C71: Teman Baru Keluarga Blackwood

Chapter 71: Teman Baru Keluarga Blackwood

Kondisi Frane Blackwood sangat memilukan.

Bajunya sudah terkoyak sayat pedang dan darah ada di mana-mana. Di arena duel pun pegawai balai desa sedang membersihkan lantai dari darahnya. Walau serangan dan metode Shira terlihat mengerikan, tetapi bukan berarti sekarang Frane benar-benar dalam situasi gawat.

Hanya dengan beberapa botol ramuan khusus dari seorang Alchemist Tier 2, Frane akan pulih dalam waktu satu jam walau badannya akan sedikit lebih lemas dari pada biasanya.

Jadi pihak Desa Badril memberikan waktu istirahat untuk penonton. Dua jam lagi, babak ketiga dan yang terakhir akan kembali di laksanakan.

Saat ini, di tenda yang disediakan Desa Badril untuk tempat istirahat Keluarga Blackwood.

Frane sudah siuman. Tetapi masih terkulai lemah di sebuah ranjang yang keras. Seorang pelayan muda Keluarga Blackwood sedang membalut lukanya dengan perban.

Di tenda itu, berdiri Alex Blackwood. Ia hanya mempertahankan sikap berdiri yang tegak dan tak berbicara apa pun. Tak jauh dari tempat berdirinya, duduk seorang pria paruh baya yang keningnya mengerut dalam sekali; Tuan Besar Blackwood.

“Keluarga Yashura... mereka akan menyesali hari ini,” desis Tuan Besar Blackwood. Wajahnya berminyak dengan keringat, matanya pun tajam menatap ruangan kosong.

Masih, Alex Blackwood terdiam mendengar ucapan tuannya.

Pada saat itu juga, muncul dua sosok masuk ke dalam tenda. Satu orang adalah seorang pria yang gelagatnya persis seperti seorang pejabat yang suka menjilat atasannya. Sedang yang lain adalah gadis kecil empat belas tahun, yang selalu memeluk bola berbulu ungu ke mana pun ia pergi.

Gadis itu adalah Lyla Blackwood. Ia menginap di Keluarga Malikh sebelumnya, dan kini ketika keluarganya datang ke Desa Badril, mau tak mau ia harus menghadap mereka.

“Lyla, dari mana saja kamu? Kalau keluargamu datang seharusnya kamu menyapa dari tadi!” bentak ayahnya marah.

Lyla Blackwood tak menjawab, menenggelamkan wajahnya di bulu Momon karena ketakutan.

Suasana hati ayahnya sangat kacau sekarang. Walau di rumah Lyla selalu dimanjakan, tapi ia tahu sekarang waktu yang tak tepat untuk berperan sebagai anak kesayangan.

“Sialan Keluarga Malikh itu. Sudah banyak menerima sogokan dari kita mereka tiba-tiba bersikap sombong seperti itu,” gerutu Tuan Besar Blackwood mengingat kejadian tadi.

“Apa boleh buat, Tuan Besar. Tiba-tiba saja ada seorang nenek di Keluarga Malikh yang pulang setelah seratus tahun lebih bekerja di luar,” kata pria yang datang bersama Lyla dengan suara tak bersemangat. “Mereka bahkan sudah kaya sekarang. Aku melihat banyak generasi muda Keluarga Malikh yang tiba-tiba mendapat banyak scroll attribute dan ramuan yang mahal, bahkan lebih mewah ketimbang yang bisa dikonsumsi anggota keluarga kita.”

Mendengar itu Tuan Besar Blackwood semakin buas. “Kenapa kamu gak lapor dari kemarin-kemarin?”

“Nenek yang baru pulang itu mengawasiku. Namanya Nenek Sari, dia adalah seorang Mage Tier 3! Makanya aku gak berani berbuat macam-macam di Keluarga Malikh,” kata pria itu dengan nada tak bisa berbuat apa-apa.

“Mengirim surat ke keluargamu apa mereka melarangnya?”

“Tuan Besar, Anda belum pernah bertemu dengan Nenek Sari dari dekat. Dia memang orangnya baik dan ramah kepada orang-orang di dekatnya. Tapi kepada orang asing sepertiku, dia mengeluarkan aura mengintimidasi yang sangat pekat. Orangnya serem sekali.”

“Jadi karena itu kamu ketakutan?”

