk datang kemari, ia pun tahu masalah akan datang kemudian.

Di dalam hatinya, ia hanya berharap masalah tak akan berkembang terlalu besar. Karena ia tak bisa melakukan sesuatu tentang itu.

“Nyonya Muda, apakah Anda tidak berlebihan mengotori nama Dik Bhela?” senyum menjengkelkan Tuan Muda Blackwood itu sudah hilang, wajahnya kini serius. “Boleh saja jika Anda merasa kalau Tuan Muda Yashura lebih baik daripada yang lain. Tapi sampai merendahkan orang lain sampai sebegitunya, apa begini cara keluarga Yashura memperlakukan tamunya?”

“Hmph! Manusia arogan sepertimu pura-pura jadi domba padahal serigala gak tau malu! Merendahkan orang lain sampai sebegitunya kamu bilang? Bah! Bukannya itu tujuanmu datang kemari? Di sini gak ada orang tolol yang bakalan telen rencana busukmu! Kalau kamu mau ambil lacur itu, silahkan! Tapi gak perlu jadi udang yang sembunyi di balik batu.”

“Tapi kuberitahu satu hal. Bukan Shira yang gak pantes untuk cewek itu, tapi cewek itu yang gak pantes buat Shira. Kalian semua yang bully Shira dari ujung sana sampai ujung situ, tunggu baik-baik. Lima tahun ke depan, kalau Shira gak bisa dapet kelas unik, aku bakal potong telingaku! Tapi kalau dia betulan jadi kelas unik, gak ada satu pun dari kalian yang pantes ngejilat kakinya! Bahkan buat lacur itu, gak pantes jadi istrinya!”

Suasana hening di setiap kali Mila mengambil jeda untuk menarik napas di sela-sela teriakannya. Tak ada yang membalas kata-kata kasar Mila. Bahkan Shira, orang yang disebut-sebut, hanya bisa terdiam di situ dengan ekspresi hampa di wajahnya.

“Kepala Keluarga, tak apa-apa membiarkan anak Anda berbicara seperti itu?” bisik Gharu Yashura yang berdiri di sebelah Shuro.

“Gak apa-apa, biarin dia lepas uneg-unegnya,” kata Shuro Yashura pelan. “Kalau keluarga kita gak melawan setelah diperlakukan seperti ini, apa kita bakalan punya muka di desa setelah hari ini? Lagian, gak ada dari kita yang punya jabatan di keluarga yang bisa seenaknya melepas amarah seperti itu. Yang hanya kita bisa lakukan cuma minjem suara Mila buat melawan bocah Blackwood sialan itu.”

“Tapi anak Anda seperti sudah kelewatan menyinggung Malikh dan Blackwood sekaligus!”

Gharu menekan suaranya agar tak didengar orang lain. Shuro terdiam sesaat.

“Kalau ada masalah yang datang besok-besok, biar aku yang nanggung kesalahan anakku. Tapi ingat, seberapa kali pun kita menyinggung Malikh dan Blackwood hari ini, itu tidak seberapa dengan perlakuan mereka pada kita. Keluarga Yashura hampir kehilangan muka pas dua bocah itu saling gandengan tangan di depan gerbang kita!”

Ketika mendengar Kepala Keluarganya, kakek itu hanya mendesah sambil menggeleng-geleng kepalanya.

Dan lalu, tak lama kemudian, setelah memberikan kesempatan untuk penonton menelan teriakan Mila, bisik-bisik menyatu menjadi bising.

“Shira yang masih level 3 itu bakalan dapet kelas unik, bah! Aku aja yang lebih bertalenta cuma dapet kelas biasa.”

“Itu si Mila sebenernya cewek cakep, banyak cowok yang naksir. Tapi kalau sudah ngebacot pedesnya bukan main! Duh!”

“Bukan cuma pedes bacotannya, ngayal lagi!”

“Tapi apa sedikit masuk akal? Itu Shira bapaknya dapet kelas unik, terkenal juga. Siapa tau anaknya juga bisa dapet kelas unik.”

“Iya, bener, bener. Gak mustahil juga.”

Tuan Muda Blackwood hanya menyeringai dalam hati mendengar obrolan itu.

