C75: Tragedi di Desa Badril (2)

Chapter 75: Tragedi di Desa Badril (2)

Orang-orang yang melihat dua kepala manusia itu, langsung kabur tanpa suara sama sekali.

“Kasih tau aku mana yang namanya Frane Blackwood. Setelah itu hidup mati kalian, tergantung bagaimana mood-ku nanti.”

Kenyataannya, saat ini, Keluarga Blackwood tak sedang bersama dengan rombongan Pangeran Tua Tatalghia Kingdom.

Bahkan Frane tak ada di situ.

Namun tetap Gyl iseng mendatangi mereka. Alasannya sederhana. Karena ia melihat Pangeran Tatalghia yang tertawa paling keras ketika tangan Shira dipotong.

Ia tak perlu menebak konspirasi di balik layar. Tak perlu mengait-ngaitkan mengapa Frane Blackwood bisa membawa artifact Keluarga Kerajaan Tatalghia.

Hanya sekilas melihat, Arwah Baik Hati sudah tahu si penjahatnya!

Bahkan orang bodoh pun bisa mengerti itu.

Gyl terlalu malas untuk mencari Frane. Semenjak duel tersebut dibatalkan karena Tuan Muda Blackwood itu berbuat curang, suasana menjadi ricuh. Blackwood dicaci massa. Ia sudah tak ada di pondong itu setelah orang-orang mengutuk dan melempari Keluarga Blackwood dengan banyak benda keras.

“Kalian gak mau menjawab?” Gyl memicingkan matanya. “Bosan hidup rupanya...”

Siapa arwah sialan ini, yang berani tiba-tiba datang untuk mengancam Pangeran Tatalghia dan kawan-kawan?

Pangeran Tatalghia muda pun dengan wajah ganas menunjuk Gyl sambil meraung:

“Kamu berani menyentuh kami, Tatalghia Kingdom gak akan memaafkanmu!”

“Ck! Apa kamu yang namanya Frane Blackwood? Mukamu kayak kambing, beneran, pasti kamu yang namanya Frane,” ujar Gyl santai seperti tak bermaksud untuk mengejek. “Kalau kamu Frane kamu bakal mati di sini.”

“Bajing—”

plak!

Sontak saja pipi kanan Pangeran muda langsung merah menyala karena ditampar pamannya.

Mata Pangeran Tua Tatalghia melotot melihat tingkah keponakannya ini. Mereka sedang berhadapan dengan arwah yang sudah membunuh dua Guardian sekaligus. Sama sekali tak berlebihan jika arwah misterius ini mengatakan, hidup mati mereka tergantung oleh suasana hatinya!

“Tuan Arwah adalah pahlawan yang memiliki prestise setinggi langit. Keponakanku hanyalah anak muda yang gak mengerti aturan dunia luar. Karena terlalu dimanjakan ketika tumbuh di istana Tatalghia Kingdom dia menjadi sedikit angkuh di depan pahlawan. Kumohon serendah-rendahnya agar Tuan Arwah bisa berbaik hati memaafkan keponakanku ini.”

Pangeran Tua Tatalghia membungkukkan badannya sebagai tanda tulus meminta maaf. Nada dan sikapnya tiba-tiba menjadi hormat dan merendah seperti padi di hadapan pohon beringin.

Gyl mengelus dagunya. Tak terpengaruh dengan sikap Pangeran Tua Tatalghia yang merendah. “Apa kamu yakin dia bukan Frane Blackwood?”

“Keponakanku adalah Pangeran dari Tatalghia Kingdom. Kalau Tuan Arwah lagi mencari Frane Blackwood, aku yakin dia sudah pergi dari tadi.”

Apa arwah ini sama sekali tak mengenali wajah Frane Blackwood? Ketika Pangeran Tua Tatalghia menegakkan tubuhnya lagi, ia berpikir... Frane semenjak tadi menjadi sorotan perhatian karena ia adalah peserta duel. Jika arwah yang ada di depannya ini tak mengenali wajah Frane, itu berarti ia tak berada di sini sejak tadi, dan seseorang memintanya untuk membalaskan dendam tangan Shira yang terpotong.

Pangeran Tua Tatalghia pun menyimpulkan kalau arwah ini benar-benar pelindung Keluarga Yashura.