Pria itu hanya mengeluarkan tawa dangkal mendengar pertanyaan Tuan Besar Blackwood. “Tuan Besar, ketika Nenek Sari mengancam, aku bisa merasakan dia bakal melakukan hal yang lebih mengerikan daripada ancamannya. Orangnya seserem itu.”

Tuan Besar Blackwood tak berkomentar apa-apa. Jadi pria itu lanjut berkata:

“Nenek Sari berpesan kepada Tuan Besar, dia akan mengembalikan hutang Keluarga Malikh dalam waktu dekat. Juga sekalian dia bakal menarik hutang Blackwood setelah macam-macam dengan cucunya Ghalim.”

“Nenek Sari adalah Mage Tier 3, apa kamu punya informasi lebih banyak?” tanya Alex Blackwood dari samping.

“Tuan Alex, aku mendengar dia adalah Mage dengan elemen afinitas api. Level-nya kira-kira di sekitar 80an. Katanya dia adalah pensiunan Sepuh fraksi dari desa tingkat satu.”

Mendengar keluarganya baru saja mendapat musuh sekuat itu, wajah Tuan Besar Blackwood menjadi pucat.

“Tapi Nenek Sari bilang dia gak bakal memusnahkan Keluarga Blackwood. Kalau pihak kita mengakui kesalahan, dia akan meringankan ‘hukuman’ yang bakal kita terima.”

Tuan Besar Blackwood tak bisa berkata apa-apa. Dari samping, Alex Blackwood menaruh tangan di dagunya.

“Jika kita mengerahkan semua sumber daya dan koneksi kita, barangkali kita menahan amukan Mage bernama Nenek Sari ini,” kata Alex Blackwood menyimpulkan. “Apa kamu tau fraksi mana tempat dia menjadi Sepuh sebelumnya?”

“Fraksinya? Aku gak banyak tau tentang fraksi ini, tapi namanya Moon Temple.”

Mendengar nama Moon Temple, wajah Alex Blackwood tertekuk masam.

“Ada apa Alex. Apa kamu tau fraksi itu?” tanya Tuan Besar Blackwood.

“Ya. Moon Temple menjadi berita besar akhir-akhir ini,” sebelumnya, setelah banyak bertemu orang-orang dari kerajaan lain, Alex Blackwood banyak mendapat informasi tentang dunia luar. Ia pada dasarnya adalah seorang ekstrovert, menyukai berbincang-bincang tentang gosip dan rumor terbaru. Pembawaannya walau seperti kesatria dari keluarga bangsawan, tetap ia bisa bersikap santai dan membuat orang-orang menyukai berbincang dengannya. Karena itulah ia mendapat banyak informasi dan kabar tentang Benua Tiramikal belakangan ini.

“Apa kita sedang gawat?” tanya Tuan Besar lagi.

“Kalau Nenek Sari ini masih memiliki koneksi dengan Moon Temple... ya, Keluarga Blackwood sedang dalam keadaan gawat,” jawab Alex.

Tuan Besar Blackwood menarik napas keras-keras. Ia tak tahu harus berbuat apa setelah ini. Andai saja istrinya ikut ke desa ini sekarang, mungkin ia bisa memikirkan sesuatu. Untuk hal seperti ini sebenarnya Tuan Besar Blackwood sama sekali tak kompeten. Yang hanya bisa ia lakukan adalah menyebar-nyebar sikap kebangsawanannya dengan angkuh dan congkak, sesekali diam-diam main perempuan di belakang istrinya.

“Tuan Besar, aku menyarankan kita maaf kepada Keluarga Malikh selagi bisa. Aku yakin Nyonya Besar akan berpikir hal demikian jika mendapati situasinya sudah begini,” saran Alex.

Tuan Besar Blackwood hanya terdiam. Ia jarang sekali terjebak seperti ini. Jika yang ia hadapi adalah Keluarga Kerajaan yang statusnya jauh di atas Blackwood, maka ia tak segan-segan berlutut dan menjilati sepatu mereka.

Tapi minta maaf kepada keluarga kecil dari desa tingkat ketiga?

Ia sudah banyak mendapat malu tadi. Tamat sudah prestise Blackwood hari ini.

“Ada satu lagi pesan dari Nenek Sari...” tambah si pria yang melapor dengan nada ragu-ragu.

“Apa itu?”

