C73: Popularitas Keluarga Yashura

Chapter 73: Popularitas Keluarga Yashura

“Shira, kamu kelihatan beda hari ini,” kata Mila menyapa.

Shira menoleh lewat pundak kanannya. Mila Yashura sepupunya menghampiri dengan tangan di belakang punggungnya.

Anak muda itu hanya tersenyum. Ia bisa melihat keresahan dari wajah Mila yang biasanya riang.

“Banyak cewek yang kirim salam tadi. Gara-gara kamu sok keren pas duel tadi kamu jadi terkenal sekarang,” goda Mila sambil menyunggingkan senyumnya.

“Apa aku gak berlebihan tadi?” tanya Shira dengan suara pelan.

“Berlebihan? Hihi. Kalau kamu gak kayak gitu ntar lambang singa keluarga kita terus-terusan dikira kucing sakit sama orang-orang.” Mila mengeluarkan tawa kecil riang, tapi Shira bisa merasakan kekhawatiran di nada suaranya.

Shira sudah menantang prestise Tatalghia Kingdom tepat di mata semua orang. Mengancam sang pangeran dengan kata-kata setajam pisau.

Di Keluarga Yashura, siapa yang tak khawatir dan merasa resah karenanya?

Ia mendesah napas panjang dalam hati. Baru setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, ia merasa sedikit menyesal. Ia tak menyesali karena takut mendapat balasan dari Pangeran Tatalghia. Jika pangeran sombong itu berbuat hal kotor di balik layar, ia yakin bisa menahannya.

Tatalghia Kingdom, selain membawa beberapa peleton prajurit mereka ke Desa Badril, tapi kekuatan yang sebenarnya adalah empat sosok bertopeng—yang mereka sebut Guardian—yang menjaga keamanan Pangeran Tua Tatalghia dan juga keponakannya Pangeran Tatalghia muda.

Jika empat Guardian itu berani macam-macam dengannya... pemuda itu hanya tersenyum. Mereka tak tahu ada seseorang yang tak akan membiarkan Shira mati di sini, seseorang yang Shira yakin dapat dengan mudah membunuh para Guardian tersebut jika mereka menyerang.

Arwah Baik Hati.

Shira bisa merasakan kehadirannya hari ini. Semenjak pergi beberapa hari, arwah mesum itu kembali lagi ke sini.

Arwah yang menginginkan tubuhnya, tak akan membiarkan Shira mati begitu saja di tangan Tatalghia Kingdom!

Tapi yang Shira sesali adalah sikapnya malah membuat semua anggota keluarga lain berkeringat dingin. Begitu takut dengan tangan bayang-bayang Tatalghia Kingdom yang setiap saat bisa menyerang mereka diam-diam.

Aku terlalu naif, begitulah yang dipikirkan Shira sekarang.

Diam salah, membuka mulut pun salah.

Memang pada dasarnya Shira adalah anak muda yang kurang bisa melihat situasi. Boleh saja ia merasa dewasa ketika tinggal di laut misterius selama puluhan tahun. Tapi jika kemampuan sosialisasi dan emosionalnya tak berkembang, tanpa interaksi sama sekali, bisakah ia mengatakan dirinya dewasa?

Kenyataannya ia masih pemuda naif seperti dulu.

Tapi bagaimana pun juga, tanpa bantuan Arwah Baik Hati sekalipun, Shira akan tetap berusaha melindungi keluarganya!

Ia sendiri yang membawa masalah, dan ia sendiri yang akan menyelesaikannya.

Melihat Shira diam melamun, Mila pun meninju pelan lengan atas adik sepupunya itu.

“Menangkan babak ketiga untukku ya,” katanya sambil tersenyum lebar. Ia pun berjalan pergi lagi, tapi belum beberapa langkah, ia berbalik. “Buat semua cewek yang menonton nanti kelepek-kelepek. Tunjukkan kegantenganmu Shira. Semangat!”

Dalam hati Shira terasa hangat mendengar kakak sepupunya berkata demikian.

Ada senyum ringan di wajahnya ketika ia melihat punggung Mila yang menjauh.

“Kabut Ungu, apa aku berlebihan tadi?”

“Mau apa lagi Master. Konflik dengan Tatalghia Kingdom gak bisa dihindari.”

