C77: Muram

Chapter 77: Muram

Ketika Pangeran Tua Tatalghia tewas dibunuh Gyl, beritanya langsung meluas di Desa Badril.

Semua orang gempar. Wajah mereka pucat ketika mendengar kabar itu.

Pasalnya tak ada yang mengira kejadiannya bakal seperti ini.

Mereka mengira, semarah apa pun Keluarga Yashura, mereka hanya melampiaskan tanpa benar-benar membuat Tatalghia Kingdom tersinggung.

Tapi kenyataan berbeda seperti yang mereka bayangkan.

Pasukan Tatalghia Kingdom yang datang untuk mengawal pejabat Tatalghia Kingdom berkunjung ke desa ini, semuanya sudah dibunuh oleh pasukan wanita tak dikenal.

Lalu empat penjaga super elite dan super rahasia yang mengawal ketat dua pangeran Tatalghia Kingdom... tiga dari mereka mati di bunuh oleh arwah penjaga Keluarga Yashura.

Sedang satu lagi, mana sphere-nya dihancurkan seorang pria muda, kemudian dalam keadaan setengah mati di gantung di balai desa sebagai peringatan untuk semua orang.

Siapa yang tak merinding setelah mendengar itu?

Bahkan, Pangeran Tatalghia muda yang dibiarkan hidup, hampir menjadi gila karena teror sudah merasuki setiap jaringan syarafnya. Tak ada yang berani menampung pangeran muda itu seberapa besar pun imbalannya. Semua orang ingin menjauh dari konflik ini. Tak ingin ada urusan dengan Yashura maupun Tatalghia.

Dalam sehari, jumlah penduduk Desa Badril tinggal setengah. Orang-orang pada mengungsi ke desa lain karena takut terkena dampak dari amarah Tatalghia Kingdom.

Malam sehari setelah tragedi di Desa Badril, keadaan sangat sunyi.

Hanya jangkrik dan binatang malam yang mengisi keheningan malam.

Lampu pijar dan obor yang biasanya menerangi jalan sudah tak ada yang menyalakan. Tak ada lagi yang berani berpatroli di Desa Badril.

Semua orang menutup rapat-rapat pintu dan jendela rumah mereka.

Saat ini, semua orang tahu kabar tentang kematian Pangeran Tua Tatalghia sudah sampai ke telinga Raja Tatalghia. Mereka tahu jika mereka diam di Desa Badril, ada kesempatan mereka ikut terbantai jika Tatalghia Kingdom benar-benar mengamuk.

Tapi di antara keresahan semua orang, ada beberapa yang masih bisa duduk santai sambil menikmati teh hangat.

Salah satunya adalah Ghuntur. Malam-malam begini, ia masih santai tidur-tiduran di genteng.

Yang lain, seperti Gyl yang juga tetap tidur-tiduran sambil tak memusingkan konsekuensi apa yang sudah ia lakukan kemarin.

Ada pula perempuan-perempuan Purple Garden Sect, yang masih tenang dan profesional mengejakan tugas mereka masing-masing.

Lalu, Bony, yang sedang mengelap pedang peninggalan kakeknya, juga secara misterius tak merasa takut sama sekali. Walau ia tahu kakaknya Ryntia Elzier secara sukarela ikut turun tangan membalaskan perbuatan Pangeran Tatalghia bersama Purple Bloom Agent.

Di Keluarga Yashura, Shira pun masih santai membaca .

Malam itu adalah malam yang sibuk bagi Yulong.

Banyak pelayan yang ingin berhenti bekerja untuk Keluarga Yashura. Sebagai Kepala Pelayan, Yulong tak bisa berbuat apa-apa.

Ia ingin meyakinkan mereka kalau Keluarga Yashura akan berusaha sebisa mungkin untuk melindungi para pelayan yang resah itu. Tapi ia tak bisa. Bukan karena ia meragukan kekuatan yang di balik Keluarga Yashura, tetapi karena ia meragukan motif mereka sendiri.

Motif arwah yang selalu mengikuti Shira, Yulong sudah tahu sejak awal. Tapi bukan hanya itu saja yang membuat Yulong ragu.

Yulong tahu Purple Garden Sect diam-diam menaruh pasukan elite di Desa Badril. Ia juga tahu sekte yang dihuni seratus persen oleh wanita itu juga diam-diam memata-matai Keluarga Yashura. Tetapi tindakan mereka, yang membantai pasukan Tatalghia Kingdom, benar-benar membuat Yulong tak habis pikir.

Apa yang mereka pikirkan?

Memulai perang dengan Tatalghia Kingdom hanya demi Tuan Muda Shira saja?

Yulong tak tahu harus berkesimpulan bagaimana. Ia memiliki pemahaman yang baik di lapangan tapi jika menebak-nebak hal besar seperti ini, ia percaya dirinya yang terlalu tua tak mampu mengambil tanggung jawab jika saja tebakannya melenceng dari kenyataan.