“Kepala Keluarga Yashura, Tuan Muda ini tak mengapa jika dia diteriaki dengan kata-kata kasar. Tetapi jika Adik Bhela yang tak bersalah juga ikut dikatai dengan kata yang tak pantas, saya tanya sekali lagi; apakah begini Keluarga Yashura memperlakukan tamunya?”

“Memang benar kalau anakku keterlaluan mengatai Bhela barusan,” kata Shuro pelan. “Karena tujuan keluarga Malikh awalnya datang kemari untuk bertamu, maka kami dari keluarga Yashura memohon maaf. Tapi permintaan maaf kami hanya tulus untuk mereka yang berniat baik bertamu datang kemari. Untuk yang mempunyai kepentingan lain, kami mohon untuk meninggalkan tempat ini. Kunjungan ini seharusnya untuk mempererat tali silaturahmi kedua keluarga, bukan merusaknya karena kehadiran pihak ketiga.”

Tuan Muda Blackwood mendapat sindiran Shuro. Tapi ia hanya tersenyum.

“Tidak apa-apa. Bila pihak Yashura sudah meminta maaf, Tuan Muda yakin Adik Bhela tidak akan mengambil hati akan kejadian barusan. Tetapi bagaimana dengan Tuan Muda ini? Nyonya Muda tadi mengatakan kalau Tuan Muda ini tidak pantas untuk dibandingkan dengan Tuan Muda Yashura. Apa benar begitu? Tuan Muda ini yakin banyak dari hadirin yang bertanya-tanya demikian. Mengingat begitu banyak rumor dan berita tentang Tuan Muda Yashura.”

Tuan Muda Blackwood berhenti sejenak. Banyak dari penonton yang mengangguk-angguk mendengar ucapannya.

Kemudian pandangannya mengunci ke arah Shira Yashura.

“Tuan Muda Yashura, bagaimana pendapat Anda? Bisakah Tuan Muda ini disandingkan dengan Anda?”

Shira terlihat tak niat menjawab. Ekspresinya tetap datar dan dingin.

“Ayolah, banyak hadirin yang bertanya-tanya sebagaimana istimewanya Tuan Muda Yashura yang bakal mendapat kelas unik di masa mendatang. Tuan Muda, bagaimana kalau kita duel, hmm?”

“Masih ngotot juga kamu—“

Shuro menggerakkan tangannya ke arah Mila, memberikan sinyal untuk tak ikut campur lebih.

“Kami keluarga Yashura minta maaf kepada Tuan Muda Blackwood,” kata pria paruh baya itu serius. “Saat ini Shira Yashura masih belum siap berpartisipasi dalam duel, terlebih dengan seseorang yang mempunyai level jauh lebih tinggi darinya.”

Shuro Yashura mengerti tujuan Blackwood datang kemari. Tuan Muda mereka akan mengajak duel Shira, dan kemudian mengalahkannya dan mengklaim dia lebih baik daripada Shira. Itu akan memberikan tekanan kepada Kepala Keluarga Malikh yang masih niat mempertahankan pertunangan kedua keluarga ini.

Orang bodoh pun tahu mengalahkan seseorang dengan level kecil dalam duel tidak berarti apa-apa. Tapi posisi Blackwood untuk merebut Bhela dari keluarga Yashura tinggal selangkah lagi sampai-sampai mereka hanya membutuhkan alasan sepele untuk menggerakkan hati keluarga Malikh.

Saat ini hampir semua Dewan Keluarga Malikh sangat berterima kasih atas ‘bantuan’ yang diberikan Blackwood. Dan bila sampai semua Dewan Keluarga memiliki opini yang sama, bahkan mereka bisa menggulingkan Kepala Keluarga menjadi anggota keluarga biasa.

Itulah yang dipikirkan Shuro. Ia yakin adiknya bakal marah besar bercampur haru jika melihat posisi temannya sebagai kepala keluarga hampir digulingkan hanya karena menjaga janji mereka beberapa tahun yang lalu.

Tapi keluarga besar dari desa tingkat dua seperti Blackwood tak peduli akan hal seperti itu. Mereka sudah yakin bahwa gadis desa Badril bernama Bhela Malikh adalah sebuah mutiara berharga dan siap bermain kotor untuk mengklaimnya.