Jawaban dari Kabut Ungu membuatnya berpikir. Tiba-tiba saja ia teringat ucapan pria di atas rakit yang wajahnya tertutup kabut saat ia terjebak di laut.

Tatalghia Kingdom dan Keluarga Blackwood.

Itulah yang pria misterius itu ucapkan padanya.

“Kabut Ungu, kamu memiliki ingatan beberapa Spirit Conductor dari dimensi lain, bukan?”

“Ya, aku punya lumayan banyak pecahan ingatan mereka. Apa yang Master ingin tanyakan?”

“Apa mereka mengingat satu dua hal penting tentang Tatalghia Kingdom dan Keluarga Blackwood?”

Kabut Ungu terdiam, mengambil jeda untuk menjawab.

“Langitnya cerah sekali, Master. Kalau wisdom Master sudah mencapai 100 nanti Master bisa menggunakan menggunakan ‘Conjure Minion’ lagi untuk menciptakan makhluk kabut ungu seperti Momon. Aku akan mencari cara untuk membuat elemen kabut ungu di dalam mana sphere Master menjadi lebih pekat lagi.”

Perempuan ini mengelak pertanyaannya. Shira hanya mengangguk sambil tersenyum masam mendengar ucapan Kabut Ungu.

Ameldha adalah putri kesayangan dari keluarga bangsawan di kerajaan tetangga.

Ia adalah perwujudan bidadari dari langit. Begitu cantik dan lembut. Walau kemampuan talentanya di bawah rata-rata, ia selalu dimanjakan oleh ayahnya.

Hari ini ia diajak menonton pertandingan ini oleh tuan muda dari keluarga lain di kerajaan yang sama dengannya.

Ameldha senang sekali. Tuan muda ini sangat ramah dan sopan. Reputasinya sebagai Rune Master juga membuatnya terkesan. Wajahnya tampan dan sosoknya seperti seorang pangeran yang menjemputnya dari rasa kesepian, benar-benar membuatnya terlena.

Oh, apakah ini cinta sejatiku? Pikir Ameldha.

Tapi perasaan itu hanya sementara. Tiba-tiba saja, wajahnya yang tengah mabuk cinta berubah kecut. Matanya terbelalak, terkejut ketika ia merasakan sesuatu yang benar-benar membuatnya merasa malu luar biasa.

“Kurang ajar!” desisnya marah kepada tuan muda yang berjalan dengannya.

plak!

Sontak pipinya ditampar seperti itu, tentu saja membuat tuan muda itu terkejut luar biasa.

“Ameldha, ada apa?” tanyanya sambil memegang pipinya yang terasa panas ditampar, wajahnya penuh dengan kerut kebingungan tak mengerti.

“Dasar tukang gerepe!” seru Ameldha dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.

“Jelaskan padaku Ameldha. Apa salahku—“

Tapi Ameldha langsung berbalik pergi.

Ameldha tak ingin mendengar ucapan pria berengsek ini lagi. Ia begitu kecewa sudah mengira tuan muda ini adalah pangeran sempurna dalam hidupnya.

Dan pada saat ia berbalik itulah, ia merasakan hal itu lagi. Bokongnya dicubit nakal oleh seseorang dari belakang. Jantung Ameldha hampir melompat keluar dari dadanya. Ia berbalik, dan mendapati hanya wajah tuan muda yang kebingungan di situ.

“Berengsek!”

plak!

Tuan muda itu terkejut ketika menerima tamparan kedua di pipinya yang lain. Ia masih tak mengerti apa yang terjadi, hanya bisa melihat Ameldha yang berlari menjauh sambil menangis.

“Ameldha, tunggu!” tuan muda itu mengejar seperti sepasang kekasih yang ada di cerita-cerita.

Ia tak tahu, di sebelahnya barusan, ada sebuah sosok yang tubuhnya transparan yang melayang di situ.

Sosok itu menghirup sisa aroma di tangannya dengan wajah mesumnya yang puas. Kemudian bergumam, “kualitas terbaik hari ini.”

Sosok ini, adalah Gyl si Arwah Baik Hati.

Sekembalinya di Desa Badril, arwah itu merajalela. Banyak perempuan yang menjadi korban pelecehannya. Namun tak ada satu pun dari mereka yang menyadari kehadiran si arwah mesum.

Masih terbuai dalam hobinya, sontak saja Gyl mendengar teriakan sapa yang membuat wajahnya menjadi pucat seketika.