Padahal kenyataannya, Gyl yang sedang iseng hanya ingin menjahili Pangeran Tatalghia ini.

Dengan wajah serius pun ia menelaah muka Pangeran Tatalghia yang pipinya sudah merah menyala sebelah karena tamparan pamannya.

“Hmm... apa iya? Dia bukan Frane yang kucari? Hmm. Mukanya merah sebelah. Aku jadi gak yakin,” ia menoleh ke arah Pangeran Tua Tatalghia. “Kalau mukanya merah rata barangkali aku bisa mengenalinya.”

“Tuan Arwah... apa yang Tuan maksud?”

Gyl menyeringai lebar. Dengan santai ia memberi isyarat kepada Pangeran Tua Tatalghia dengan menepuk-nepuk pipinya.

Pangeran Tua Tatalghia pun mengerti apa yang harus ia lakukan.

plak!

Mata Pangeran Tatalghia muda terbelalak. Dengan ganas pamannya menampar pipinya yang sebelah untuk memuaskan arwah sialan ini!

“Apa Tuan Arwah bisa mengenalinya sekarang?” tanya Pangeran Tua Tatalghia sambil tersenyum pahit.

“Hmmm. Bagaimana ya? Mukanya mirip kambing, sih, jadi susah bedain mukanya kambing sama kambing yang lain.”

Gyl pura-pura menyimak wajah Pangeran Tatalghia yang baru saja ditampar oleh pamannya.

“Eh, yang pipi sebelah kanannya kurang merah. Makin gak yakin aku.”

plak!

Mata Pangeran Tatalghia sudah berair. Ia ingin mencaci arwah ini, ingin melepas marah. Tapi ia tahu saat ini semakin ia bersikap pongah di depan arwah sialan ini, maka semakin lama ia bakal menderita.

“Bagaimana sekarang, Tuan Arwah?” tanya Pangeran Tua Tatalghia dengan nada sudah tak bersemangat.

Jawaban Gyl pun singkat dan padat. “Kurang keras!”

PLAK!!!

“Kamu sebut itu nampar? Apa kamu cewek? Kamu nampar seperti cewek!”

PLAAK!!!

“Lagi!!!”

PLAAAAK!!!

“LAGI!!!”

PLAAAAK!!!

“HAJARR!!!”

PLAAAAAK!!!

“HAJAR LAGI!!!”

PLAAAAAAK!!!

“HAHAHAHAHH!!! TAMPAR SAMPAI MAMPUS!!!”

Tangan Pangeran Tua Tatalghia ditahan dari belakang sebelum sempat menampar keponakannya lagi.

“Pangeran Tua!” seru Guardian D. “Sudah cukup membuat keponakan Anda malu.”

Mata Pangeran Tua Tatalghia sudah memerah dan rambutnya tak keruan jadinya. Napasnya terengah-engah karena emosi di dadanya sudah hampir tak tertahankan.

Sedang keponakannya, Pangeran Tatalghia muda, wajahnya terbakar padam dengan bekas telapak tangan. Kakinya jelas terlihat gemetaran. Sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah. Dari hidungnya pun keluar ingus cair, ia menangis menyedihkan seperti anak kecil yang baru saja tersesat di tempat asing.

Cih. Baru saja lagi seru-serunya. Gyl sangat tak puas hiburannya di ganggu oleh orang bernama Guardian ini.

“Ternyata memang iya. Kamu bener-bener Frane Blackwood, kan?” ia pun mencibir melihat Pangeran yang tadinya arogan di atas awan kini menangis seperti perempuan. “Aku mendengar kamu memotong tangan Shira. Jadi kupikir aku bakal memotong tanganmu sebelum...”

Gyl menggerakkan tanda isyarat gorok leher dengan jempolnya.

“Hehe,” arwah itu tertawa kecil sambil menggerakkan jempolnya. Wajahnya terlihat seperti sedang bercanda, tapi melihat dua kepala manusia di lantai... siapa yang tak merinding dibuatnya?

Wajah Pangeran Tua Tatalghia menjadi tenggelam hitam pekat.

Sedang celana keponakannya Pangeran Tatalghia, langsung basah sembari cairan air kencing mengucur di kakinya yang gemetar hebat.

Arwah ini, berniat membunuh Pangeran Tatalghia sejak awal!