“Oh, apa Anda mengatakan kalau keluarga Yashura tidak berani menerima duel ini?” tanya Tuan Muda Blackwood dengan seringai yang menjengkelkan di wajahnya.

“Kami gak menjamu tamu sambil melakukan duel. Itu barbar namanya.”

“Kalau begitu bagaimana kalau duelnya dilakukan dalam waktu satu tahun. Tuan Muda ini yakin Tuan Muda Yashura sudah ‘berkembang’ saat itu.”

“Kami mohon untuk tidak membahas masalah ini lagi. Jika gak ada keperluan lain pihak Blackwood bisa meninggalkan tempat ini.”

Sepertinya Shuro sudah kehabisan kesabarannya. Keriput di dahinya sudah terlihat jelas dari biasanya.

“Haha, keluarga dari desa tingkat tiga berani mengusir keluarga ningrat dari desa tingkat dua. Tuan Muda bertanya-tanya bagaimana reputasi Tuan Jhuro Yashuro ke depannya setelah ini.”

“Jika keluarga Malikh masih berniat untuk bertamu, kami mempersiapkan penjamuan dan akan menjadwalkan pesta nanti malam. Silahkan masuk kalau begitu.”

Shuro sudah tak ingin menghiraukan Blackwood lagi.

“Shuro! Aku mohon tunggu sebentar!”

Sebuah suara tua terdengar kemudian. Seorang kakek tua berjubah biru dan memegang tongkat jalan muncul dari rombongan Malikh.

Ia adalah Tarin Malikh, salah satu Dewan Besar Keluarga Malikh.

“Kek Tarin, mau tunggu apa lagi? Kami sudah mempersiapkan makanan di dalam. Mengapa rombongan gak segera disuruh masuk semua? Aku yakin mereka semua sedang lapar sekarang.”

“Shuro, aku tahu janji ayah Bhela dan adikmu beberapa tahun yang lalu. Dan kami semua anggota keluarga Malikh pun sebenarnya ingin menghargai perjanjian tersebut. Tapi ya Shuro, melihat kondisi Shira belakangan ini membuat kami khawatir tentang masa depan Bhela. Takutnya Shira gak bakal bisa mengikuti perkembangan Bhela, dan kalau dia tertinggal jauh, apa gak bakal reputasi Yashura kena batunya juga nanti? Kami hanya ingin melihat perkembangan Shira. Kenapa harus menolak duel Tuan Muda Blackwood?”

“Hehe, Kek Tarin, gak perlu khawatir. Bukannya anakku bilang Shira bakal dapet kelas unik nanti? Itu gak bohong loh. Sembilan puluh sembilan persen aku jamin! Jadi gak perlu basa-basi lagi, ayo kita makan-makan dulu. Keburu dingin nanti!”

Tak ada keluarga Malikh yang bergerak mendengar ajakan Shuro Yashura. Tuan Muda Blackwood bahkan tak menyembunyikan dengusan meledeknya. Tarin Malikh hanya tersenyum masam di dekatnya.

“Shuro, aku tahu kamu yakin sekali sama Shira. Tapi aku khawatir kalau punya kelas unik saja gak bakal cukup...”

Shuro mengerutkan alisnya mendengar itu. Dua Dewan Besar Yashura juga melakukan hal yang sama di wajah mereka.

“Kalau memang begitu kejadiannya, bukankah Tuan Muda Blackwood juga gak pantas sama Bhela?”

“Setidaknya mereka mau membayar mahal biaya perkembangan Bhela.”

Tarin Malikh tak menyembunyikan fakta kalau mereka sudah disogok oleh Blackwood!

“Kakek bangke! Kalau situ datang kemari untuk menjilat Tuan Muda sampah itu, mending enyah dari sini!”

Suara teriakan Mila masih tak terbendung lagi. Shuro hanya tersenyum aneh mendengar itu, ia tak membentak anaknya karena tak sopan kepada orang yang lebih tua. Karena di dalam hatinya ia juga ingin berteriak demikian. Tapi karena ia adalah muka dari keluarga Yashura, lidahnya harus hati-hati berkata.