“Mas boy, sini-sini, Edicha kangyeen~”

Gyl bahkan tak menoleh. Tanpa pikir panjang ia menggunakan kemampuan teleportasi dari skill ‘Water Flowing Style’-nya untuk kabur dari situ.

Shira sedang menyendiri sambil menunggu babak ketiga dimulai.

Membaringkan tubuhnya di sebuah pohon rindang yang terletak di sudut balai desa. Sambil menikmati angin sepoi siang, ia mengunyah kue kering asin yang diambilnya dari jamuan Kepala Desa Badril.

wuuzzh

Ia menoleh. Melihat hukum ruang di dekatnya terobek kecil. Dari situ, ia bisa merasakan aura laut yang pekat, Shira mengenali energi ‘Water Flowing Style’ berlevei tinggi itu.

Gyl pun keluar sambil meregangkan tubuhnya.

“Oh, halo halo bocah, lama gak ketemu,” sapa si Arwah Baik Hati santai.

“Tumben gak lama gak kelihatan, Mas. Biasanya sehari sudah balik,” kata Shira membalas.

“Biasalah lagi sibuk kemarin,” Gyl tak mengumbar urusannya keliling Benua Tiramikal untuk membasmi orang-orang yang menentang kekuatan Gong Tiramikal-nya. “Aku lihat tadi kamu emosian di arena duel. Sampai-sampai kelewat galak sama Pangeran Tatalghia. Apa kamu masih kecewa gara-gara ditolak cewek itu?”

Wajah santai Shira membeku. Ucapan Gyl benar-benar tepat sasaran.

Shira bahkan tak memberitahu siapa-siapa kalau Lyla sudah menolaknya. Tapi arwah sialan ini tiba-tiba datang dan menyirami lukanya dengan air garam.

“Sikapmu biasanya pasif, bocah. Gak biasa kamu sok galak seperti tadi,” kata Gyl sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Shira tersenyum masam, bertanya, “apa aku sudah kelewatan tadi?”

“Bukan masalah kelewatan atau gak. Menurutku kamu lebih baik gak usah pura-pura jadi serigala buas. Kalau dilihat dari perumpamaannya, kamu itu sebenarnya domba. Hmm, lebih tepatnya kamu itu mirip Harold si domba.”

“Harold si domba? Apaan coba.”

“Bocah, kamu belum denger cerita Harold si Domba?”

Shira menggeleng. “Apa itu dongeng yang populer ribuan tahun lalu?”

“Kayaknya anak-anak jaman sekarang gak pernah denger ceritanya Harold si Domba. Pokok inti ceritanya Harold itu domba yang buat semua domba lain berpikir mereka burung yang bisa terbang.”

“Cerita macam apaan itu,” Shira mengeluarkan tawa kering. Ia benar-benar tak suka diumpamakan sebagai domba.

“Itu kamu. Harold mirip sekali sama kamu.”

“Kalau aku domba berarti Mas Arwah Baik Hati apaan?”

“Aku? Hmmm. Kalau aku ganteng-ganteng serigala. Serigala buas, yap, serigala buas yang ganteng, hehe.”

Shira hanya tersenyum mendengar kenarsisan arwah itu. Sudah berapa lama mereka tak mengobrol seperti ini? Di dunia nyata, Gyl hanya pergi beberapa hari. Tapi Shira yang terjebak selama puluhan tahun di laut, merindukan obrolan santai dan akrab bersama Arwah Baik Hati seperti dulu.

Pemuda itu adalah anak introvert. Ada sedikit orang yang bisa membuatnya santai, Arwah Baik Hati adalah salah satunya.

“Aku sudah muak mendengar gonggongan anjing-anjing itu,” kata Shira membela dirinya.

“Oh, gara-gara itu kamu jadi buas?”

“Bahkan orang sepertiku punya batas kesabarannya.”

“Bukannya kamu emosian gara-gara baru ditolak?”

Shira tak membalas. Hanya bisa tersenyum masam lagi.

“Lagian bocah, apa kamu gak takut kalau Tatalghia Kingdom marah gara-gara omonganmu tadi?” tanya Arwah Baik Hati dengan nada prihatin.

“Ada Mas Arwah Baik Hati di sebelahku. Serigala yang paling ganteng dan paling buas. Buat apa aku takut?” kata Shira sambil tersenyum.