Makan malam Keluarga Yashura sangat sepi. Biasanya di hari seperti ini, keluarga utama yang memiliki darah keturunan yang sama dengan Shuro Yashura akan mengajak keluarga-keluarga lainnya untuk makan malam bersama. Tetapi tak ada yang bersemangat untuk menghadirinya.

Shuro sudah berpesan kepada Yulong untuk menyajikan makanan terbaik malam ini untuk menghidupi lagi suasana. Tetapi koki terbaik mereka sudah mengundurkan diri siang tadi. Sisanya hanya koki-koki muda yang magang untuk belajar dari koki senior tersebut, yang juga berpikir untuk berhenti bekerja.

Jadi Yulong hanya mampu menyediakan jamuan seadanya.

Malam itu pucat dan kelam bagi Keluarga Yashura.

Yulong menyiapkan masakan dan minuman hangat untuk Shira yang tengah menyendiri di perpustakaan Keluarga Yashura. Ia mengetuk pintu lembut, membukanya, dan melihat seorang pemuda bertangan satu yang lagi serius membaca buku.

“Tuan Muda Shira, makan malam Anda,” kata Yulong sopan.

Shira terenyak pelan di kursi duduk. Seperti terbangun dari mimpi tidurnya. Ia melihat ke arah Yulong, yang tak bisa menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya seperti anggota Keluarga Yashura lain yang tinggal di sini.

“Yulong. Kayaknya kamu lagi banyak pikiran,” kata Shira menyimak raut muka Yulong. “Apa kamu juga mau pensiun seperti yang lain?”

“Tuan Muda Shira bercanda. Dulu Tuan Jhuro merekomendasikanku kepada Tuan Shuro Yashura. Jadi pelayan tua ini gak akan mundur tanpa seizin Tuan Jhuro.”

Shira mengangguk mendengar ucapan Yulong. Tapi hati pelayan itu remuk ketika ia menyadari baru saja menggunakan nama orang yang tak ada untuk membohongi pemuda polos ini.

“Yulong, apa kamu khawatir uangmu gak akan kembali karena aku gak punya kesempatan untuk menjadi Kepala Keluarga Yashura lagi?”

Shira tiba-tiba bertanya demikian, Yulong sedikit terkejut.

Anak muda ini masih sempat juga memikirkan masalah hutangnya ketika keadaan sudah seperti ini.

“Tuan Muda Shira, walau mengalami bencana apa pun, Yulong yakin Tuan Shuro gak akan meninggalkan Tuan Muda sendirian. Jujur Yulong sama sekali gak khawatir tentang masa depan Tuan Muda.”

“Tapi aku sudah gak punya tangan kanan. Nih, lihat. Apa kamu yakin masa depanku gak suram juga?”

“Tuan Muda Shira bercanda,” Yulong mengurai senyumnya.

Shira tiba-tiba terdiam, mendesahkan napas panjang.

“Setiap hari aku mendengar suara ramai dari ruang makan. Tapi sekarang sepi seperti kuburan.”

“Semua orang sudah kelelahan,” balas Yulong.

“Waktu itu,” Shira mengingat kejadian di arena duel dengan wajah muram. “Waktu aku mengumpat Pangeran Tatalghia, kamu tahu Yulong... padahal aku sama sekali gak bermaksud dengan apa yang aku ucapkan. Waktu itu aku lagi emosian. Terus pangeran arogan itu terus-menerus mengata-ngatai keluarga kita. Semua anggota Keluarga Yashura merundukkan kepala di depan pangeran itu, terus aku harus ngapain coba?”

Yulong menyimak keluh kesah Shira sambil menatap lekat matanya yang cokelat bulat terbasuhi cahaya jingga redup lilin.

“Aku seperti orang yang saking emosinya bilang ke temennya kubunuh kamu! Tapi gak ada niatan begitu. Aku hanya melepas emosi. Walau sebenarnya... kalau memang pangeran itu berbuat kelewatan, aku bersedia melakukan apa yang aku ucapkan. Tapi waktu itu kan beda. Pangeran itu cuma bacot aja. Aku gak menyangka sebab akibatnya setelah aku mengumpat, bakal menjadi masalah besar seperti ini.”

Ia mengambil jeda. Suaranya pun memelan.

“Yulong. Apa memang benar aku membuat kesalahan?”

Yulong tersenyum. Ia seperti seorang paman yang mendengar curahan hati keponakannya.

“Tuan Muda Shira, apa Anda ingin mendengar pendapat pelayan ini?” tanyanya dengan nada lembut.

“Katakan apa yang ada di kepalamu.”

“Apa yang Tuan Muda Shira lakukan hanya membela martabat Keluarga Yashura. Gak ada yang salah dengan itu. Dunia ini rumit, manusia itu rumit, hubungan antar orang-orang pun juga rumit. Hanya orang naif yang berpikir bila dia sudah melakukan hal benar maka jalan bercahaya terbuka lebar untuknya.