“Nenek Sari bilang, dia hanya bisa menyelamatkan Nona Muda Lyla jika sesuatu terjadi pada Jhuro Yashura,” katanya mengulangi pesan yang dikatakan Nenek Sari padanya.

“Maksudnya?” tanya Alex.

“Aku gak tau jelasnya, Tuan Alex. Tapi ada sesuatu yang aneh di Keluarga Yashura belakangan ini. Aku mendengar Nenek Sari memerintahkan semua anggota Keluarga Malikh untuk sopan di depan Keluarga Yashura. Beberapa Sepuh Malikh yang sebelumnya pernah kasar kepada Keluarga Yashura juga sudah berlutut minta maaf di depan Kepala Keluarga Yashura.”

Mendengar itu, wajah Tuan Besar Blackwood semakin tenggelam. Sebisa mungkin ia menahan marah ketika mendengar nama Yashura.

“Ada juga kabar lain. Katanya Pangeran Edicha menginap di Keluarga Yashura.”

“Pangeran Edicha?! Mengapa tiba-tiba Pangeran Edicha memilih menginap di Keluarga Yashura? Keluarga kampungan seperti itu?! Kan masih banyak keluarga lain yang lebih mewah ketimbang keluarga taik, apa kepalanya masih beres?” gerutu Tuan Besar Blackwood.

“Tuan Besar, Anda sebaiknya menjaga ucapan Anda,” kata Alex memperingati.

Alex Blackwood sudah sering berada di resimen prajurit kerajaan. Jadi ia mendengar satu dua hal rumor tentang Pangeran Edicha.

Walau sebagian besar rumor yang beredar menceritakan betapa nyeleneh sikap Pangeran Edicha, tetapi ada beberapa rumor yang menjelaskan bahwa otoritas Pangeran Edicha di keluarga kerajaan tak dapat dibantah. Bahkan sang Raja sendiri, ketika dikritik oleh anaknya Pangeran Edicha, hanya bisa diam tak berani membantah.

Ada pula rumor tentang keluarga kerajaan melakukan ritual untuk mengundang arwah pahlawan puluhan tahun yang lalu, guna menghentikan perang dengan kerajaan lain. Kata orang-orang, mereka mempersembahkan tubuh Pangeran Edicha yang tampan untuk dirasuki arwah wanita, yang menghasilkan Pangeran Edicha yang sekarang.

Apa pun kata rumor, tapi Alex yakin satu hal: membuat Pangeran Edicha marah, bahkan Raja sendiri pun tak bisa berbuat apa-apa.

Untuk sesaat kemudian mereka hening di tenda itu.

Lalu Tuan Besar Blackwood melihat anaknya Lyla, baru menyadari ada sesuatu yang ganjil dengan benda yang dipeluknya.

“Bola apa yang ada di tanganmu?” tanya Tuan Besar Blackwood dengan tajam melihat Momon.

Lyla tak menjawab, ia bahkan tak berani melihat mata ayahnya.

“Lapor Tuan Besar, Nona Muda Lyla mendapatkan makhluk peliharaan ini sebagai hadiah dari Shira Yashura,” jawab pria yang datang dengan Lyla.

“Shira katamu?” sorotan mata Tuan Besar Blackwood sudah membara-bara. Mendengar nama Shira saja sudah membuatnya terbakar.

plak!

Tanpa segan Tuan Besar Blackwood menampar pipi Lyla hingga merah menyala.

“Buang makhluk menjijikkan itu!” bentak ayahnya lagi.

Lyla tak menjawab sambil mempererat pelukannya. Momon dengan matanya yang biru bulat besar tak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi ia bisa tahu diam-diam Lyla menahan isak tangisnya.

“Apa kamu gak mau membuangnya?” dengan kasar Tuan Besar Blackwood langsung merebut Momon dari pelukan Lyla.

Dan lalu menarik pisau belati dari sabuk di pinggangnya.

“Ayah, jangan! Jangan!” Lyla merengek-rengek dengan pipi yang sudah terbanjiri air mata.

“Makhluk menjijikkan seperti ini harusnya mati ketimbang menjadi hama Keluarga Blackwood!”

Tuan Besar Blackwood mempererat genggamannya pisaunya. Tapi belum ia mengambil ancang-ancang untuk menusuk Momon—

swiiish!

