C55: Mas Boy, Di Manakah Kau Berada?

Chapter 55: Mas Boy, Di Manakah Kau Berada?

“Anak itu membunuh seorang Tracker level 22? Apa kamu yakin?” tanya Sect Master Yeela kepada sosok berkain hitam di depannya.

“Shadow memang tak bisa memperhatikan dengan jelas dari dekat. Tapi Shadow bisa memastikan kalau Tracker itu sudah mati,” kata wanita berpenampilan misterius itu sambil mengeluarkan sebuah kain berisi abu.

“Apa itu?” tanya Bibi Niu Elang.

“Lapor kepada Bibi Niu Elang! Shadow mengambil sisa dari Tracker itu,” jawabnya.

“Shira melakukan ini?” tanya Sect Master lagi sambil mengangkat alisnya.

“Bukan. Shira membunuhnya dengan pedang. Setelah itu dia meninggalkan orang ini untuk menyelamatkan gadis Blackwood yang diculik. Yang membakar mayat Tracker ini sampai menjadi abu adalah Mage Tier 3 dari Keluarga Malikh.”

“Sepuh yang sedang menjadi rumor di desa itu? Seharusnya kekuatannya kira-kira sebanding denganku,” kata Sect Master. “Apa Mage itu yang membuatmu gak bisa leluasa mengamati Shira?”

“Kalau Mage itu saja Shadow gak akan ragu-ragu. Tapi ada dua orang yang membuatku waspada.”

“Siapa itu?” tanya Bibi Niu Elang.

“Beruntung Shadow sudah merekam aura mereka di kerang ini,” kata Shadow sambil mengeluarkan benda lain. Itu adalah sebuah item magic yang mampu merekam aura seseorang, seberapa tangguh pun mereka.

Sect Master mengambil kerang itu dari tangan Shadow dan mempersembahkannya kepada Bibi Niu Elang. Samar-samar ketika ia menyentuh item itu, ia bisa merasakan aura yang disebut oleh Shadow.

Ada tiga aura di dalam kerang itu. Satu aura, milik seorang Mage, sedikit lebih lemah dari aura yang ia miliki. Aura kedua kira-kira lebih tangguh dari pada Bibi Niu Elang, tetapi ia bisa merasakan samar-samar hawa membunuh yang tersembunyi. Aura seperti itu biasanya dimiliki oleh seorang petarung veteran yang telah membantai dan menumpahkan darah di masa lalunya, namun aroma darah itu sudah mengering sejak lama.

Sect Master Yeela tak terkejut ketika merasakan aura itu. Ia tahu aura tersebut adalah milik mantan Pendete Tinggi Moon Temple, Lharu Yashura.

Tapi yang membuat alisnya mengerut keras adalah aura ketiga. Ekspresi sama juga terlihat di wajah Bibi Niu Elang ketika merasakan aura itu.

“Kerang ini dibuat oleh kolaborasi Rune Master dan Specialist terbaik yang Purple Garden Sect miliki. Tapi tetap saja mereka manusia, apa mungkin mereka membuat kesalahan?”

Sect Master bertanya karena keraguan muncul di hatinya. Tapi Bibi Niu Elang menggeleng sebagai balasan.

“Gak ada kesalahan. Aura yang ditangkap kerang ini seharusnya akurat.”

Sect Master makin mengerutkan alisnya sampai dahinya berkeriput dalam. Ia kemudian menoleh ke arah Shadow dan berkata dengan nada pelan, “kamu memperhatikan gerak-gerik mereka sambil merekam aura mereka dengan kerang ini. Apakah kamu melihat rupa pemilik aura selain Mage dari Keluarga Malikh dan Pendeta Tinggi Moon Temple?”

Shadow menggeleng. “Maafkan Shadow, Sect Master. Shadow tak kompeten. Pemilik aura itu memiliki persepsi yang terlalu tajam jadi Shadow tak berani mendekat.”

“Bukannya kamu yang gak kompeten. Bahkan aku pun gak bisa lolos dari persepsi orang seperti ini,” kata Bibi Niu Elang menyahut.

“Lapor kepada Bibi Niu Elang dan Sect Master. Walaupun Shadow tak bisa melihat wujud orang itu tapi yang aura yang Shadow rekam selalu berada di udara.”

