C80: Momon Melawan Blackwood

Chapter 80: Momon Melawan Blackwood

Mendengar Watcher disebut, Gyl hanya diam saja.

Tak ada yang tahu apa yang ia pikirkan sekarang.

“Menggunakan nama Watcher,” katanya pelan. “Gak ada yang pernah berani kecuali memang benar adanya.”

“Tapi efeknya malah buat orang jadi ragu. Termasuk aku,” Pangeran Edicha menambahkan.

“Padahal aku butuh posisi pemimpin Liberators sekali lagi. Gak kusangka urusannya bakal ribet sekarang.”

“Terus Mas Boy mau bagaimana ntar? Hmm? Mau mundur aja? Mau tabrak aja... apa mau akyuu...”

zwiiing

Tepat pada saat itu juga Gyl membuat lubang ruang dimensi dan kabur dari situ.

“Ich... Mas Boy jaad. Huuu huuu...”

Beberapa hari setelahnya, Desa Badril tetap melewati hari-hari mereka dengan ketegangan yang sunyi.

Semakin banyak yang pergi dari desa tersebut karena takut Tatalghia Kingdom. Bagi mereka yang tetap tinggal, barangkali adalah mereka yang hanya tumbuh di desa ini, begitu terikatnya pada desa sampai-sampai tak tahu apa-apa di dunia luar.

Bony dan dua anak buahnya tengah duduk-duduk di pojokan pasar. Semenjak percobaan pembunuhan kepada Bony beberapa waktu lalu, semua geng musuh tak ada yang berani lagi muncul di hadapan Bony dan kawan-kawan.

“Kamu masih lemes juga? Apa kamu sudah minum obat?” tanya salah seorang anak buah Bony kepada temannya yang tempo hari diculik Pangeran Edicha.

Ia hanya menggeleng lemah.

“Polio, apa bener kamu gak ingat apa-apa saat diculik pangeran banci itu?” tanya Bony dengan suara seraknya yang khas.

“Aku gak ingat apa-apa Bos. Semua yang kena culik juga gak ingat apa-apa,” jawab anak buahnya yang berjulukan Polio dengan nada pasrah.

“Untung aja aku gak kena...” ujar anak buahnya yang lain, suaranya gemetar merinding ketika berkata demikian.

“Sekarang kita ngapain enaknya ya?” Bony bertanya santai, namun dengan suara seraknya terdengar seperti pembunuh berdarah dingin yang sedang mempermainkan korbannya.

“Ah, ya. Orang-orang pada sepi. Jadi bosan juga.”

“Ayo kita main ke Keluarga Yashura,” tiba-tiba Bony berkata demikian, bulu kuduk dua anak buahnya langsung berdiri semua.

“Tolong aku, aku gak mau mati muda,” rengek Polio di depan kaki Bony. Semua orang tahu Pangeran Edicha menginap di Keluarga Yashura. Kembali ke hadapan pangeran tersebut adalah mimpi buruk yang paling mengerikan bagi Polio.

“Kamu gak bakal mati. Jangan lebay.”

“Keluarga Yashura? Bos Bony, kok tiba-tiba Keluarga Yashura?” tanya anak buahnya yang lain.

“Jangan banyak tanya kamu, Pilek!” Bony mendengus setelah suara seraknya.

Pilek dan Polio, dua anak buah Bony, hanya bisa mengikuti perkataan bos mereka. Setelah membeli beberapa buah untuk jajan di jalan, mereka pun berangkat ke arah kediaman Keluarga Yashura.

Rombongan Keluarga Blackwood sangat ketakutan. Sampai-sampai tak berani keluar tempat penginapan mereka.

Awalnya mereka tak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba Tatalghia Kingdom diserang begitu saja. Pangeran Tua mati dibunuh, dan Pangeran Tatalghia muda yang baru saja mereka jilati kini menghilang entah ke mana.

Mereka sangat takut. Benar-benar takut. Bahkan untuk kabur dari Desa Badril ini saja, mereka tak punya nyali.

Tapi sekarang mereka sadar. Satu-satunya yang membuat tak ada orang datang untuk membantai mereka karena Lyla Blackwood.