“Tuan Muda Shira sudah lama dipilih oleh pejabat keluarga untuk menjadi calon utama Kepala Keluarga Yashura. Jadi lebih baik kalau Tuan Muda mengerti hal ini sejak awal. Jika Tuan Muda berbuat sesuatu yang menurut Tuan Muda benar, belum tentu masalah akan usai di situ. Seperti yang Yulong bilang tadi, hubungan antar orang-orang itu rumit. Karena semua orang memiliki ideal dan kebenaran masing-masing, akan terjadi konflik bila dia menegaskan kebenaran versi masing-masing kepada orang lain.

“Karena itu ada perang. Karena itu konflik manusia, konflik perbedaan, selalu terjadi di mana-mana. Paradoks klasik yang gak akan berhenti selama sifat alami manusia tetap ada.

“Tindakan Tuan Muda hanya sekecil batu apung di hadapan pulau benua bila dihadapkan dengan konflik-konflik itu. Sangat gak signifikan. Jadi apakah Tuan Muda masih merasa bersalah karena telah berusaha menjaga martabat Keluarga Yashura? Berusaha menegakkan kebenaran yang Tuan Muda yakini? Di saat orang lain di penjuru benua lain berusaha mati-matian, selama generasi demi generasi, berperang untuk menjaga martabat dan kepercayaan mereka?”

Mendengar penjelasan Yulong yang panjang lebar, Shira hanya tersenyum masam.

“Yulong, apa benar kamu hanya pelayan biasa? Apa kamu gak diam-diam menulis buku filosofi?” tanya sambil tersenyum jahil.

“Tuan Muda Shira bercanda. Yulong hanya banyak membaca buku saja sejak muda, seperti Tuan Muda Shira. Ucapan tadi bahkan sama sekali gak bisa dibilang filosofi.”

Setelah itu, pembawaan Shira sedikit lebih riang. Yulong mempersilahkan diri karena tugasnya membawakan makanan sudah selesai.

Seusainya keluar dari perpustakaan, Yulong menyusuri lorong koridor tak bersekat. Di langit awan tipis menemani bulan. Ia menengadah melihat ke atas. Hatinya menjadi berat seketika.

Dan saat itulah, ia melihat seekor burung pipit kecil berwarna hijau cerah yang melesat turun. Burung pipit itu berkicau, nampak senang melihat Yulong melihat kedatangannya.

“Kamu sudah kembali,” kata Yulong. Ia menawarkan jari telunjuknya, burung pipit itu mendarat di situ.

“Chirp chirp chirp!” burung pipit itu berkicau riang.

Yulong mengerti. Ia mengambil duduk di lorong itu. Di depannya hanya kebun Keluarga Yashura yang hitam karena tak terkena cahaya jingga lampu pijar. Kemudian ia menyelipkan tangan ke dalam bajunya, mengeluarkan sebuah cincin yang ia sembunyikan dalam bentuk kalung.

Cincin itu berwarna perak, dengan permata merah sebagai mahkotanya. Ketika Yulong mengerahkan cincin itu ke telapak tangannya yang terbuka, permata merah itu menyala, dan kantung biji-bijian yang beraroma manis tiba-tiba saja muncul di tangan Yulong.

“Chirp chirp!” melihat kantung itu si burung pipit langsung bersemangat. Menenggelamkan pelatuknya dalam-dalam, dengan rakusnya melahap biji manis yang adalah makanan kesukaannya.

“Pelan, pelan... apa kamu gak banyak makan di tempat Nyonya?” ucap Yulong sambil tersenyum.

“Chirp chirp!”

“Tuh kan. Kalau sudah dimanjain sama Nyonya sedikit jadi kebiasaan.”

Burung pipit itu berkicau pendek sebagai jawaban, serius melahap biji-bijian yang disuguhkan Yulong. Tapi ia tak mau burung kecil ini makan terlalu banyak, biji-bijian yang ada di kantung tersebut tidaklah murah. Bahkan Kakek Lharu saja hanya bisa tertawa pahit jika tahu biji-bijian itu digunakan Yulong untuk memberi makan burung pipit kecil ini.

“Aku tau kamu baru kembali ke sini. Tapi ada kejadian penting yang baru saja terjadi. Keluarga Yashura menjadi cemas, aku harus bergegas memberi tahu Nyonya tentang hal ini.”

“Chirp chirp chirp!” burung pipit itu pintar, bisa mengerti ucapan Yulong, dan juga tahu caranya memeras tuannya. Ia menggoyang-goyangkan kepalanya, menunjuk kantung biji-bijian Yulong dengan pelatuknya.

Yulong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalau besok pagi bisa sampai, nanti aku akan membelikanmu yang lebih enak daripada ini.”

“Chirp!” burung pipit itu pun terbang berputar-putar mengelilingi Yulong dengan riang.

Loading...