“Tuan Arwah! Ampun Tuan Arwah! Keponakanku benar-benar Pangeran dari Tatalghia Kingdom! Aku gak bohong sama sekali. Dia bukan Frane, sama sekali gak punya nama belakang Blackwood. Saya mohon ampuni kami!”

Pangeran Tua Tatalghia tak segan-segan berlutut di lantai untuk memohon di hadapan Gyl.

Dengan wajah mengejak Gyl pun mencibir. “Masih gak mau mengaku juga?”

Guardian D yang sudah tak tahan kehormatan tuannya diinjak-injak langsung menarik pedang dari sabuknya.

Dan ia pun berseru:

“Wahai arwah! Kalau kau adalah seorang pahlawan sejati, mari kita bertarung satu lawan satu! Di bawah ikatan ikrar Dewa Langit, aku bersumpah akan menjadi pengikut setiamu bila aku kalah. Tapi bila aku bisa mengalahkanmu, pergi! Jangan ganggu kami lagi wahai arwah!”

Guardian D menantang Gyl duel?

“Kamu kira kamu siapa, sampah!”

Gyl mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan besi dingin tersebut ke Guardian D.

DOR! DOR! DOR!

Tubuhnya terpental karena momentum peluru, yang menghantam dan membuat tiga lubang di dadanya.

“Guardian D!!!” Pangeran Tua Tatalghia meraung, sontak bergerak untuk menangkap tubuh Guardian D sebelum jatuh menghantam lantai.

Tapi percuma. Guardian D sudah tak bernyawa.

Pengikut Tatalghia Kingdom, yang tadinya ketakutan berada di situ, langsung kabur semua ketika mendengar raungan tembakan peluru mesiu yang mengejutkan.

Gyl melihat mereka lari pontang-panting, tapi terlalu malas untuk mengejar.

Kaki Pangeran Tatalghia Kingdom muda, yang gemetar hebat, sudah tak bertenaga lagi. Tubuhnya pun sempoyongan, hingga akhirnya pantatnya jatuh bebas menghantam lantai.

Membunuh tiga Guardian, orang bodoh saja yang masih mengira kalau arwah Gyl hanya menggertak!

“Senjata apa itu, aku gak pernah melihatnya,” saat Pangeran Tua Tatalghia ketakutan dan keponakannya sibuk menangisi nasib sialnya, suara muda terdengar santai menyapa. “Mas Arwah Baik Hati, bilang-bilanglah kalau punya senjata keren seperti itu.”

Gyl menoleh, melihat seorang pemuda dengan tangan kanan yang buntung diperban berjalan ke arahnya.

“Oh, ternyata kamu bocah. Apa tanganmu sudah baikan?”

Suara Gyl santai, Shira pun juga bersikap santai. Tapi ketika melihat dua kepala di lantai, seorang yang sudah mati, sikap santai Shira tak mungkin bisa bertahan lama.

“Tanganku sudah diobati. Lukanya sudah sembuh, gak sakit lagi. Tapi Nenek Sari yang mengobatiku bilang aku tanganku butuh diolesi ramuan khusus dan dibalut perban baru setiap hari untuk mengurangi efek curse-nya.”

“Itu bagus. Aku akan membantumu untuk mencari cara untuk menyambungkan tanganmu nanti,” Gyl tersenyum lebar. Tapi Shira mengangkat alisnya ketika melihat senyum arwah itu. Itu adalah senyum khas Arwah Baik Hati ketika diam-diam ada udang di balik batu.

“Mas Arwah, orang-orang ini...”

Adegan yang ada di depan Shira, terlalu perih untuk dijelaskan.

“Oh, bocah ini yang buat tanganmu kepotong. Apa yang mau kamu lakukan pada mereka? Aku punya beberapa skill khusus untuk menyiksa orang. Barangkali kamu tertarik untuk mempelajarinya?”

Darah sudah menghilang dari wajah pucat Pangeran Tatalghia.

Hanya ada teror yang terpancar dari matanya yang menangis terbelalak.

Shira mengelus dagunya ketika melihat pasangan paman dan keponakan keluarga kerajaan terkuat di Benua Tiramikal ini.

Gyl sudah berkata, nasib mereka ada di tangan Shira sekarang.

Loading...