“Di udara? Maksudmu dia terbang?”

“Ya. Orang itu sama sekali tak menyentuh tanah semalaman.”

Bibi Niu Elang pun mengangguk mengerti. “Kupikir aku tahu siapa orangnya.”

“Bibi Niu Elang, bisakah Bibi menerangi kami?” pinta Sect Master.

“Saat ini di Benua Tiramikal, hanya beberapa orang yang memiliki kemampuan terbang. Tapi mana mereka gak akan bisa menahan tubuh mereka di udara semalaman. Yang hanya bisa melakukan itu hanyalah orang yang memiliki kemampuan berubah wujud. Mereka sangat langka sekali, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Dan kebetulan sekali, salah satunya kudengar tiba di Desa Badril beberapa hari lalu.

“Orang itu seharusnya Pangeran Edicha. Atau setidaknya itulah nama yang dia gunakan saat ini.”

“Pangeran Edicha?” mendengar itu Sect Master Yeela dan bahkan Shadow yang gelagatnya kaku pun menunjukkan keterkejutan mereka. Pangeran Edicha, seorang pangeran dari East Tiramikal Kingdom yang kekuatan kerajaannya tak seberapa bisa membuat Shadow tak berkutik?

“Tapi Pangeran Edicha masih muda. Mengapa dia bisa memiliki aura seperti ini?” tanya Sect Master masih dengan nada terkejut.

“Hanya karena tubuhnya muda, bukan berarti dia hanya hidup selama beberapa kian tahun.”

Shadow, ketika mendengar itu, karena penasarannya, ingin sekali bertanya kepada Bibi Niu Elang. Tapi statusnya di sini hanyalah pelayan. Jadi ia menunggu Sect Master untuk menanyakan hal itu kepada Bibi Niu Elang.

“Jadi maksud Bibi, Pangeran Edicha hanyalah tubuh yang dirasuki oleh seorang arwah?”

“Seharusnya begitu. Itulah kenapa aura yang ditangkap kerang ini berbeda dengan kondisi raganya,” jawab Bibi Niu Elang.

“Kalau dipikir lagi gerak-gerik Pangeran Edicha sangat mencurigakan,” kata Sect Master menimbang. “Kerajaan yang lain, bahkan Tatalghia Kingdom, semua datang untuk menyelidiki pilar cahaya di gunung Desa Badril. Tapi hanya Pangeran Edicha yang datang kemari gak melakukan apa-apa. Yang lebih mengkhawatirkan lagi dia menginap di kediaman Keluarga Yashura. Bibi Niu Elang, apakah bibi berpikir East Tiramikal Kingdom tahu tentang Shira dan sedang mengincarnya?”

“Lapor kepada Bibi Niu Elang dan Sect Master. Shadow juga mengira Pangeran Edicha sangat mencurigakan. Saat Shira mengejar para penculik itu, Pangeran Edicha mengikutinya dari awal. Itulah mengapa Shadow dan saudari-saudari yang bertugas mengawasi Shira tak mampu mendekat.”

“Apa Pangeran Edicha mengikutinya sebelum dia melihat Shira mengeluarkan kabut ungunya?” tanya Sect Master dengan nada genting.

“Dia melihat dari awal sampai akhir,” jawab Shadow.

“Bibi Niu Elang, kita seharusnya mengawasi pangeran itu juga! Mengapa Bibi tahu seorang seperti itu mendatangi Keluarga Yashura dan gak memberitahukan kami?”

Bibi Niu Elang membuka matanya yang sipit. “Karena aku yakin dia gak ada maksud buruk pada Keluarga Yashura. Tujuannya datang ke sini adalah untuk bertemu dengan Gyl, sama sepertimu. Dia datang ke sini bukan mewakili East Tiramikal Kingdom sebagai pangeran, melainkan sebagai Ketua Organisasi Liberators cabang Benua Tiramikal.”

Sect Master Yeela jadi mengerti apa maksud Bibi Niu Elang. Liberators adalah organisasi terselubung dengan visi dan misi misterius, beranggotakan orang-orang dengan identitas anonim. Kalau saja leluhur Purple Garden Sect bukanlah mantan anggota Liberators, barangkali Sect Master Yeela tak akan pernah mendengar organisasi ini.

