C5: Gunung, Laut, dan Langit Menunggu

Chapter 5: Gunung, Laut, dan Langit Menunggu

Siang itu sangat cerah di kediaman Blackwood. Gerbang besar setinggi sepuluh meter yang biasanya tertutup rapat khusus hari ini lebar terbuka menyambut para tamu yang datang.

Mereka adalah tamu dari keluarga bangsawan yang memiliki derajat yang sama dengan keluarga Blackwood. Ada pula keluarga yang memiliki darah keturunan kerajaan datang dengan kereta besar yang ditarik dengan empat kuda. Dua belas Knight berbaju zirah perak mendampingi kereta itu yang memiliki level rata-rata di atas 35. Untuk memiliki dua belas pengawal dengan level setinggi itu, menjelaskan kekuatan mereka tak bisa dipandang sebelah mata.

Hari ini adalah ulang tahun ke empat belas Lyla Blackwood. Gadis cantik yang mencuri hati banyak pemuda keluarga bangsawan lain. Laki-laki berusia tujuh belas sampai dua puluhan bergantian menaruh kado ulang tahun untuk gadis pujaan mereka itu, mencoba untuk memamerkan seberapa berharga dan sulit dicarinya kado yang mereka berikan.

Mereka selalu mencoba memulai percakapan dengan senyum besar di wajah mereka. Tapi gadis itu selalu menghindari kontak mata. Entah bertemu dengan pemuda yang tak segan menyembunyikan sorotan mata penuh nafsu atau pun dengan yang bersikap baik dan sopan, Lyla selalu mencari cara untuk menghindari mereka. Berhadapan dengan para pemuda kaya yang ingin mendekatinya seperti ini, yang ia harapkan hanyalah bersembunyi dalam kamar seorang diri.

Berbeda dengan kepribadian kakak laki-laki dan dua kakak perempuannya, Lyla adalah pribadi yang pemalu dan introvert.

“Bibi Jiji, dimana Kak Bhela? Dia sudah janji menemaniku hari ini. Tapi aku gak melihat wajahnya,” tanya Lyla kepada seorang pelayan tua.

“Nona Muda, tamu dari keluarga Malikh sudah datang, tapi Tuan Besar tak mengizinkan mereka berbaur dengan tamu. Mohon Nona Muda bisa bersabar.”

Lyla terlihat sangat kecewa sekali. Di dalam hatinya, ia hanya memiliki satu orang saja yang ia anggap sebagai teman dekat. Ia adalah seorang gadis yang muncul dari desa tingkat ketiga beberapa tahun yang lalu, Bhela Malikh.

Gadis desa itu terlihat dingin dan arogan. Tapi hanya orang-orang terdekatnya saja yang akan menemukan sisi kehangatannya.

Sejak awal Lyla sebagai pribadi yang polos dan murni bertemu dengan Bhela, ia merasa sangat nyaman. Begitu juga dengan Bhela. Sekarang ia sudah menganggap Lyla sebagai adik kandungnya sendiri. Setiap kali Dewan Keluarga Malikh membawanya ke kediaman Blackwood untuk berkunjung, ia selalu menghabiskan waktu bersama dengan Lyla. Orang lain di keluarga Blackwood hanyalah orang asing baginya.

Bahkan pemuda yang menggandeng tangannya satu setengah bulan yang lalu di depan kediaman keluarga Yashura, ia hanya tahu bahwa pemuda itu adalah anak ketiga dari keluarga utama Blackwood dan kakak dari Lyla. Seorang pemuda arogan, manja, selalu mengandalkan kekuatan keluarganya untuk mendapatkan yang ia inginkan, seorang pemuda bernama Frane Blackwood.

Dan sekarang Bhela, yang awalnya berniat untuk berada di samping Lyla selama acara ulang tahunnya, malah dikurung di sebuah ruangan bersama dengan dua kakek Dewan Keluarga Malikh yang mendampinginya.

Hal itu membuat Lyla kesal sekali. Setelah acara ulang tahunnya ini, ia bertekad untuk protes kepada ayahnya lalu tak akan berbicara dengannya lagi selama satu bulan.

“Apa gara-gara kejadian pas di keluarga Yashura waktu itu?” Lyla mengerutkan senyum masamnya sambil mengingat satu setengah bulan yang lalu. Satu-satunya kakak laki-lakinya, Frane Blackwood, pulang dengan wajah kesal. Malam itu Frane menceritakan kepada ayahnya kalau seorang Dewan Besar Keluarga Malikh menyuruh Bhela untuk memamerkan kelas uniknya di depan umum. Hal itu memicu amarah ayahnya.