Mereka sudah mendengar bagaimana pasukan wanita misterius menyapu bersih prajurit Tatalghia Kingdom dan menghancurkan kapal mereka. Kalau mereka tak bisa mengaitkan kejadian ini dengan para wanita yang mengambil Lyla dari Pengeran Tatalghia waktu itu, apa saja gunanya mereka hidup sekarang.

Jadi Tuan Besar Blackwood memutuskan untuk mengambil Lyla kembali untuk dijadikan jimat agar mereka bisa kembali pulang dengan selamat.

“Apa gak apa-apa? Lyla sudah dijadikan murid Purple Garden Sect. Aku bahkan Nyonya Besar sangat senang mendengar itu,” kata Alex dengan nada tak setuju ketika mendengar rencana Tuan Besar Blackwood.

“Bagaimana pun juga, dia tetap anak gadisku,” kata Tuan Besar Blackwood bersikeras.

“Baiklah. Tapi kita gak bakal berbuat suatu hal yang bisa menyinggung Purple Garden Sect. Kita bisa selamat saja sekarang sudah beruntung, jangan macam-macam lagi sekarang.” Di saat genting seperti ini, Alex tak bisa mempercayai Tuan Besar Blackwood yang picik untuk mengendalikan situasi.

Jadi, meninggalkan rombongan lain dan Frane Blackwood bersembunyi di tempat mereka menginap, Tuan Besar Blackwood dan Alex Blackwood pergi ke Keluarga Malikh untuk menjemput Lyla.

Di Keluarga Malikh, Nenek Sari dan cicitnya Bhela Malikh mendapat tamu. Sect Master Yeela. Mereka berbicara banyak hal yang tak Lyla mengerti. Jadi ketika gadis itu bosan, tak ada yang melarangnya untuk bermain di luar bersama Momon.

Hari itu cerah. Di halaman tak ada pula orang yang mengganggu. Lyla menyukainya.

Namun saat asyik-asyiknya Lyla bermain, seorang pelayan Keluarga Malikh datang menghampiri.

Lyla sudah biasa melihat pelayan ini. Ia sering datang membawa kue manis untuk cemilan. Tetapi yang membuat wajah kecil Lyla tenggelam adalah dua sosok di belakangnya.

“Lyla, ayo kita pulang,” kata pria yang satu tangannya terluka dibalut perban.

Sedang pria di sebelahnya, yang menemani, tak berkata apa-apa.

Lyla tak menjawab. Ia membuka tangannya untuk memanggil Momon. Makhluk bola berbulu ungu itu mengerti. Ia juga memiliki rasa takut pada pria yang tangannya terluka.

“Lyla, Mamamu menunggu. Dia banyak menyiap kue-kue enak. Ayo kita pulang,” bujuknya lagi.

Tapi Lyla semakin menciut. Dari wajahnya jelas terlihat ia enggan mengikuti Tuan Besar Blackwood. Semenjak Lyla melihat ayahnya sendiri diam ketika orang jahat mencoba untuk berbuat jahat kepadanya, Lyla menjadi takut untuk pulang ke rumah. Ia merasa aman di sini, dilindungi Nenek Sari dan Bhela yang sudah dianggap kakaknya sendiri.

“Alex, bawa dia pergi,” perintah Tuan Besar Blackwood dengan nada pelan.

“Sudah kubilang jangan gegabah di sini,” Alex pun membalas tak setuju.

“Kamu... ingat posisimu, Alex!”

Alex malas menghiraukan tuannya sendiri. Jika itu dulu ia tak akan berpikir dua kali untuk menjilat. Tetapi sekarang beda ceritanya. Lagi pula situasi mereka yang kacau saat ini disebabkan oleh kepicikan Tuan Besar dan anaknya sendiri.

“Lebih baik kita bicarakan pelan-pelan dulu dengan Keluarga Malikh,” saran Alex Blackwood. Situasi sudah tak mengizinkan mereka untuk bersikap pongah dan menebar-nebar status mereka saat ini.

Mereka datang diam-diam. Namun Alex ragu bila sepuh-sepuh inti Keluarga Malikh tak merasakan kehadiran mereka.

