C82: Rasa Bersalah

Chapter 82: Rasa Bersalah

Melihat Shira yang kebingungan, Kabut Ungu akhirnya menjelaskan.

“Ada banyak cara untuk meningkatkan kepekatan elemen kabut ungu. Seperti yang kita tau, Master awalnya sangat beruntung bisa mendapat kabut ungu sebelum menjadi Spirit Conductor. Untuk Spirit Conductor lain kan belum tentu bisa mendapat kabut ungu selama mereka hidup. Bahkan gak sedikit yang mencari kekuatan ini sampai ke ujung alam semesta.”

Shira mengangguk. Siapa pun, walau tak ambisius, bila mengetahui potensi kabut ungu ini, akan tergiur untuk mencarinya sekuat tenaga.

“Tapi bila sudah mendapatkan kabut ungu ini, menaikkan kepekatannya bisa dibilang susah-susah gampang. Yang Master harus lakukan adalah mendapatkan energi emosional murni untuk memberikannya pupuk.”

“Energi emosional murni?”

“Ya. Seperti cinta, kecewa, dendam, cemburu, marah, lega, bahagia... semua dari mereka, jika bisa menyentuh perasaan dan berubah menjadi energi emosional murni, bisa membantu Master untuk membuat elemen kabut ungu Master menjadi lebih kuat lagi!”

“Jadi begitu rupanya,” Shira mengangguk-angguk lagi. Saat hari di mana ia berduel dengan Frane, Shira merasakan cinta yang membara sampai ia kehilangan diri dan mencium Lyla. Kemudian ia mendapati cintanya bertepuk sebelah tangan, barangkali rasa kecewanya juga memperkuat elemen kabut ungunya lebih jauh lagi?

“Tapi di sisi lain, Master, mereka yang memiliki elemen kabut ungu cenderung lebih emosional ketimbang saat mereka belum mendapatkan elemen kabut ungu. Banyak dari mereka yang kehilangan kendali rasional kepada hati mereka, yang terkadang juga menyebabkan banyak masalah.”

“Jadi begitu,” Shira mengayunkan kepalanya ke atas dan ke bawah. “Gara-gara aku kehilangan kendali rasional aku gak sengaja mencium bibir Lyla waktu itu.”

“Master... walaupun begitu, seharusnya Master gak mencari alasan untuk kabur dari kenyataan.”

Shira tercengang. Kabut Ungu selalu bersikap manis dan menurut tapi terkadang ucapannya bisa kejam juga.

Selanjutnya Kabut Ungu menjelaskan lagi tentang cara lain menambah kepekatan kabut ungu.

“Pun selain energi emosional murni, kebalikannya juga memiliki efek yang kurang lebih sama efektifnya. Kita sebut aja energi lain ini sebagai energi emosional hampa. Energi emosional murni, dengan energi emosional hampa, berada di dua spektrum yang berbeda. Jika Spirit Conductor sudah terbiasa menyerap salah satu energi tersebut, temperamen mereka akan terpengaruh dan akan sulit untuk kembali seperti diri mereka yang dulu.”

Dengan kata lain, semakin Shira memperkuat energi kabut ungunya, kepribadiannya semakin lama terselip berubah menjadi orang lain. Apa itu yang Kabut Ungu ingin jelaskan?

“Jadi, energi emosional hampa yang kamu maksud, apa berarti aku harus membuat emosiku hampa? Mematikan empatiku, seperti menjadi pembunuh berdarah dingin?”

“Bisa jadi. Salah satu contohnya seperti yang Immortal Blood Knight katakan pada Master!”

Shira ingat, sewaktu kakek yang bersemayam di dalam dirinya meracau terus-menerus, sewaktu ia melihat gerbang berkabut ungu di dalam dirinya pertama kali... Immortal Blood Knight mengatakannya pengecut karena ragu memilih kekuatan, dengan bayaran ia harus menjadi pembunuh massal berdarah dingin.

Raja Gunung mengejar energi emosional murni, karena itu temperamennya sedikit eksentrik dan dia selalu terobsesi pada dendam. Sedang Kaisar Langit mengejar energi emosional hampa, pembawaannya sangat rasional, terobsesi pada keseimbangan hukum waktu yang dia pegang, serta selalu bertangan besi menegakkan hukum dan amandemen langit. Itu contoh Spirit Conductor yang berada di puncak antar dua energi yang saling bertolak belakang.