Frane awalnya mengira Dewan Besar itu sudah mendapat ijin dari ayahnya, dan pada saat itu ia tak melakukan apa-apa. Awalnya ia hanya ingin memprovokasi Shira untuk berduel dan mengalahkannya, menyatakan di depan umum bahwa ia ‘lebih’ pantas bersanding dengan Bhela Malikh.

Bahkan itu adalah sandiwara, Frane tak berani terlalu banyak membuat kegaduhan. Yang Blackwood butuhkan hanyalah memberikan alasan untuk para Dewan Keluarga Malikh yang masih netral untuk menekan kepala keluarga mereka dan membubarkan pertunangan. Tapi tak ia sangka di depan keluarga ningrat yang memiliki hubungan dengan bangsawan kerajaan para rakyat jelata seperti Yashura itu berani arogan mencaci makinya.

Kemudian ia pun kehabisan akal untuk memancing orang-orang bermulut binatang itu. Sebelum ia pergi ke sana, ayahnya sudah berpesan untuk tidak sama sekali memancing perhatian yang berlebihan, terutama tentang Bhela.

Tetapi seorang kakek tolol maju dan membeberkan semuanya seperti ember bocor. Sekarang hampir semua orang tahu bahwa ada seorang gadis muncul dengan kelas unik dengan empat elemental affinity.

Hampir separuh fraksi yang memegang kekuasaan di benua Tiramikal mencari tahu tentang gadis bernama Bhela Malikh ini. Tuan Besar Blackwood dibuat pusing karenanya. Kalau saja bukan karena ia sudah menanam pengaruhnya di antara Dewan Keluarga Malikh beberapa tahun belakangan ini, sudah pasti Bhela diserobot oleh keluarga yang lebih kuat dari Blackwood.

Itulah mengapa Bhela disembunyikan oleh Tuan Besar Blackwood sekarang.

Dan akhirnya, Frane sendiri yang kena batunya. Sampai sekarang ia dikurung di dalam rumah untuk melakukan latihan serius yang didampingi instruktur yang didatangkan langsung dari kamp militer yang khusus menangani bibit Knight berbakat.

Ayahnya bilang ia harus prima untuk tampil di duel melawan Shira setengah bulan yang akan datang. Karena ia merasa situasi ini tak sesederhana seperti sebelumnya.

Benar saja, saat Bhela selesai memamerkan skill set kelas uniknya waktu itu, Shira berbicara keras untuk pertama kalinya di depan umum. Ia menerima duel Blackwood, tetapi berhubung karena dia masih level 3, ia meminta waktu dua bulan untuk bersiap-siap. Waktu itu banyak penonton dan penduduk Desa Badril yang berpendapat Shira terpaksa menerima duel itu agar keluarganya tidak menanggung malu berlebihan. Juga dengan sia-sia ingin membuktikan dirinya layak untuk gadis dengan kelas terunik generasi ini. Bahkan dengan persiapan waktu dua atau dua puluh tahun pun, sampah seperti Shira ini tak akan bisa mendapatkan kualifikasi untuk menjadi tunangan Bhela lagi.

Tapi mereka tak tahu, dalam waktu satu setengah bulan ini, hampir tak ada yang melihat sosok Shira di kediaman Yashura.

Shira yang awalnya senang bermalas-malasan kini memiliki motivasi untuk memperkuat dirinya.

Sejak subuh sekali pemuda berusia lima belas tahun itu keluar saat udara benar-benar lembap dan dingin sekali. Di belakangnya, ada arwah yang mengambang mengikuti.

Waktu seperti itu sangat efektif untuk melatih fisik dan membentuk bulatan mana petarung dengan water elemental affinity. Bersama dengan Arwah Baik Hati, Shira pergi ke sungai untuk melatih gerakan kakinya di aliran air sungai yang dangkal dengan pijakan berbatu kerikil.

Yang hanya ia lakukan hanyalah melatih kuda-kuda saja sambil latihan pernapasan sambil berdiri di atas air mengalir. Sebuah latihan untuk orang awam, begitulah kelihatannya jika yang melihat tak tahu dengan nama skill pasif ‘Water Flowing Style’.