“Hah! Aku gak tau kenapa Yashura masih sombong mempertahankan anak sampah seperti itu,” Dewan Besar Malikh itu sudah tak bisa menahan amarahnya lagi. “Mau dua atau sepuluh kelas unik di keluargamu pun gak bakal bisa sederajat dengan keluarga Malikh sekarang!”

Tarin kemudian menyuruh seseorang untuk membawa panah untuk diberikan kepada Bhela.

“Sini, biar kuperlihatkan kepada kalian, tentang bagaimana perbedaan antara tanah dan langit! Bhela, lakukan skill yang baru kamu pelajari waktu itu. Biar baik-baik ini mengerti kalau mereka sudah tak pantas lagi menyederajatkan diri dengan kita!”

Bhela hanya mengangguk sambil menarik empat anak panah sekaligus dari quiver yang dipegangi oleh orang suruhan Tarin.

Gerakan tangan putih yang lembut itu masih sedikit kikuk menaruh empat anak panah dan menariknya sambil mengarahkan ke arah langit. Orang-orang hanya diam dengan memperhatikan gerakan gadis itu dengan teliti.

Ia tak langsung melepaskan jemarinya dari tali panah. Ia menarik napasnya dalam-dalam, dan aliran mana-nya bergerak dan menciptakan cahaya berbeda di empat kepala anak panah itu.

Merah api. Biru air. Kuning listrik. Dan putih angin.

Para petarung dengan pengalaman terkejut melihat itu. Sedang orang-orang biasa hanya memicingkan mata serius karena tak begitu mengerti tentang empat warna itu.

“Apa itu bakalan seperti yang ane kira?”

“Heh, jangan bercanda. Gak mungkin lah...”

Banyak dari mereka yang mulai berbisik-bisik melihat cahaya itu. Mereka punya spekulasi masing-masing, dan saling membantah spekulasi satu sama lain.

Sedang para penonton saling tak percaya tentang skill yang akan dikeluarkan Bhela, gadis itu terus menyalurkan mana-nya ke anak panahnya. Cahaya semakin terang, dan sepertinya masih ada banyak ruang untuk mengeluarkan kekuatan skill yang sesungguhnya.

Beberapa detik kemudian, wajah Bhela terlihat pucat. Keringat bercucuran di keningnya bercampur dengan bedak di wajahnya. Semua orang bisa melihat energi mana gadis itu hampir diserap kering oleh skill anak panah dengan empat warna itu.

“Blooming... Four Color... Flower Shot!” bisik Bhela pada dirinya untuk merapal nama skill itu.

Kemudian ia melepaskan jemarinya dari panah. Semua orang bisa merasakan riak energi mana yang ikut terlepas bersamaan dengan skill itu. Seorang petarung yang cukup jeli bisa tahu bahwa riakan mana seperti itu terjadi karena mana yang bocor tak semua di serap oleh Bhela. Itu bisa menjelaskan kalau pengguna belum bisa menguasai skillnya, atau skill itu sendiri terlalu kuat untuk dikendalikan seorang pemanah dengan kekuatan di sekitar level 10.

Anak panah yang di lepaskan Bhela melesat ke arah langit. Kecepatannya jauh lebih pelan daripada anak panah yang dilepaskan dengan cara biasa. Tentu itu karena keempat anak panah itu membawa energi mana dan mendapatkan tekanan. Dan selang satu-dua detik, empat anak panah itu tertelan oleh cahaya yang dibuat oleh mana Bhela.

Itu membuat panah itu berubah wujud seperti siluman:

Warna merah berubah menjadi semburan api.

Warna biru berubah menjadi tekanan air.

Warna kuning berubah menjadi aliran listrik.

Dan warna putih berubah menjadi tiupan angin.

Pemandangan empat warna itu membuat orang-orang terkejut lagi. Banyak para petarung yang memiliki spekulasi liar sebelumnya hampir melompat mendapati spekulasi mereka benar-benar terjadi.

“Empat... empat element!”

“Cewek itu bisa mengeluarkan empat element! Bukan sulap bukan sihir! Tapi empat element betulan!”

“Dual elemental aja bisa bikin terkenal! Bukannya kalau empat element itu cuma mitos belaka?!”