“Ditambah lagi Pangeran Edicha memiliki sejarah khusus dengan Purple Garden Sect. Nama aslinya adalah Tilmian, atau lebih dikenal Myanmyan oleh orang-orang. Dia sekarang mungkin kelihatannya sedikit aneh, tapi sebenarnya dulu dia adalah wanita yang kecantikannya mampu membuat puluhan kerajaan berperang selama bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan kesempatan untuk menimangnya.

“Lagipula, walaupun dia punya niat buruk pada Keluarga Yashura, masih ada dua orang yang tinggal di keluarga itu yang bisa menahannya. Walau dari aura yang ditangkap kerang ini menunjukkan kalau dulunya dia sempat hampir mencapai level 200, tapi sekarang dia hanyalah merasuki tubuh seorang pangeran saja. Dia gak akan mampu melawan Pendeta Tinggi Moon Temple dan Yulong si Pelayan secara bersamaan.”

Masih di malam yang sama.

Tak jauh dari tempat Shira menyelamatkan Bhela dan Lyla, seekor kelelawar masih terbang dengan mata menyapu pepohonan dan semak belukar yang tersembunyi oleh sinar lembut bulan.

“Mas Boy, di manakah kau berada?” kata kelelawar itu dalam hati.

Sebenarnya dalam hati Pangeran Edicha sangat kesal. Ia mengikuti jejak aura yang ditinggalkan arwah Gyl dan malah berputar-putar di sekitar desa. Padahal ada urusan penting yang harus ia bicarakan.

“Dulu sewaktu kita bercama Mas Boy bilang cinta kita akan selamanya. Tapi kenapa pas akyu mendapatkyan tubuh yang kuidamkan Mas Boy mayah kabur~”

Tiba-tiba saja pangeran yang mengambil wujud kelelawar itu mendapatkan sesuatu. Samar-samar, di kejauhan yang tersembunyi, ia mendengar suara bisikan.

“Mas, ahhh, tangannya nakal...”

“Oh, Qianku, Mas sudah gak sabaran...”

“Mas! Ach! Qianku masih belum siap...”

Ada dua buah sosok yang bersembunyi di semak belukar. Samar-samar membuat berisik di malam yang sepi dan hening. Pakaian mereka sudah berantakan, tangan si laki-laki menari-nari liar di lekuk tubuh wanita muda dalam terkamannya. Melihat adegan itu, angin malam yang dingin langsung saja berubah menjadi panas.

Tiba-tiba saja, di belakang mereka, muncul sebuah sosok lain yang berjalan sambil meliak-liuk pinggangnya.

“Permisi maaf ganggu, Mas, Mbak. Apa tadi ngeliat ada arwah lewat?” tanyanya tiba-tiba.

Mendengar suara lain yang memanggil, sontak saja si wanita muda memekik nyaring karena terkejutnya. Cepat-cepat ia membereskan pakaiannya. Sedang si laki-laki, geram karena malam spesialnya dibuat berantakan, langsung mengeluarkan sebuah dagger.

“Siapa kamu?!” raung laki-laki itu. Wajahnya tampan dan dadanya yang terbuka dipenuhi dengan bulu. Lelaki jantan seperti ini, selalu membuat mata Pangeran Edicha berkilat-kilat.

“Idih mas gantengnya gak sabaran. Akyu cuman numpang lewat loh,” jawabnya dengan nada genit.

“Mas, ayahku gak boleh tau tentang hal ini.” kata wanita muda itu.

“Tenang, tenang. Aku akan mengurusi ini,” kata laki-laki itu. “Siapa pun kamu, ketahuilah kalau aku adalah anggota prajurit elite Urzial Kingdom. Kalau kamu gak mau keluargamu dimusnahkan, cepat tinggalkan sumpah untuk menjaga rahasia sampai mati!”

Dari mystic bag-nya, laki-laki itu mengeluarkan gulungan kertas berwarna hijau. Itu adalah kertas kontrak yang di mana jika orang dalam kontrak melanggar perjanjian, ia dan keturunannya akan dikutuk dengan kutukan mengerikan sampai-sampai tak sedikit dari mereka yang memilih melenyapkan diri mereka sendiri.