Hampir semua orang tak tahu, pemanasan untuk melatih ‘Water Flowing Style’ adalah untuk memadatkan bulatan mana di dalam tubuhnya dengan energi yang disebut Yin dalam filosofi Taoisme. Untuk menyerap energi Yin cukup hanya dengan melakukan latihan pernapasan, namun besar-kecilnya energi yang diserap tergantung dari gerakan untuk mencerna energi tersebut di dalam tubuh. Ada beberapa gerakan khusus yang sangat efektif untuk mencerna energi Yin ini, dan latihan ‘Water Flowing Style’ adalah salah satunya yang tak banyak diketahui orang.

Di wilayah Desa Badril ini, energi Yin terpadat muncul di daerah sungai yang hampir kering dan hanya pada saat matahari belum terbit saja.

Arwah Baik Hati menjelaskan energi Yin ini dengan “energi kung fu” dan sangat cocok untuk melatih skill-skill “silat” miliknya, termasuk ‘Water Flowing Style’. Energi Yin, jika dileburkan menjadi energi murni untuk membentuk energi mana, maka akan menciptakan energi berafinitas air. Jika ada petarung yang menyerap energi Yin ini namun memiliki elemental affinity dalam bentuk fire, lightning, atau pun wind, maka energi murni tersebut kehilangan separuh dari kekuatan aslinya karena si petarung tak bisa menyerap energi air tersebut. Hanya petarung dengan water elemental affinity yang diuntungkan oleh energi Yin seperti ini.

Dan oleh karena itu, menurut hukum alam yang berlaku, jika seorang tanpa elemental affinity menyerap energi Yin yang cukup banyak, maka secara tidak langsung orang itu akan membentuk water elemental affinity dalam tubuhnya.

Ini adalah kejadian yang sangat langka. Karena tak banyak yang mampu menyerap dan mencerna energi Yin seperti yang dilakukan Shira.

Hal ini membuat salah paham orang yang melihat statusnya. Mengira elemental affinity yang muncul sebagai pertanda untuk terbukanya akses ke kelas unik.

Arwah Baik Hati tahu tentang hal ini, walau tak mengerti secara teknis tentang energi Yin dan hukum alam lainnya. Dari pengalamannya, ia tahu ‘Water Flowing Style’ sangat berhubungan dengan water elemental affinity. Dan dari pemahamannya tersebut jika seseorang melakukan latihan ‘Water Flowing Style’ sebelum ia membentuk elemental affinity, seperti Shira, maka ada kesempatan untuk melatih skill ini ke tingkat tinggi sampai menjadi bentuk skill yang sesungguhnya. Tentu saja bentuk skill asli ini adalah ‘Liquid Dragon Flowing Style’, salah satu skill legendaris yang hanya ia dengar dalam dongeng dan buku cerita saja.

Kuda-kuda yang Shira latih berbeda dengan kuda-kuda khas Yashura yang stabil, padat, dan kuat. Gerakannya terlihat malas dan pijakan kakinya terlihat tak bisa mencengkeram tanah, setiap saat bisa saja terpeleset dan jatuh begitu saja. Tapi ia masih berdiri dengan kuda-kudanya yang canggung sambil melakukan latihan pernapasan.

Jika diperhatikan baik-baik, setiap gerakan yang terlihat sembrono dan malas ini sebenarnya sangat licin sekali. Setiap ayunan dan entakkan mengeluarkan hawa yang lemah sampai-sampai tak dihiraukan oleh angin. Lama kelamaan, gerakan tersebut membaur dengan alam. Hampir tak membuat riak sama sekali di air sungai dan hampir tak menggesek udara dingin subuh itu. Shira yang sedang melatih skill pasif ‘Water Flowing Style’-nya perlahan-lahan bergerak seperti hantu.

Setiap kali ia melakukan gerakan kuda-kuda ini, sedikit sekali energi Yin yang bocor setelah dicerna.

Arwah Baik Hati sangat terkejut ketika melihat hal ini, karena ketika ia melatih skill ini dulu saat ia hidup gerakannya tak seefektif gerakan Shira. Hal itu membuatnya iri, sekaligus gembira. Karena sejak awal ia sudah berencana untuk mengambil alih tubuh Shira setelah ia berkembang nanti.

