C81: Cara Biar Kabut Ungu Menjadi Pekat

Chapter 81: Cara Biar Kabut Ungu Menjadi Pekat

Lyla terdiam ketika mendengar Nenek Sari dan bibi yang memperkenalkan dirinya sebagai Bibi Yeela berbicara.

Bibi Yeela adalah pemimpin di sebuah sekte, katanya. Ia akan mengangkat Lyla dan Bhela sebagai murid. Lyla yang terlalu muda awalnya mendengar Nenek Sari dan Bibi Yeela berdiskusi tentang ini. Tetapi ia tak terlalu banyak memikirkannya.

Tak ia sangka ternyata diskusi itu berakhir dengan ia akan dibawa jauh dari sini nanti. Bersekolah dan belajar menjadi petarung atau ahli di tanah yang tak ia kenal sama sekali.

Awalnya Lyla kebingungan. Tapi ketika mendengar Bhela akan terus bersamanya, Lyla merasa sedikit lega.

“Aku awalnya punya rencana untuk Lyla. Menjadi Rune Master sepertinya cocok untuknya. Aku ingin meminta Lharu untuk mengajarinya jika dia sudah kembali nanti. Tapi kalau Lyla belajar di Purple Garden Sect, aku kira pendidikannya masih terjamin,” kata Nenek Sari kepada Sect Master Yeela.

“Kalau Nenek Sari ingin Pendeta Tinggi yang mengajarinya, aku masih bisa memberikan kelonggaran,” balas Sect Master Yeela.

“Gak perlu. Tadinya aku berencana begitu karena gak punya tempat lain untuk menitipkan Lyla. Kalau bisa aku sebenarnya gak mau mengganggu Lharu. Dia sudah pensiun sekarang. Lebih baik dia mengajari cucu-cicitnya sendiri ketimbang anak orang lain.”

“Kalau begitu nanti aku akan membawa Lyla dan Bhela kembali ke Purple Garden Sect.”

“Mm.” Nenek Sari mengangguk. Wanita muda yang lain, Ryntia, adik seperguruannya Erin, serta Bhela dan Lyla duduk sambil menikmati teh dan kue yang disediakan Keluarga Malikh.

“Purple Bloom Agent akan masih berada di sini. Jadi jangan khawatir masalah Tatalghia Kingdom. Bahkan kalau Tatalghia Kingdom memulai perang besar-besaran, Purple Garden Sect juga akan mengeluarkan pasukan.”

Sect Master Yeela terdiam sesaat, kemudian wajahnya berubah serius.

“Yang kukhawatirkan adalah Moon Temple. Aku yakin Tatalghia Kingdom akan salah paham kalau Pendeta Tinggi yang berada di balik pembunuhan Pangeran Tua Tatalghia,” lanjutnya.

Mendengar itu Nenek Sari hanya tersenyum. “Moon Temple? Jangan khawatirkan Moon Temple. Santai saja.”

“Tapi Moon Temple sudah kehilangan backing-an Lord Darinkha. Apa masih bisa menahan tekanan dari Tatalghia Kingdom?”

“Bukannya Purple Garden Sect memiliki dendam dengan Lord Darinkha? Kalau begini sudah gak ada lagi dinding penghalang bagi Moon Temple dan Purple Garden Sect menjalin hubungan baik, bukan?”

Sect Master Yeela tiba-tiba mengerutkan alis. Dendam mereka kepada Lord Darinkha, tak ada orang luar yang tahu masalah ini.

“Jangan khawatir. Aku hanya dengar sedikit dari Lharu. Kakek itu, tau satu dua hal tentang Purple Garden Sect juga. Jangan lupa dulu mantan istrinya adalah perempuan Purple Garden Sect juga. Mulutku tertutup rapat. Apalagi Lharu.”

Mendengar itu Sect Master Yeela menjadi sedikit lega. Ia sudah mendengar bagaimana Pendeta Tinggi Moon Temple, bila diperlakukan baik, akan bersikap baik pula. Bagi Purple Garden Sect, adalah sebuah keuntungan bila Moon Temple bisa terlepas dari genggaman Lord Darinkha.

“Kapan Purple Garden Sect akan membicarakan pernikahan dengan Keluarga Yashura?” Nenek Sari pun bertanya demikian setelahnya.

Sect Master Yeela tersenyum. Nenek ini selalu menanyakan hal yang sama beberapa hari ini. Tetapi di balas dengan jawaban yang sama oleh Sect Master Yeela. “Sebentar lagi.”

“Master, sedang sibuk apa?”

Kabut Ungu bertanya. Beberapa hari semenjak Shira kehilangan tangannya, tiba-tiba Kabut Ungu menjadi sibuk sendiri dan jarang mengajak Shira berbincang.

“Aku sedang menggabungkan skill,” kata Shira dalam benaknya, menjawab Kabut Ungu.

“Master, lagi? Apa yang kemarin masih belum cukup juga?”

“Sekarang aku penasaran mau menggabungkan tiga skill biasa yang diberikan Mas Arwah Baik Hati dengan ‘Deadly Strike’.”