Wajah Gyl tersenyum puas, senang jika Shira menyanjungnya. Itu adalah salah satu kelemahannya yang sering dimanfaatkan Shira. “Yang macam-macam denganmu berarti cari mati. Tenang, pilihanmu tepat sekali. Aku bakal melindungimu dua puluh empat jam sehari—kecuali kalau lagi sibuk aja.”

“Haha,” Shira mengeluarkan tawa kering karena ia tahu jika Gyl lagi “sibuk”, bakal banyak perempuan yang menjadi korban pelecehannya. Ia tak bisa berbuat apa-apa tentang sifat buruk arwah mesum yang sudah hidup ribuan tahun ini.

“Ngomong-ngomong, bocah. Apa kamu sudah menguasai ‘Deadly Strike’ yang kukasih padamu waktu itu?” tanya Gyl tiba-tiba.

“Mm. Aku sudah berhasil menggunakannya sekali.”

Ada kilatan terkejut sekilas terpancar di mata Gyl. “Kamu sudah membunuh orang waktu aku pergi?”

“Penculik. Mereka menculik orang yang salah,” kata Shira sambil mengeluarkan napas panjang.

Gyl terdiam memperhatikan anak ini lagi. ‘Deadly Strike’ tak akan bisa digunakan kecuali penggunanya berada dalam pertarungan hidup dan mati. Ia tak menyangka anak ini akan berkembang di saat ia tak hadir.

“Terus, attribute point setelah naik lima level kamu taruh di mana?”

Shira mengangkat alisnya ketika Gyl bertanya demikian. Baru bertemu sekali, tanpa menggunakan skill atau item khusus Specialist, arwah ini langsung bisa mengerti kalau level-nya sudah tak lagi menyedihkan seperti dulu.

“Aku menggunakan ke wisdom semua,” Shira tak bermaksud menyembunyikan, di saat yang bersamaan juga tak mau mengumbar elemen kabut ungunya kepada Arwah Baik Hati.

“Mm. Itu pilihanmu, lanjutkan,” kata Gyl sambil mengangguk-angguk kemudian berbalik pergi. Tiba-tiba saja ia berhenti dan lanjut berkata, “oh ya, kalau kamu berhadapan dengan anjing yang suka menggonggong, bocah, sebaiknya kamu berhati-hati.”

“Hmm?”

Gyl menarik serung tangan kulit di tangan kirinya. Kemudian ia memperlihatkan kepada Shira lima jemari. Perlahan-lahan, jari manis dan kelingking kirinya memudar, memperlihatkan dua jari itu sudah buntung semenjak dulu.

“Ini adalah tangan di tubuhku sebelum aku mati,” kata Gyl. “Anjing bisa saja menggonggong ribut. Dan kamu bisa saja mengusirnya dengan menjadi galak. Tapi anjing tetaplah anjing. Kalau kamu gak hati-hati dia bakal menggigitmu.”

Setelah mengucapkan itu Arwah Baik Hati pun pergi.

“Hmm? Harold si Domba?” Pangeran Edicha mendengar obrolan antara Gyl dan Shira, tapi ia tak mengganggu mereka. “Harold... dia adalah binatang yang paling berbahaya—domba yang pintar. Aku gak menyangka Mas Boy memberi penilaian setinggi itu untuk bocah Yashura yang bakal dia curi tubuhnya.”

Pangeran Edicha sebenarnya datang ke desa ini dan memilih menginap di Keluarga Yashura, hanya untuk memberi berita penting kepada Gyl. Tapi arwah itu selalu kabur darinya, yang membuat Pangeran Edicha kesengsem sendiri.

Pemuda cantik itu menarik sudut bibirnya, tersenyum. Ia memutuskan untuk tak mengganggu arwah itu saat ini.

Ia pun berbalik pergi ke arah yang berlawanan.

Pondong di balai desa kembali ramai.

Babak ketiga akan dimulai.

“Siapkan buff kalian!” seru si wasit.

Wajah Frane Blackwood sangat dingin menatap Shira. Ia mengeluarkan ‘Emperor Blessing’-nya. Tubuhnya yang dipenuhi oleh lilitan perban menyala sebagai tanda skill buff-nya sudah aktif.