“Mana sphere dalam tubuhnya sudah padat betul dilapisi oleh energi kung fu. Mungkin dalam sepuluh hari ‘Water Flowing Style’-nya bakal naik ke level 3,” saat Arwah Baik Hati berpikir demikian, ia hanya tersenyum aneh. “Jadi kemarin-kemarin pas dia level up skillnya dalam waktu satu tahun... dia masih belum serius.”

Perasaan Arwah Baik Hati tentang Shira mendapatkan ‘Liquid Dragon Flowing Style’ semakin lama semakin menguat. Sampai-sampai sekarang ia yakin kalau anak muda lima belas tahun ini adalah reinkarnasi dari seorang petarung ahli yang telah menguasai skill legendaris itu di kehidupan sebelumnya.

“Anak ini semakin lama semakin menggila! Beruntung levelnya nyangkut. Kalau levelnya juga ikut ngebut berkembang bisa-bisa nanti aku yang kesusahan merasukinya...”

Setelah matahari terbit dan energi Yin mulai berkurang, Shira pindah ke arah bukit tempat biasanya ia menyendiri. Ia memilih pohon yang rindang dengan tanah yang kering, duduk bersila di sana, dan mulai menutup mata untuk bermeditasi. Ia selalu melakukan hal ini setiap hari sampai matahari terbenam. Mencoba mencari petunjuk untuk memahami lebih lanjut ‘Water Flowing Style’-nya dalam kondisi meditasi.

Saat ia menutup matanya, perlahan-lahan ia mendengar lagi suara orang tua misterius yang ada di kepalanya.

Kali ini orang tua itu hanya tertawa terbahak-bahak. Seperti tak memiliki beban duniawi, orang tua itu melepas tawa bahagia selama dua jam penuh. Kemudian ia terdiam, mulai berbicara hal tak masuk akal dan tak bermakna seperti merapal mantra tapi Shira tahu itu bukanlah mantra betulan.

“Saat kabut ungu turun untuk membawa karma, dia akan diberi pilihan. Hidup dalam dunia buatannya, atau mengubah nasib dunia ini dengan tangannya... BUNUH! BUNUH! BUNUH! Hanya dengan membunuh dan menguatkan hati guna menerima fakta bahwa ia akan mewarisi hukum karma dunia ia akan tumbuh! Hanya itu caranya ia bisa melewati ujiannya! BUNUH! BUNUH! BUNUH! Hahahahaha! Dunia ini tak membutuhkan seorang kaisar pengecut yang tak berani membunuh! BUNUH MEREKA YANG MEMBUATMU MARAH! LEPASKAN AMARAHMU! LUAPKAN MURKAMU! BUNUH! BUNUH! BUNUH! HAHAHAHA!!!”

Perasaan tak nyaman membuat bulu kuduknya merinding ketika mendengar suara itu. Shira tetap berusaha menjaga kondisi meditasinya. Ia membiarkan jiwanya tetap tenang dan membuang pikiran yang mengganggu. Lalu pelan-pelan ia mencerna ucapan orang tua itu lagi.

Dari luar terlihat Shira mengerutkan wajah, keringat bercucuran di keningnya. Ia bermeditasi dan menyelam dalam alam bawah sadarnya terlalu dalam, sehingga emosinya mulai terpengaruh oleh ucapan orang tua itu.

Jiwanya mulai goyah serta tak mampu lagi menjaga pikiran jernihnya selama meditasi tersebut.

Ia mulai mengingat mereka yang membuatnya marah. Orang-orang yang mengejeknya, walau selalu mengganggunya namun tak ada dari mereka yang sampai membuatnya murka. Kemudian dalam pikirannya ia melihat wajah arogan pemuda dari Blackwood. Dan ia melihat wajah malu pamannya dan amarah kakak sepupunya. Kejadian waktu itu satu-satunya yang membuatnya marah bukan main.

Perlahan-lahan, saat orang tua itu menggemakan kata “bunuh”, ia merasakan hawa membunuh muncul merasuki dadanya dan terasa menyesakkan. Tak lama kemudian, nafsunya untuk membantai dan menghapus keberadaan Blackwood dari tanah bumi ini semakin menguat... dan ketika hawa membunuh itu mencapai puncaknya, di dalam alam bawah sadarnya tiba-tiba ia berdiri di depan gerbang dan kabut tipis berwarna ungu melapisi gerbang tersebut.

Entah mengapa ia merasa di balik gerbang tersebut bersembunyi kekuatan besar yang menunggu hanya untuk diperoleh oleh dirinya seorang.