Sebuah kilat berwarna ungu menembus tenda, menusuk tangan Tuan Besar Blackwood.

“Aaakh!” saking terkejutnya, Tuan Besar Blackwood langsung melepas Momon dari tangannya.

Tuing, tuing. Momon pun langsung melompat ke dekapan Lyla lagi untuk meredakan tangisannya.

“Siapa yang berani menyerang Keluarga Blackwood!” sahut Alex Blackwood. Ia adalah Knight level 52. Di Desa Badril ini sedikit yang memiliki kualifikasi menjadi musuhnya, kecuali tamu dari luar East Tiramikal Kingdom.

“Bunuh mereka, Alex! Orang-orang sialan ini berani menjadi musuh kita! Bunuh mereka semua!” perintah Tuan Besar Blackwood sambil mendesis kesakitan menahan darah yang ada di tangannya. Cahaya kilat ungu yang menyerangnya tadi, adalah sebuah throwing knife yang terbuat dari logam langka dan mahal.

Alex mengerutkan dahinya. Ia tak menyadari ada orang yang mengawasi tenda ini. Itu berarti kekuatan musuh tak mungkin berada di bawahnya. Ia juga menyadari throwing knife yang melukai tuannya bukanlah senjata biasa.

“Tuan Besar!” seorang pelayan tergopoh-gopoh masuk tenda. “Ada tamu yang ingin menjenguk Tuan Muda Frane!”

Alex semakin mengerutkan dahinya. Tamu yang datang ini sangat bertepatan dengan penyerangan Tuan Besar keluarganya.

Apa tamu ini yang sudah melukai Tuan Besar Blackwood?

“Siapa itu?” tanya Tuan Besar Blackwood dengan nada jengkel.

“Pangeran—”

“Ini aku,” sebuah suara seorang pria muda langsung memotong ucapan pelayan tersebut.

Pemilik suara itu pun muncul di temani dua orang berbaju putih dan mengenakan topeng.

“Pangeran Tatalghia,” jantung Tuan Besar Blackwood hampir copot. Ia tak pernah menyangka Pangeran Tatalghia, dari kerajaan terkuat di benua ini, tiba-tiba mengunjungi tenda tempat keluarganya beristirahat.

“Pangeran duduk dulu,” katanya cepat-cepat memberikan kursi. Kemudian ia pun berniat untuk melancarkan teknik menjilatnya yang bisa dibilang sudah mencapai level maksimal.

Tapi belum ia menjilat, Pangeran Tatalghia tanpa basa-basi langsung berkata, “aku dengar Tuan Muda Blackwood sampai pingsan dibuat malu oleh Shira. Aku gak sempat melihatnya karena sudah diusir dari situ.”

Sikap Pangeran Tatalghia masih santai, tapi orang-orang bisa merasakan dendam yang tersirat dari nada ucapannya.

“Pangeran Tatalghia, memang Keluarga Yashura sangat kurang ajar. Aku yakin mereka sudah berbuat curang dan ada main-main dengan Kepala Desa Badril!” tetap Tuan Besar Blackwood bersikeras tentang hal ini.

Tapi Pangeran Tatalghia mengangguk setuju.

“Aku juga yakin mereka berbuat curang,” bahkan belum mendengar bukti atau apa pun sebelumnya, Pangeran Tatalghia sudah main setuju dengan Tuan Besar Blackwood. “Aku kecewa kalau mereka dibiarkan berlaku gak etis untuk duel seperti ini.”

“Apa boleh buat, Pangeran. Ini bukan kandang kami,” kata Tuan Besar Blackwood menggeleng-gelengkan kepala sambil menaruh wajah pasrah.

Pangeran Tatalghia menoleh ke arah Tuan Muda Blackwood. “Apa Frane gak apa-apa?”

“Frane bisa lanjut bertarung kalau sudah istirahat,” kata Tuan Besar Blackwood.

“Apa yang akan kalian lakukan setelah ini. Shira Yashura berbuat curang, apa kalian bakal diam menerimanya?” Pangeran Tatalghia tersenyum menyeringai ketika berkata demikian.

“Pangeran, gak ada yang bisa kami lakukan sekarang.”

Pangeran Tatalghia mendengus. “Keluarga Yashura berani berbuat curang karena punya teman yang kuat, aku yakin itu. Sebelum babak ketiga dimulai suruh Frane datang ke tendaku.”