“Apa yang kamu mau bilang? Keluarga Malikh? Cih. Semakin cepat kita pergi dari tempat kumuh ini bakal semakin baik,” dengus Tuan Besar Blackwood. Ia masih menyimpan dendam karena sepuh yang dulunya menjadi kacung untuk Keluarga Blackwood tiba-tiba mengkhianati mereka di pondong kemarin.

Alex mendesahkan napas dan menggeleng-geleng dalam hati. Mengapa ia bisa mendapatkan tuan berpikiran sempit seperti ini?

Padahal jelas-jelas waktu itu saat acara duel Shira dan Frane, petinggi Purple Garden Sect dan sepuh Keluarga Malikh bernama Nenek Sari duduk berdampingan dan mengobrol dengan suasana akrab. Semua orang yang melihatnya, sudah tahu Keluarga Malikh mendapat koneksi yang sangat kuat.

Tuan Besar Blackwood menghampiri untuk mencengkeram tangan Lyla. “Ayo pulang!”

“Gak mau!” Lyla berusaha mengelak. Tapi ayahnya tetap memaksa.

“Apa kamu gak mau pulang lagi ke rumah?” serunya kesal. Semakin ia memaksa, semakin jahat sosoknya terlihat di hadapan gadis itu.

Lyla mengambil langkah mundur. Saat ini ia hanya ingin bersembunyi di balik Nenek Sari.

Tapi tak ada yang datang melindunginya sekarang.

“Lyla, kemari!” raung Tuan Besar Blackwood ketika Lyla mundur menjauh.

Melihat Lyla tak merespons perintahnya seperti yang ia harapkan, Tuan Besar Blackwood pun datang dengan wajah geram.

Tuing. Momon pun melompat untuk menolong Lyla.

“Bola sialan!” umpat Tuan Besar Blackwood ketika melihat Momon melompat untuk menghantam wajahnya.

Ia ingin memukul dan menghempas Momon seperti lalat yang mengganggu. Tetapi ketika tangannya hendak menyentuh bulu Momon, tiba-tiba saja ia menghilang.

poof

Tubuh berbulu Momon menghilang di telan angin. Berpencar dan terurai menjadi asap kabut ungu yang tebal di sekitar Tuan Besar Blackwood.

“Apa yang terjadi?” bisik Tuan Besar Blackwood pada dirinya sendiri.

Alex melihat itu, merasa hal serius akan terjadi bila tuannya terus-menerus bersikap seperti ini.

“Tuan Besar, semua orang sedang ketakutan sekarang. Kalau gak ngomongnya pelan-pelan, Nona Muda Lyla bakal lebih ketakutan lagi.”

Alex Blackwood sebenarnya tulus memberi saran. Ia sendiri tak ingin rombongan Blackwood yang datang ke sini terlibat masalah lagi dan masalah lain yang akan menghantui mereka di masa depan.

Tetapi sayang Tuan Besar Blackwood yang sudah kehilangan setengah akalnya semenjak hari duel waktu itu, sama sekali tak menghiraukan saran Alex.

“Lyla, kalau kamu gak mau ikut pulang ke rumah, kamu akan menyesal!” raungnya dengan nada mengancam.

Lyla mulai menangis diam-diam. Alex yang menyaksikannya hanya mengerutkan dahi. Ia tak pernah melihat Nona Muda Lyla-nya diperlakukan seperti ini dulu. Ia selalu menjadi buah hati keluarganya. Tapi siapa pun yang punya mata berpengalaman, terutama mereka yang mengenal sifat ayah dan ibunya, tahu mereka memanjakan Lyla hanya untuk dijadikan alat politik keluarga jika sudah dewasa.

Sekarang karena Lyla tak bisa memenuhi fungsi yang diinginkan orang tuanya, Tuan Besar Blackwood menunjukkan wajah aslinya.

Bahkan untuk Alex yang pada dasarnya adalah seorang ambisius, yang selalu bermuka dua supaya ia bisa dengan mudah memanjat status sosialnya, sikap Tuan Besar Blackwood kepada anaknya sendiri diam-diam mendapat rasa jijik darinya.