“Katanya, kalau Spirit Conductor yang memilih dua energi berbeda bertemu satu sama lain, mereka bakal ditakdirkan untuk menjadi musuh bebuyutan dan bertarung dari masa ke masa seperti Raja Gunung dan Kaisar Langit.”

Shira sedikit terkejut tentang cerita Kabut Ungu kali ini. Padahal mereka semua adalah dirinya di dunia paralel lain. Hanya masalah sepele seperti ini, mereka mencari masalah sampai saling bertarung mati-matian seperti itu?

Ia tak mengerti apa yang dirinya di dunia lain pikirkan. Jika itu Shira yang sekarang, yang di dunia ini, diminta untuk memihak antara dua energi dan memilih kubu mana yang akan ia bela... maka saat itulah Shira akan lebih memilih untuk tidur saja.

“Tidur lebih baik ketimbang kita semua saling bermusuhan,” gumam Shira.

Mendengar gumaman Shira, Kabut Ungu pun langsung berkata, “jangan khawatir, Master! Ada rumor tentang energi yang lebih kuat ketimbang dua energi itu. Aku akan membantu Master untuk mendapatkannya selama kesadaranku masih ada di sini!”

Shira mengangguk mendengar Kabut Ungu yang saat ini sedikit terlalu bersemangat.

Beberapa saat kemudian, karena penelitiannya tentang skill gabungan terbentur dinding, Shira keluar dari kamarnya.

Ia berencana untuk mendapatkan ‘Scroll of Wisdom’. Jika membacanya beberapa di level tertentu, wisdom-nya bisa bertambah pesat. Targetnya kali ini mencapai 100 poin wisdom untuk bisa menggunakan ‘Conjure Minion’ sekali lagi dan menciptakan teman untuk Momon.

Tangan kanannya sudah buntung. Shira berpikir. barangkali Paman Shuro akan memanjakannya sekarang.

Awalnya memang pemuda itu tak meminta terlalu banyak karena level-nya selalu tersangkut di level 3. Selalu menjaga keinginannya untuk dirinya sendiri.

Tapi sekarang karena ia secara resmi memenangkan duel dengan Blackwood, dan pula kehilangan tangannya, meminta beberapa ‘Scroll of Wisdom’ kepada pamannya Shuro tak akan menjadi masalah.

“Nanti kalau aku bisa mencari cara untuk menukar koin emas Kakek Lharu menjadi emas biasa, aku akan membeli scroll-ku sendiri. Aku juga bakal membayar hutang-hutangku kepada Paman Shuro,” pikirnya dalam hati. Orang tuanya sangat jarang berada di sisi Shira. Jadi selama ini, ia selalu menganggap dirinya menumpang kepada Shuro Yashura.

Ia berjalan santai ke ruangan di mana Shuro Yashura selalu berada. Sebuah ruang lesehan tempat Shuro selalu menjamu tamu penting, atau berdiskusi dengan orang lain tentang hal-hal penting, atau bisa saja menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tak penting.

Tak sengaja, Shira pun mendengar beberapa orang membicarakan tentang dirinya.

“Ini semua gara-gara Tuan Muda Shira,” kata seseorang menyalahkan.

“Kalau dia bisa menahan diri semua ini gak bakal ada kejadiannya. Apa dia gak tau waktu itu yang diancam sama dia adalah Pangeran Tatalghia?” yang lain menambah.

“Dia tau. Apa kamu lupa isi sahut-sahutan Shira sama Pangeran Tatalghia?”

Shira menghentikan langkah kakinya di dekat pintu ruangan itu. Tapi tak menampakkan diri. Walau ia tak menguping, mau tak mau, ia akan mendengar apa yang terucap dari dalam ruangan. Lagi pula tak ada dari mereka yang malu untuk berbicara lantang menyalahkan keadaan seperti itu.

“Apa boleh buat,” suara Shuro terdengar sekarang. “Shira itu anaknya baik dan penurut. Biasanya kalau ada yang ngejek dia cuma diam aja. Tapi coba bayangkan posisinya waktu itu. Dia menjadi sorot perhatian banyak orang, padahal kita semua tau dia orangnya gak suka keramaian. Tekanan banyak dari sana-sini. Terus tiba-tiba ada yang ngejek keluarga kita. Mungkin karena dia jadi sorot perhatian dan tekanan seperti itu dia merasa punya kewajiban untuk membalas Pangeran Tatlaghia.”

“Tapi tetap saja, itu kelewatan!”