Shira pun mulai mengeluarkan skill buff terbaiknya, ‘Senam Bugar Technique’.

“Satu, dua, tiga, empat... lima, enam tujuh delapan.”

“Dua, dua, tiga empat. Lima, enam, tujuh delapan.”

Saat ia meregangkan otot-ototnya di tengah arena duel, banyak sekali orang bersorak untuknya.

“SHIRA, SHIRA, SHIRA, SHIRA!!!”

“Hajar Tuan Muda Blackwood itu sampai babak belur lagi!”

“Shira woi Shira! Menangkan babak ini dengan sempurna, aku bertaruh untukmu!”

Saat ini semua orang bertanya-tanya apakah Shira akan menampar keras muka Blackwood lagi. Dan ketika semua orang melihat pegawai balai desa membawakan gelas teh yang penuh lagi, mereka bisa melihat pertunjukkan Shira yang selanjutnya sama persis seperti di babak kedua.

“Peraturannya sama seperti tadi. Kalau setetes saja ada air teh yang tumpah ke lantai, aku bakal mengalah,” kata Shira sambil mengangkat hati-hati gelas teh yang penuh.

pok pok pok pok!

Sebuah tepuk tangan tunggal menarik perhatian semua orang. Suasana menjadi hening. Bukannya tak mau ikut tepuk tangan untuk memeriahkan suasana. Tapi ketika orang-orang melihat pria muda yang tepuk tangan itu, banyak alis yang mengerut.

“Luar biasa. Luar biasa! Memang hebat keturunan Keluarga Yashura. Semuanya pemberani dan bersikap jantan sekali. Aku salut melihat semangat muda Tuan Muda Shira! Luar biasa!”

Semua orang memiliki ekspresi berbeda melihat orang yang bertepuk tangan ini. Ia memiliki senyum lebar di wajahnya, seperti telah puas akan sesuatu.

Yang membuat orang-orang merasa aneh adalah, orang ini, bukan lain adalah Pangeran Tatalghia yang sebelumnya diusir dari sini.

“Shira Yashura benar-benar pemuda yang luar biasa, bukannya begitu, Tuan Besar Blackwood?” tanya Pangeran Tatalghia sambil tersenyum lebar.

Tuan Besar Blackwood pun, tak seperti sebelumnya, kini memasang ekspresi yang kurang lebih sama persis seperti Pangeran Tatalghia sekarang. “Pangeran benar sekali. Adalah kehormatan kalau anakku bisa bertarung di satu arena yang sama dengan Tuan Muda Yashura.”

Banyak yang bingung mengapa dua orang yang sebelumnya mengantagonis Keluarga Yashura kini memuji-muji Shira. Tapi tak sedikit pula yang merasakan nada sarkasme mereka.

Shira diam melihat dua orang yang menyebalkan itu. Ia tak membentak mereka seperti tadi.

“Shira Yashura. Frane Blackwood. Apa kalian sudah siap?”

Shira mengangguk.

Frane pun juga mengangguk.

Tak ada kata basa-basi yang mereka ucapkan seperti di babak sebelumnya.

“Babak ketiga, dimulai!”

Sontak di awal pertandingan, Frane Blackwood langsung mengambil ancang-ancang.

“Glowing Sun Strike!”

Frane meraung. Cahaya pekat yang menyilaukan langsung membasuhi arena, membuat semua orang memejamkan mata mereka.

Bahkan Shira pun tak tahan dengan silaunya.

Di antara semua penonton, hanya Mr. Takeshi yang tak terpengaruh silau itu.

Ia dengan gagahnya menonton dengan mata melek.

Di tengah-tengah silau yang ia buat, Frane Blackwood menyunggingkan sudut bibirnya.

Tak ada yang menyadari seringai Frane kecuali Mr. Takeshi. Pria itu pun mengerutkan alisnya, merasakan sesuatu firasat yang aneh.

Samar-samar, dengan gerakan kecil, Frane mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Mr. Takeshi terkejut, mengenali benda yang dikeluarkan Frane.

Item artifact!

Mr. Takeshi pun menyadari Frane berencana untuk berbuat curang dan menggunakan item magic untuk mengalahkan Shira!

Sontak di tengah-tengah cahaya yang menyilaukan, Mr. Takeshi berdiri dari duduknya dan berteriak. “Wasit, salah satu peserta duel berbuat curang. Hentikan pertandi—”

CLAAANK!!!