Kabut Ungu terdiam sejenak sebelum membalas. “Master. Bukannya Kabut Ungu ingin menghancurkan harapan Master. Tapi menggabungkan skill biasa dengan skill Pemberontak bakal percuma saja. Mereka berasal dari sumber yang berbeda. Satu berasal dari mana yang diproses oleh mana sphere, sedang yang lain diproses oleh benih Pemberontak.”

“Hmm. Iya, iya,” Shira membalas dengan malas dan tak acuh.

“Master, bukannya Kabut Ungu sudah menjelaskan ini semenjak kemarin-kemarin?”

Shira menggaruk kepalanya. “Tapi bagaimana harus kubilang, yah? Aku merasa walaupun mereka berasal dari sumber yang berbeda, tapi aku hampir menemukan benang merah yang bisa kugunakan untuk menyatukan mereka.”

Di lantai kamar, berserakan banyak kertas corat-coret yang ditulis dengan pensil arang. Di tengah-tengah kertas yang berserakan itu, duduklah Shira.

Pensil arang dijepit di telinganya. Ia melihat kertas yang ia tulis dengan tangan kirinya, sangat jelek sekali tapi kualitas tulisannya semakin meningkat selama ia menyempatkan untuk melatih tangan kirinya. Walau begitu, tetap Shira bisa membaca apa yang ia tulis.

Lewat apa yang dilihat Shira, Kabut Ungu juga bisa membaca apa yang ditulis Shira.

Kebanyakan hanyalah corat-coret yang dihasilkan kepala Shira saat kepala pemuda itu lagi keras-kerasnya bekerja. Jadi jika tak mengikuti sejak awal, akan sulit memahami apa yang tertera di kertas tersebut. Ada pula ilustrasi dan gambar yang memudahkan Shira untuk mencerna dan mengulas kembali apa yang ia tulis.

Semuanya berkaitan dengan sistem dan struktur aliran mana pada tubuh manusia, beserta gambar mana sphere yang terletak di badan.

Shira banyak mengetahui tentang hal ini semenjak ia banyak menghabiskan waktu di perpustakaan.

Selain itu, Shira juga banyak melakukan eksperimen pada tubuhnya. Alhasil, ia sudah terbiasa untuk lebih mencermati aliran nadi dan urat mana yang bereaksi ketika aliran mana melintas tubuh Shira.

Kemudian di kertas, Shira menggambar tubuh manusia seperti sirkuit. Ada beberapa versi yang ia gambar. Misal, versi ketika ia menggunakan skill ‘Open Wound’, sirkuit yang diterangi Shira berbeda dengan saat ia menggunakan skill ‘Stamina Drain’, atau skill pasif ‘Water Flowing Style’-pun memiliki sirkuit tersendiri.

Sayangnya, Shira tak memiliki banyak data untuk ‘Deadly Strike’. Ia hanya mampu menggunakannya sekali sebelumnya. Jika ia ingin data lebih, barangkali ia harus menggunakannya di kesempatan lain.

Dengan kata lain, ia harus bertarung hidup dan mati lagi bersama musuh yang kuat.

Saat ini tangan kanannya masih buntung. Ia belum melatih tangan kirinya untuk bermain pedang. Butuh waktu lama untuk membiasakan tangan kirinya memegang gagang pedang. Jadi ia masih belum siap untuk bertarung bahkan dengan hewan buas di gunung yang ia kalahkan waktu itu.

“Situasi sedang gawat. Tapi ngapain aja aku dari tadi?” keluhnya setelah berjam-jam tak menemukan jalan keluar.

Kabut Ungu mendengar keluhan Shira. Jadi ia ingin menghibur. “Master, semangat! Jika Master bisa menaikkan wisdom sampai 100, Master bisa menggunakan ‘Conjure Minion’ lagi.”

“Oh, jadi aku bisa membuat Momon yang kedua? Bagaimana soal elemen kabut unguku? Dari mana aku harus mendapat kabut ungu yang cukup untuk menggunakan ‘Conjure Minion’ sekali lagi?”

“Jangan khawatir, Master. Afinitas elemen kabut ungu Master sudah bertambah pekat lagi semenjak beberapa hari yang lalu.”

“Loh, kok bisa? Padahal aku gak ngapa-ngapain. Kapan aku mendapatkan elemen kabut ungu?”

“Sebelum Master berduel dengan Frane Blackwood.”

“Hmm? Waktu itu aku ngapain?”

Kabut Ungu pun menjelaskan alasannya. “Kabut ungu di tubuh Master bertambah pekat ketika Master mencium bibir Lyla.”

Pada saat itu juga jantung Shira hampir melompat. “Kabut Ungu... apa yang kamu bilang barusan.”

“Saat Master mencium bibir Lyla,” jawab Kabut Ungu dengan nada malu-malu.

Shira tercengang. Kabut Ungu selama ini memberikan penjelasan ambigu soal elemen kabut ungu. Shira mengira ia harus menemukan arwah hewan kabut ungu lain untuk diserap untuk membuat elemen kabut ungunya lebih pekat lagi.

Tak pernah ia sangka, pengalaman pahitnya ditolak oleh Lyla bisa membuat kekuatannya menjadi berlipat ganda.

Loading...