Tapi ketika Pangeran Edicha melihat itu, ia malah cekikikan sendiri dan melihat ke arah wanita muda yang tengah duduk di tanah.

“Kukira pernah dengar Qianku di mana gituuh~ Tenyatya Putri Qianku dari Urzial Kingdom. Akyu dengar-dengar Putri Qianku datang ke syini untuk bisa jayan-jalyan. Tapi rupanya cuma biar bica jalyan-jalyan bareng mas-mas ganteng toh.”

Mendengar itu, wajah Putri Qianku dan kekasihnya menjadi gelap padam.

“Oh, ya. Minggu lalu aku kecemu ayahmu, loh. Walaupun sudah beruban tapi badannya Raja Urzial masih roti sobek. Jadi kesengsem akyu!”

“Bunuh dia! Dia gak boleh hidup!” teriak Putri Qianku panik. Ia tak akan membiarkan saksi mata pergi begitu saja, apalagi yang mengenal ayahnya secara pribadi.

Tak basa-basi, laki-laki itu langsung menerjang. Tapi belum sempat ia menyentuh Pangeran Edicha, tubuhnya langsung menjadi kaku. Kakinya pun terpeselet dan ia tersungkur ke tanah.

“Idich, jahatnya. Akyu cuma nyapa aja langsung pada main bunuh-bunuhan. Idich idich!”

Pangeran Edicha jongkok di samping laki-laki itu. Ia pun membalikkan badan laki-laki itu supaya bisa melihat wajahnya.

“Kamu—Pangeran Edicha!” sahut laki-laki itu terkejut.

“Mas ganteng, jangan keyas-keyas ngomongnya. Itu Putri Qianku jadi atut loch.”

Laki-laki itu tak menoleh ke arah Putri Qianku. Ia masih syok melihat Pangeran Edicha sudah meraba-raba dadanya dengan tangannya yang tipis.

“Apa yang kamu lakukan?” teriak Putri Qianku. Ia tahu reputasi Pangeran Edicha. Semua pemuda desa bersembunyi ketika mendengar namanya.

“Putri Qianku, kamuh sudah nakal tapi akyu udah baik, loh, gak apa-apain kamuh. Tapi mas ganteng ini, harus kuhukum!”

Pangeran Edicha pun menurunkan kepalanya mendekat ke wajah laki-laki itu. Ia ingin meronta, tapi tak bisa bergerak. Ia pun hanya berteriak-teriak ketakutan.

Putri Qianku hanya bisa menganga melihat kejadian di depannya. Pangeran Edicha, dengan gerakan erotis, menempelkan bibirnya ke leher laki-laki itu.

Perlahan teriakan laki-laki itu memudar. Tubuhnya pun lesu tak bergerak lagi.

Saat Pangeran Edicha menaikkan kepalanya, sembunyi-sembunyi ia menjilati darah di sudut bibirnya sambil berbisik dalam hati, “darah mas-mas ganteng memang seger cyin!”

Sambil mengambil langkah mundur karena ketakutan, Putri Qianku tak melepaskan pandangannya dari kekasihnya sudah tergeletak tak bersemangat. Putri Qianku sudah banyak mendengar kata-kata orang tentang korban yang diculik Pangeran Edicha, semuanya menjadi loyo tak bersemangat lagi. Banyak dari mereka, bila memiliki pasangan, ditinggalkan wanitanya karena sama sekali tak memiliki semangat apa-apa. Dan ketika Putri Qianku melihat apa yang ada di depannya, ia tak bisa tak mempercayai rumor-rumor tersebut.

“Oh, ya! Akyu tadi lupa mau nanya. Apa Mbak Qianku lihat ada arwah ganteng lewat di sini?”

Dengan wajah pucat Putri Qianku menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Hmm. Orang biasa gak bisa melihat Mas Boy kecuali dia memperlihat diri,” gumamnya. “Teyus, apa pas sedang asyik-asyikan bareng mas ganteng, Mbak merasakan seperti ada arwah ganteng mesum yang mengawasi gituh?”

Putri Qianku menggeleng lagi.