“Cepet! Cepet! Siapa yang kelasnya Specialist di sini? Coba lihat statusnya!”

Mereka yang memiliki kelas Specialist kemudian dikerumuni orang gerombolan orang-orang yang penasaran. Jangankan untuk mengeluarkan skill ‘Status Window’, bahkan bernapas pun mereka kesusahan.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, jangan buat kekacauan. Baris yang manis. Aku Baront Staterwind datang jauh-jauh dari sekolah Blue Diamond juga penasaran tentang status gadis desa ini. Mengapa kita tidak melihatnya bersama-sama?”

Mendengar nama Baront Staterwind dan sekolah Blue Diamond, seseorang dari kerumunan yang kacau itu berteriak:

“Baront Staterwind! Aku tahu nama Staterwind! Instruktur dari sekolah Blue Diamond, Tier-2 Specialist, kata orang dia sudah level 42!”

“Hah, yang bener?!”

“Oh Tuan Staterwind, apa benar Anda sudah menjadi Tier-2 Specialist? Apa Anda bisa membuat banyak ‘Status Window’ agar kami semua bisa melihat status Bhela Malikh ini?”

“Tentu, tentu! Tapi jangan rusuh, balik ke tempat semula. Aku bakal membuat satu ‘Status Window’ untuk setiap orang yang ada di sini.”

Kemudian cincin yang ada di tangan pria bernama Baront Staterwind itu menyala. Ia tak merapal nama skillnya, menjelaskan ia sudah fasih dan sangat berpengalaman sehingga skill itu sudah menjadi bagian dari instingnya.

Seseorang yang tak perlu merapal nama skill saat mengeluarkannya bisa dibilang adalah seorang ahli!

Tak lama kemudian, cahaya yang membentuk layar muncul di hadapan semua orang. Huruf-hurufnya terbentuk lebih lama daripada ‘Status Window’ biasa, tapi melihat seberapa banyak layar status yang dibuat, orang-orang tak berhenti menjadi takjub melihat kemampuan Staterwind ini.

Hampir tiga puluh detik kemudian, layar-layar itu menjadi komplit dan informasinya pun terlihat jelas:

“Empat elemental affinity! Pantes aja!”

“Ampun! Punya dua elemental affinity aja bakalan terkenal. Tiga elemental affinity dijamin jadi pahlawan level tinggi! Tapi kalau empat elemental affinity...”

“Bahkan di benua Soritudh gak ada yang punya empat elemental affinity! Cewek ini cuma satu-satunya! Paling langka!”

Semua orang terkejut dan takjub melihat status Bhela. Termasuk orang-orang dari keluarga Yashura. Bisa terlihat ekspresi aneh di wajah Mila yang mengata-ngatai Bhela tadi. Dewan Besar dan Kepala Keluarga Yashura hanya bisa menyembunyikan wajah mereka sambil tersenyum masam.

Sedangkan Shira masih tetap tenang melihat layar status di hadapannya. Ia bisa merasakan Arwah Baik Hati yang mengintip dari belakangnya.

“Heeehhh, empat element ya... ini baru kedua kalinya aku dengar. Yang pertama sudah lama sekali, itu pun aku baca dan sudah jadi sejarah. Maaf ya bocah, tapi melihat situasinya, kamu gak bakal bisa sederajat sama cewek ini. Sayang sekali, hiisshh! Padahal cakepnya bukan main!”

Shira tak menghiraukan suara Arwah Baik Hati. Ia hanya melihat ke arah layar status itu, kemudian menoleh ke arah Bhela Malikh. Dan ia mendapati gadis itu sedang menatap ke arahnya.

Mereka berdua saling menatap mata masing-masing untuk beberapa saat.

“Jangan mengejarku,” begitulah pesan yang Shira dapat ketika melihat pancaran di mata Bhela.

Lalu suara arogan Tarin Malikh terdengar dan membangunkan mereka.

“Lihat kan? Hmm? Sekarang mau bilang apa? Kok pada diem? Hmmm? Gak pada bacot lagi?”

“Kek Tarin, tidakkah ini cukup? Sepertinya Anda terlalu berlebihan memamerkan kekuatan Adik Bhela,” kata Tuan Muda Blackwood dengan wajah tertekuk.