“Pangeran... maksudnya?” tanya Tuan Besar Blackwood, berusaha menekan rasa senangnya sudah bisa menjalin hubungan dengan Pangeran Tatalghia walau hanya sebatas ini.

“Sudah kubilang kan, alasan Shira Yashura bersikap seenaknya karena dia punya teman yang kuat. Kalau Blackwood juga punya teman seperti itu, bukannya kalian bakal punya kesempatan untuk memberinya pelajaran.”

“Pangeran...” Tuan Besar Blackwood masih belum mengerti maksud Pangeran Tatalghia yang sebenarnya. Tapi jantungnya berdegup kencang, ia bisa merasakan sesuatu yang besar datang ke arahnya.

“Tuan Blackwood, aku dan kamu punya masalah yang sama. Sama-sama dibuat malu oleh Keluarga Yashura. Bukankah itu sudah membuat kita menjadi teman?”

Senyum Pangeran Tatalghia membuat seseorang bisa menebak sikap picik pangeran ini. Tapi melihat senyum dan mendengar ucapannya, Tuan Besar Blackwood hampir melompat kegirangan.

“Pangeran Tatalghia, adalah sebuah kehormatan untuk bisa berteman dengan Anda,” kata Tuan Besar Blackwood cepat-cepat.

Pangeran Tatalghia mengangguk-angguk. “Keluarga Blackwood juga memiliki sikap yang elegan menghadapi rencana busuk Yashura,” Pangeran Tatalghia pun kemudian menoleh ke arah Lyla. Senyumannya langsung menjadikan makna yang berbeda. “Wah, wah, bukannya ini Nona Muda Blackwood?”

“Putriku bernama Lyla Blackwood, Pangeran Tatalghia,” ucap Tuan Muda Blackwood. Kemudian ia menoleh ke arah Lyla. “Lyla, cepat beri hormat kepada Pangeran!”

Lyla tak membantah. Ia memberi salam gaya bangsawan yang sudah ia pelajari semenjak kecil.

“Aku mendengar Nona Muda Lyla sangat dekat dengan Nona Muda Malikh?” tanya Pangeran Tatalghia dengan motif tersembunyi yang jelas tersirat di nadanya.

Ia awalnya menyuruh beberapa orang desa ini untuk menculik Bhela dan Lyla. Tapi mereka tak kunjung datang. Setelah rencananya itu gagal dan ketahuan pamannya, ia langsung diceramahi panjang lebar untuk tak berbuat hal ceroboh lagi.

“Pangeran Tatalghia, putriku memang sangat dekat dan bersahabat dengan Bhela Malikh,” karena Lyla hanya diam saja tak seperti biasa, maka Tuan Besar Blackwood yang menjawab.

“Aku juga mendengar... Nona Muda Lyla sangat dekat dengan Shira Yashura?” Pangeran Tatalghia masih mempertahankan senyumnya itu.

Pun setelah mendengar itu, hati Tuan Besar Blackwood terbakar murka, langsung melototi putrinya.

“Saking dekatnya, kudengar, bibir mereka bersentuhan,” kata Pangeran Tatalghia lagi.

“Gak mungkin!” raung Tuan Besar Blackwood murka. “Lyla, apa maksudnya ini?”

Lyla tak berani menjawab. Ia mengira tak ada yang melihat Shira menciumnya. Cinta Shira sudah dinyatakan, tapi Lyla terlalu terkejut dan langsung menolaknya. Ia juga mengira semua itu hanya selesai dengannya yang merasa canggung malu jika bertemu Shira. Tak pernah ia menyangka seseorang bisa tahu dan memberitahu ayahnya.

“Tuan Blackwood gak perlu marah begitu. Memang wajar gadis manis dan cantik seperti Nona Muda Lyla membuat orang-orang ingin mengenalnya dari dekat,” ia mendekat ke arah Lyla dan menaruh tangan di dagu gadis itu, sambil menaikkan sedikit wajahnya. “Aku pun juga ingin mengenal Nona Muda Lyla jauh lebih dekat ketimbang Shira.”

Semua orang di tenda itu mengerti maksud dan keinginan Pangeran Tatalghia, makanya tak ada yang bakal mencegahnya. Keluarga Blackwood memang seperti itu, tak segan berbuat apa pun untuk mendapatkan koneksi dengan Tatalghia Kingdom.