“Hmm. Biasanya Mas Boy gak melewati acara seperti ini,” gumamnya lagi.

poof

Ia pun menjadi kelelawar lagi dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata tambahan.

Sedang, Putri Qianku tiba-tiba menjadi pusing. Tubuhnya kakinya menjadi lemah dan ia pun jatuh pingsan. Saat ini ia tak tahu kalau besok harinya, ingatannya serta ingatan kekasihnya tentang malam ini akan menghilang begitu saja.

Selama beberapa jam berikutnya Pangeran Edicha terbang mencari lagi. Ia tak menemukan siapa-siapa kecuali patroli yang berjaga di sekitar desa. Bila ia melihat patroli yang tampan, Pangeran Edicha langsung menerjang, dan orang yang berpatroli itu pun akan ditemukan lemas besoknya.

Malam pun berakhir, di sambut oleh biru gelap di langit tanda subuh menjelang.

Saat inilah angin malam sangat dingin.

Pangeran Edicha kembali ke kediaman Keluarga Yashura. Ia kembali ke wujud manusianya.

Di gerbang Keluarga Yashura, biasanya ada orang Yashura yang berjaga. Tapi khusus beberapa hari belakangan ini, prajurit elite East Tiramikal Kingdom yang berjaga untuk mereka.

Shuro Yashura, sebagai Kepala Keluarga Yashura, merasa sedikit janggal tentang permintaan pemimpin prajurit elite. Waktu itu ia mengingat kebiasaan Pangeran Edicha, ditambah rumor-rumor yang beredar di desa tentang para laki-laki yang ditemukan tergeletak lesu setiap pagi, ia memiliki ide tersendiri tentang permintaan aneh prajurit elite itu.

Apalagi ketika setiap malam para pelayan bergosip kalau Pangeran Edicha tak pernah berada di kamarnya.

Tapi Shuro tak bisa melakukan apa-apa tentang itu. Berhadapan dengan seorang pangeran kerajaan, ia lebih memilih untuk menjilat supaya bisa mendapatkan koneksi di keluarga kerajaan.

“Pangeran, Anda kembali,” sambut seorang prajurit berbadan kekar dan tampan.

“Mm. Aku pulang,” kata Pangeran Edicha.

“Apa Anda menemukan Gyl?”

“Gak! Kemana itu Mas Boy? Padahal Edicya punya berita penting buat diomongin!”

Pangeran Edicha berjalan masuk dan prajurit itu mengikuti dari belakang. Dengan gerakan tangan, ia memberi sinyal untuk prajurit lain untuk berganti menjaga gerbang.

“Cepat atau lambat, Gyl akan keluar. Aku yakin jika dia melewatkan kabar kalau lima tahun lagi Liberators dari tujuh benua akan mengadakan pertemuan, kesempatannya untuk menjadi pemimpin lagi akan hilang.”

“Itu pasti. Siapa suruh buru-buru jadiin bocah Yashura itu pemberontak? Itu mas-mas sama mbak-mbak dari benua lain jadi pada sabaran atut ketinggalan.”

“Kalau Gyl gak sempat merasuki tubuh anak itu, masih ada Nura Gilmour. Aku dengar banyak investor mulai meliriknya setelah berhasil menaklukkan Jhuro.”

“Oh, Jhuju sudah kalah?” tanya Pangeran Edicha dengan mata berkilat-kilat.

“Aku baru mendapat kabar terbaru tadi malam. Setelah berhari-hari ditekan, akhirnya Jhuro Yashura mati di tangan Nura.”

“Hoho, Jhuju yang malang. Semenjak informasi tentyang darah keturunan Yashura terbongkar, keluarganya kecemu bencana. Kacian, kacian... anaknya diincar sama si Mas Boy, teyus keluarganya yang bekerja jauh diam-diam di culik anggota Liberators yang lain. Sekarang, akhirnya dia mati di tangan sahabatnya sendiri. Ckckck, kalau aja dia gak keluar organisasi dulu, aku sudah mencalonkannya untuk pertemuan lima tahun mendatang. Gak bakal ada yang berani menyentuh keluarganya. Tapi sekarang beda. Ckckck, Jhuju yang malang.”

Loading...