“Saya minta maaf, Tuan Muda. Tapi kalau gak begini, Yashura sialan itu gak bakal berhenti berkoar dan merendahkan status keluarga Malikh dan juga Tuan Muda!”

Tuan Muda Blackwood pun geram ketika dikatai Mila tadi. Jika Tarin bersikap arogan memamerkan Bhela di depan ratusan penonton, maka biasanya Tuan Muda Blackwood lebih arogan lagi. Ia adalah tipe yang menghambur-hamburkan uang hanya untuk membuat orang lain tahu bahwa dompetnya masih lebih tebal lagi. Tapi khusus hari ini, ia jelas terlihat tak puas melihat sikap semberono Dewan Besar Keluarga Malikh ini.

“Haha, empat elemental affinity, bagus... bagus...” Baront Staterwind berkata pada dirinya sendiri sambil mengelus-elus dagunya dan melihat ke arah Bhela Malikh. “Pantesan Kepala Sekolah menyuruhku datang kemari untuk melihat-lihat. Ternyata dapet koin emas di pinggir jalan. Jadi tentang pertunangan ini, sepertinya Blackwood sudah gak sabaran buat nikung cewek dari keluarga Malikh ini."

Baront terlihat sangat puas. Senyum mengembang sangat lebar di wajahnya.

“Aku gak menyangka ada manusia yang memiliki aura sehebat ini!” sebuah suara menyeru terkejut di benak Baront, seseorang mengirimkan pesan mental kepadanya. Ia berkedip-kedip mendengar suara itu. Sudah lama ia tak mendengar kabar dari si pemilik suara.

“Kamu sudah bangun?” Baront berkata dalam hati, tetapi pemilik suara tadi bisa mendengarnya. “Kita dapat harta karun sekarang. Cewek dari Keluarga Malikh itu bakal membuat benua ini heboh. Pantas saja lah aura-nya bakal hebat begitu!”

“Bukan cewek itu yang kumaksud.”

“Eh?”

“Lihat anak muda yang berdiri di barisan paling depan Keluarga Yashura itu?” tanya suara tersebut dengan nada serius.

“Yang itu? Kalau gak salah namanya Shira Yashura. Aku dengar-dengar sedikit gosipan orang talentanya benar-benar cacat. Umur 15 masih di level 3.”

“Jangan meremehkannya. Aura anak itu benar-benar mengerikan. Aku gak pernah ketemu orang dengan aura seperti itu!”

Baront mengerutkan dahinya. Ia menjadi penasaran. Lalu ia memutuskan untuk mengecek status Shira diam-diam.

“Status Window!”

Ia melihat status Shira yang tak lazim. Dodge Rating-nya sangat ganjil, normalnya tak bervariasi seperti ini. Kemudian ia melihat ke arah elemental affinity-nya, mendapatkan afinitas elemen sebelum mendapatkan kelas adalah ciri-ciri kelas unik.

Belum ia mencerna informasi dari layar ‘Status Window’ di depannya, suara panik terdengar di benaknya:

“Apa yang kamu lakukan! Cepat hapus ‘Status Window’ itu!”

Dengan tergesa-gesa Baront langsung memadamkan layar di depannya. Baru saja ia ingin bertanya ada masalah apa kepada suara tersebut, tiba-tiba Baront merasakan seseorang melototinya dingin.

Baront menoleh. Ia melihat arwah pria mengenakan baju kulit yang tengah mengawasinya lekat-lekat. Mata arwah itu terlihat biasa saja tapi tatapannya terasa seperti seorang pemburu yang tengah melihat ke arah kelinci buruannya.

Tak sadar Baront menelan ludahnya.

“Baront! Coba kamu rekrut anak muda yang namanya Shira itu! Aku yakin potensinya jauh lebih besar dari gadis Yurin itu. Aku mau tidur lagi, semoga berhasil!”

Suara di benaknya tak terdengar lagi. Banyak orang di dekatnya yang terkesima oleh kekuatan Bhela Malikh. Rasa kagum dan takjub tergambar di wajah mereka. Hanya Baront Staterwind yang mukanya memucat seputih kertas.

Loading...