Tuan Besar Blackwood tak bisa menahan rasa geramnya lagi. Ia sudah kehilangan emosinya karena takut ancaman tak kasat mata yang menunggunya karena sudah bersekongkol dengan Pangeran Tatalghia.

Ia pun meraung lagi dan mencoba untuk menampar Lyla. Alex Blackwood hanya diam melihat itu. Urusan keluarga besar Blackwood bukanlah tempat baginya untuk ikut campur terlalu jauh.

Tapi sebelah tamparan Tuan Besar Blackwood mendarat di pipi Lyla, kabut ungu yang ada di sekitarnya memadat.

wuuuusszzhh

Padatan kabut ungu tersebut berkumpul di kepala Tuan Besar Blackwood. Pelan-pelan menutupi wajahnya, hingga membentuk Momon yang seolah-olah adalah kepala dari tubuh Tuan Besar Blackwood.

“Apa ini? Ada apa ini? Kok tiba-tiba jadi gelap?!” teriak Tuan Besar Blackwood panik. Suaranya tertekan redup karena ditutup oleh tubuh Momon.

“Tolong aku! Gak bisa napas! Gak bisa napas!!!” ia berlari-lari ke segala arah. Mencari-cari sesuatu untuk bisa melepaskan benda yang menutupi kepalanya ini.

Entah itu Lyla, Alex Blackwood, atau pelayan Malikh tadi... semuanya tercengang melihat tubuh bulat berbulu Momon sudah menutupi kepala Tuan Besar Blackwood. Tiba-tiba menghilang dan muncul kembali. Sebenarnya Momon ini makhluk apaan?

“Tolong aku!” ia bisa merasakan tubuh Momon yang berbulu menutup kepalanya. Dengan buas Tuan Besar Blackwood pun sontak menjambak-jambak bulu Momon. Bulu-bulu yang ia cabuti pun menguap menjadi kabut ungu yang tertelan angin.

Momon memicingkan matanya karena merasa kesakitan. Tapi nampak ia sama sekali tak berniat untuk turun dari tubuh Tuan Besar Blackwood.

“Alex! Alex! Apa ini? Tolong aku!” teriakan Tuan Besar Blackwood sangat menyedihkan. Alex hanya bisa menanggung malu bila ia hanya diam tuannya sendiri bersikap seperti itu.

“Coba diam Tuan Besar. Aku akan mencoba memberikan sedikit damage kepada makhluk ini. Barangkali dia akan lepas,” kata Alex seraya mencabut pedang dari sabuk yang terikat di pinggangnya.

“Bunuh ini! Bunuh makhluk sialan ini!” teriaknya. Ia menyimpan dendam kepada Momon sebelumnya karena tangannya diserang seseorang saat ia hendak melenyapkan benda bulat berbulu sialan ini. Tapi setelah ini, Tuan Besar Blackwood memutuskan mereka akan menjadi musuh bebuyutan.

Tuan Besar Blackwood atau Momon, hanya boleh salah satu dari mereka yang hidup mulai dari sekarang.

Momon merasakan bahaya ketika Alex mendekat dengan pedang di tangannya. Matanya yang bulat berwarna biru langsung terbuka lebar dan penuh dengan aura waspada.

“Aku akan menyerangnya, jangan bergerak terlalu banyak,” kata Alex memperingati.

“Jangan banyak omong. Langsung saja bunuh makhluk terkutuk ini. Aku gak bisa napas!”

Lyla tak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis terbata-bata ketika mereka berniat untuk menyakiti Momon kesayangannya.

Alex pun mengayunkan pedangnya. Tak terlalu kuat, tapi tak terlalu lemah pula. Ia tak menggunakan mana atau skill dalam serangannya. Hanya serangan biasa.

Tapi tetap Momon merasa bahaya yang sangat pekat menghampirinya. Saat itulah rasa genting mengharuskannya mengelak dari serangan Alex.

pooofff!!!

Momon menghilang lagi, menguap menjadi kabut ungu pekat di udara.

Tapi sayangnya, ayunan pedang Alex tak berhenti. Momon menghilang terlalu tiba-tiba.

Pedang itu pun menancap wajah Tuan Besar Blackwood.