Tapi sebuah suara kaca pecah dari tengah arena duel memotong ucapannya.

Hening.

Bahkan ketika cahaya yang menyilaukan itu mereda, keadaan masih menjadi hening.

Seperti kuburan.

Mr. Takeshi terbelalak melihat apa yang terjadi di tengah arena. Teriakannya tadi, tersendat di tenggorokan.

Semua orang pun memiliki ekspresi sama dengannya.

Mereka melihat gelas teh Shira sudah pecah di lantai kayu. Air teh yang seharusnya ia jaga, sudah tumpah semua.

Tapi di lantai, air teh itu bercampur dengan cairan merah pekat.

“HAHAHAHAHAH!!!”

Tawa Pangeran Tatalghia meledak. Perutnya sakit seperti sudah melihat guyon paling lucu dalam hidupnya. Tapi tak ada orang lain yang ikut tertawa bersamanya.

Wajah semua orang pucat terbelalak melihat Shira.

Pemuda itu pun diam, mematung, merundukkan kepala.

Apa yang seharusnya ia ucapkan sekarang?

“SHIIRAAAAAAA!!!” teriakan histeris Mila Yashura yang kemudian terdengar di situ. Ia berteriak sekuat tenaga sampai-sampai pita suaranya hampir putus.

Hati Mila seperti diremas kuat sekali. Seperti jantungnya diperas sampai semua darahnya merembes keluar. Ia tak berpikir panjang, langsung melompat dari duduknya. Membawa sebuah kain yang dirobek, ia berlari ke tengah arena sambil menangis tersedu-sedu.

“HAHAHAHAHAHAHH!!!” tawa Pangeran Tatalghia sendirilah yang mengisi keheningan di situ. Semua penonton, saking gemparnya, tak bisa berkata apa-apa. Bahkan banyak gadis yang ada di situ menangis melihat keadaan Shira. Bhela tak henti-hentinya menepuk-nepuk Lyla yang tersedu-sedu dalam dekapannya.

Shira tak berkata apa-apa.

Saat ini, apa yang bisa ia katakan?

Mila, sambil menangis dan tak henti-hentinya mengutuk Frane, mengikat kain yang ia bawa untuk menghentikan pendarah Shira.

Kejadian ini cepat sekali terjadi seperti petir di awan gelap. Frane menggunakan ‘Glowing Sun Strike’-nya, membuat silau yang tak tertahankan, dan yang semua orang lihat selanjutnya adalah... tangan kanan Shira sudah dipotong!

“HAHAHAHAHAHHH!!!” Pangeran Tatalghia berguling-guling di lantai saking girangnya.

“Frane Blackwood! Perlihatkan apa yang ada di tangan kirimu itu!” seru si wasit tiba-tiba.

Frane Blackwood tersenyum. Ia tak menyembunyikan tangan kirinya. Diangkatnya tangan itu, kemudian ia memperlihatkan kepada semua orang, item magic yang ia gunakan untuk bisa memotong tangan Shira tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Artifact Keluarga Kerajaan Tatalghia!” seru seseorang yang mengenali item yang ada di tangan Frane.

Keributan langsung meledak. Orang-orang tak percaya apa yang sudah mereka lihat.

Memotong tangan musuh dalam duel... orang picik macam apa Frane itu?

Semua orang tahu, apa yang didapatkan Shira dalam duel ini adalah rasa malu yang luar biasa.

Dicurangi dan tangan kanannya dipotong. Mulai saat ini, kesempatannya untuk menjadi petarung di masa depan hampir nol besar.

Banyak orang lebih memilih dibunuh saja ketimbang diperlakukan seperti itu.

“HAHAHAHAHAHH!!!” hanya gelak tawa terbahak-bahak Pangeran Tatalghia yang mendominasi angin siang itu.

Yang mendominasi tragedi Shira Yashura.

Wajah Shira datar. Sama sekali tak pucat. Tak ada rasa amarah. Hanya datar seperti wajahnya yang seperti biasa.

Ia melepas pedang di tangan kirinya, jongkok untuk memungut tangan kanannya di lantai.

Dengan kakak sepupunya Mila Yashura yang menangis terbata-bata di sebelahnya, yang ia inginkan saat itu hanyalah pergi dari arena duel tersebut.

Loading...