Apalagi Tuan Besar Blackwood. Kalau perlu ia akan senang hati menyiapkan kamar kosong untuk tempat Pangeran Tatalghia bisa ‘mengenal’ Lyla lebih dekat.

Senyum Pangeran Tatalghia langsung menunjukkan warna aslinya. Matanya membara penuh nafsu.

Ia tahu Shira menyukai gadis ini. Ketika ia mengingat bagaimana Shira sudah berani mengancamnya, hati Pangeran Tatalghia langsung terbakar amarah.

Pangeran Tatalghia akan merusak gadis bernama Lyla ini hanya untuk memberi Shira pelajaran. Ia pun berpikir, barangkali ia akan menyuruh para prajuritnya juga ikut bergiliran melakukan hal yang sama tepat di depan gerbang Keluarga Yashura. Itu adalah harga yang harus dibayar Shira karena sudah berani bersikap angkuh di depannya.

Dengan jempolnya, Pangeran Tatalghia meraba bibir Lyla yang tipis.

“Apa kamu menyukai Shira Yashura? Kamu seharusnya tau, kalau aku mau kamu, Keluarga Blackwood akan senang hati menyiapkan ranjangnya.”

Lyla bergetar ketakutan. Air mata membasahi pipinya. Saat ini, sebagaimana pun polosnya Lyla, ia menyadari Pangeran Tatalghia adalah laki-laki jahat seperti yang diceritakan oleh Nenek Sari.

“Momon, tolong aku...” bisiknya pelan sambil menahan isak tangisnya.

“Cup cup,” Pangeran Tatalghia mengusap air mata di pipi Lyla sambil senyumannya yang memiliki makna tersirat bertambah lebar saja. “Barangkali dicium bakal menjadi tenang?”

Pangeran Tatalghia mendorong kepalanya untuk mencium Lyla, tapi Lyla langsung membuang wajah tak rela dicium oleh orang mesum ini.

Ketika Shira menciumnya, Lyla bisa merasakan perasaan Shira sangat dalam, ia hanya tak berbuat apa-apa saat itu karena takut menyakiti hati pemuda itu. Tapi sekarang berbeda. Di depan Pangeran jahat ini, Lyla hanya bisa menangis memohon ampun.

Pangeran Tatalghia menjepit keras wajah Lyla dengan jemarinya supaya mudah menaruh bibirnya di wajah gadis itu. “Apa yang kamu takutkan? Aku juga mencintaimu.”

Ia pun mencoba untuk mencium Lyla lagi.

swiiish!

Tepat pada saat itu juga, sebuah kilat berwarna ungu yang sebelumnya melukai tangan Tuan Besar Blackwood muncul lagi.

claank!

Sosok berbaju putih dan bertopeng, Guardian, langsung menangkis throwing knife yang ingin melukai Pangeran Tatalghia.

“Siapa yang sudah berani menyerang Pangeran Tatalghia?” kata Guardian itu. “Cari mati!”

“Seharusnya kami yang bilang begitu,” tiga sosok perempuan berbaju gelap dan wajah yang ditutup dengan kain berwarna sama tiba-tiba saja muncul di depan tenda. “Siapa yang berani menyentuh murid Purple Garden Sect?” lanjutnya.

“Purple Bloom Agent,” Guardian Tatalghia Kingdom mengenali tiga wanita ini. Petarung elite dari terelite yang dimiliki Purple Garden Sect, yang hanya bekerja dalam bayang-bayang. Purple Bloom Agent, memiliki kemampuan setara dengan Guardian di Tatalghia Kingdom.

Dua melawan tiga. Jelas para Guardian kalah jumlah dan tak ingin mencari masalah sekarang.

“Sejak kapan gadis desa seperti Blackwood ini bisa menjadi murid Purple Garden Sect?” Pangeran Tatalghia pun mencibir dengan nada tak senang.

Tapi Shadow, pemimpin dari Purple Bloom Agent yang bertugas di sini tak ingin menjawab pertanyaan Pangeran Tatalghia.

“Status Lyla Blackwood adalah murid keempat dari Sect Master Yeela,” katanya dengan nada dingin dan formal. “Jika Pangeran Tatalghia bersikeras untuk menghinanya lebih dari ini, maka Purple Garden Sect siap berperang dengan Tatalghia Kingdom!”

Loading...