“AAAARRRGGHH!!!” Tuan Besar Blackwood merasakan rasa sakit yang sangat pekat di wajahnya. Ia menutupi lukanya dengan tangannya, merah darah mengalir dari sela-sela jemarinya.

Alex Blackwood terkejut. Ia tak menyangka pedangnya bakal menancap dalam ke wajah Tuan Besar Blackwood.

“Aku... aku...” Alex ingin meminta maaf, tetapi suaranya tersedak terbata-bata di tenggorokan. Menyerang tuannya sendiri, karirnya sebagai Knight berakhir sudah.

“AAARRGGHH!!! MAMA!!! MAMA!!! SAKIT!!! SAKITT!!! AAARRGGHH!!!” Tuan Besar Blackwood yang seumur hidupnya lahir di keluarga bangsawan Blackwood, tak pernah mengalami hal barbar seperti ini.

Barangkali, walaupun bisa sembuh, wajahnya akan hancur mulai dari sekarang.

Sedang Lyla yang tak tahu harus berbuat apa hanya bisa menangis tersedu-sedu lagi. Ia memang tak ingin ikut pulang bersama ayahnya tapi ia sangat merasa bersalah melihat apa yang terjadi pada Tuan Besar Blackwood itu.

Pada saat itu pun, muncul Nenek Sari bersama beberapa wanita cantik di belakangnya.

“Jadi begini sifat asli Tuan Besar Blackwood. Bahkan penjaga gerbang Keluarga Malikh lebih jantan dari padanya,” Nenek Sari mendengus ketika berkomentar demikian.

Wanita-wanita di belakangnya hanya tertawa kecil. Mereka adalah Sect Master Yeela, Ryntia Elzier, dan Erin Chyltabel. Serta Bhela Malikh juga ada di rombongan mereka. Semenjak awal, Nenek Sari dan Sect Master Yeela menyadari kehadiran Blackwood. Tapi mereka diam karena ingin melihat sikap dan muka asli Blackwood lebih jauh lagi sebelum mengambil keputusan.

“Kalau Blackwood adalah bagian dari Purple Garden Sect, aku gak akan berpikir dua kali untuk mencabut hak asuhmu setelah melihat sikapmu terhadap Lyla,” kata Sect Master Yeela. “Sekarang Lyla adalah muridku. Jadi aku punya satu-dua hak untuk mengurusi masalah ini. Mulai sekarang Lyla akan ikut denganku. Kalau Blackwood ingin melihat Lyla lagi, maka saat itu Lyla harus dewasa dan sudah bisa membuat keputusannya sendiri.”

Tuan Besar Blackwood hanya bisa merengek kesakitan pelan ketika mendengar nada suara wanita ini yang terdengar sangat berkuasa. Sedang Alex hanya bisa tersenyum pahit sambil mengangkat tubuh Tuan Besar Blackwood dan mengajaknya pergi tanpa menghasilkan suara.

Menunggu Nona Muda Lyla dewasa? Jika benar ucapan Purple Garden Sect menjadikannya murid, di saat Lyla sudah dewasa, ia akan menjadi orang nomor satu di Keluarga Blackwood. Saat itu, bukan lagi hak ayah ibunya untuk menjadikan Lyla sebagai alat politik. Bahkan jika suatu saat nanti Lyla tiba-tiba ingin menjual semua aset Keluarga Blackwood untuk keuntungan pribadinya, siapa yang berani menghentikannya berbuat demikian?

“Ambil ini,” Nenek Sari melemparkan botol ramuan sambil bernada melecehkan. “Blackwood gak diterima lagi di Keluarga Malikh, kecuali Lyla seorang. Kalian sebaiknya pergi dari desa ini sebelum orang-orang yang marah kepada Tatalghia Kingdom berubah pikiran ketika mendengar nama Blackwood.”

Wajah Alex menjadi pucat ketika mendengar itu. Langkahnya semakin cepat membawa Tuan Besar Blackwood pergi setelah memungut ramuan yang dilempar Nenek Sari.

Bhela pun datang menghampiri Lyla, memeluknya dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.

“Cup, cup. Jangan nangis lagi.”

“Huuu... huuu...” Lyla pun mengangguk-angguk menurut dalam dekapan Bhela.

Loading...