Kekuatan untuk membantai semua anggota keluarga Blackwood!

Kekuatan untuk membuat semua orang bertekuk lutut!

Kekuatan, yang sebanding dengan seorang kaisar!

Ia berjalan mendekati gerbang tersebut, nafsunya untuk menjadi kuat memberinya alasan untuk membuka gerbang tersebut. Walau pun ia tahu jika ia membuka gerbang tersebut maka jalan hidupnya akan menjadi jalan berdarah yang akan menjadikan musuhnya sebagai pengorbanan untuk kekuatan itu. Ia tak ragu untuk melangkah.

Tapi kemudian senyum kakak sepupunya terlintas di benaknya. Kemudian ia mengingat juga ayahnya yang melihat ke arah wajahnya dengan mata penuh harap. Ia mengingat pamannya yang tertawa puas ketika mendapati ia akan menjadi kelas unik beberapa waktu lalu. Ia mengingat wajah orang-orang di keluarga Yashura yang bersikap baik kepadanya.

Dan saat itulah ia mulai menghentikan langkahnya. Ada keraguan mengganjal di hatinya, dan hawa membunuh perlahan-lahan memudar dari dadanya.

“Ini salah. Mereka memang ingin melihatku menjadi kuat tapi mereka tak ingin melihatku menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang tak menghargai nyawa manusia! Jika itu terjadi, Kak Mila hanya akan menjadi kecewa. Ayah juga gak mengharapkanku menjadi seorang seperti itu. Semua orang akan takut kepadaku. Kekuatan sesuram ini, bukan itu yang kumau.”

Di saat ia menolak hawa membunuh itu, kesadarannya tertarik keluar dari alam bawah sadar. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk meneguhkan hati untuk tak berbalik dan melihat gerbang berkabut ungu itu lagi.

“Kenapa?! Kenapa?! KENAPA?!” orang tua itu berteriak di dalam kepalanya selagi ia tertarik keluar alam bawah sadarnya. “Tidakkah ia sadar kalau aku sudah lama menunggu? Tanah dan gunung sudah lama mengering karena menunggu! Danau dan laut menguap karena terlalu lelah menunggu! Juga awan dan langit...

“Mengapa ia terlalu pengecut untuk meraih karmanya sendiri? Tidakkah ia tahu bahwa dunia ini menunggu kebangkitannya? Tidakkah ia tahu bahkan ruang dan waktu sendiri tak berani membelenggu takdir dari seorang yang terpilih? Itu kekuatan dahsyatnya bukan main! Aku menunggu selama puluhan ribu tahun, hanya untuk melihat kalau yang terpilih adalah seorang pengecut! BAH!!!”

Shira hanya bisa tersenyum pahit. Ia tahu seseorang yang dimaksud oleh orang tua itu adalah dirinya.

Tapi yang hanya ia inginkan adalah hidup tenang bersama keluarganya. Ia tak ingin menjadi seorang yang terpilih dan memiliki kekuatan yang ditunggu-tunggu oleh langit dan kawan-kawannya. Kekuatan seperti itu adalah tanggung jawab yang terlalu besar baginya.

Jika ia menerima kekuatan seperti itu, ia tahu hidupnya akan penuh dengan masalah.

Kemudian, saat ia hampir keluar dari alam bawah sadarnya, muncul sebuah mata raksasa yang melihat ke arahnya dari gerbang tadi. Jantung Shira berhenti berdetak sesaat. Mata raksasa itu sudah berwarna merah darah dan memberikan rasa teror kepada Shira karena menatapnya dalam-dalam. Dari tatapan mata tersebut, ia merasakan ada kekuatan yang melihat ke dalam jiwanya. Sebuah kekuatan yang tak bisa diukur lagi dengan standar kekuatan di dunia jaman sekarang ini.

Mata itu seolah-olah ingin berbicara kepadanya. Lalu terdengar suara pelan dan penuh keyakinan, serta wibawa yang tak bisa diukur kedalamannya. Pemilik suara itu adalah orang tua yang selalu mengoceh di kepala Shira. Dengan tenang dan tanpa kegilaan seperti sebelumnya ia berkata:

“Kamu... akan kembali untuk mengambil karmamu! Kamu akan kembali untuk membuka gerbang itu dan mengklaim takdirmu...”

“Kamu... akan kembali dan bangkit menjadi Spirit Conductor!”

Loading...