“Iya. Kalau cuma membela keluarga kita kan itu gak apa-apa, silahkan aja. Tapi kesannya, dari sikapnya waktu itu, dia kepingin kelihatan keren.”

Banyak yang bernada negatif, komplain kepada Kepala Keluarga Yashura. Dari suara Shuro pun ia berusaha untuk membela Shira di saat yang bersamaan tak ingin membuat yang lain merasa ia terlalu berat sebelah dalam perkara ini.

Tapi tetap saja, ada di antara mereka tak suka mendengar nada-nada negatif tersebut.

“Apa yang kalian bicarakan sebenarnya? Tuan Muda Shira sudah kehilangan tangannya. Apa kalian masih mau menyalahkannya? Jelas-jelas kita dizalimi oleh orang-orang picik. Apa kalian masih punya waktu untuk main saling tunjuk-menunjuk sekarang?”

Shira bisa mendengar itu adalah suara milik Tilang Yashura. Nenek yang menjadi Dewan Besar Keluarga Yashura, si Alchemist Tier 2 di Keluarga Yashura.

Tilang Yashura melanjutkan. “Kalau kita mau main menyalahkan, kondisi Keluarga Yashura bakal lebih buruk sekarang. Yang hanya kita bisa lakukan sekarang adalah memanggil Jhuro, biasanya dia pandai menyelesaikan masalah yang seperti ini.”

“Tapi sudah beberapa bulan kita gak mendengar apa-apa dari Jhuro.”

Suara Shuro pun berkata lagi. “Nenek Tilang benar. Kita semua harus berkepala dingin sekarang. Gak perlu menyalahkan siapa-siapa. Lagi pula, sejak awal alasan masalah ini terjadi adalah arwah yang muncul di pesta kedatangan Kakek Lharu waktu itu membunuh Pangeran Tua Tatalghia.”

“Kepala Keluarga, Anda bilang jangan menyalahkan siapa-siapa, tapi barusan Kepala Keluarga menyalahkan arwah itu...”

“Bukan cuma arwah itu. Pasukan perempuan yang menyebut diri mereka Purple Garden Sect juga banyak membantai orang-orang Tatalghia Kingdom. Masalah ini awalnya terjadi gara-gara Blackwood sama Pangeran Tatalghia muda bersekongkol untuk memberi Tuan Muda Shira pelajaran, bukan? Tapi kenapa ya... seolah-olah kelihatannya yang jahat adalah keluarga kita.”

“Padahal keluarga kecil seperti Keluarga Yashura kita ini gak tau apa-apa.”

Tak ada yang saling membantah dan mengomeli perkataan satu sama lain sekarang. Orang-orang dewasa di dalam ruangan itu, hampir semuanya mengeluarkan napas panjang secara bersamaan.

Sedang Shira duduk bersila di lantai, di luar ruangan. Akan terasa canggung bila ia tiba-tiba muncul ketika sepuh-sepuhnya di dalam tengah membicarakan tentang dirinya.

Beberapa saat kemudian, mereka berdiskusi lagi tentang masalah lain. Topik utama tak jauh dari keselamatan Keluarga Yashura dari amukan Tatalghia Kingdom.

Shira tak ingin mengganggu mereka. Rencananya meminta ‘Scroll of Wisdom’ dari pamannya Shuro pun sudah tak ada lagi di benaknya.

Lalu Shira melihat Yulong datang membawa teko teh dan beberapa gelas berwarna biru pucat. Gelas itu jarang digunakan, tapi senior-senior Keluarga Yashura suka memakainya jika ada rapat keluarga yang bakal berlangsung selama berjam-jam.

Yulong menyapa Shira dengan menganggukkan kepalanya, tak berkata apa-apa.

Shira balas mengangguk. Setelah Yulong masuk membawakan teh, Shira bangkit dan pergi tanpa bersuara sama sekali.

Kabut Ungu tak tahu apa yang dipikirkan Shira sekarang. Tapi ia merasa semangatnya terjun bebas menghantam bumi.

Ia pun berjalan ingin keluar dan bermalas-malasan di bukit dekat kediaman Keluarga Yashura seperti biasa. Merenung dan menghabiskan waktu seorang diri.

Tapi belum ia berjalan keluar gerbang, ia melihat Mila kakak sepupunya menghampiri.

“Apa kamu berteman sama berandalan baru-baru ini?” tanya Mila dengan wajah yang tak puas.

Shira tak mengerti apa yang dimaksud kakaknya. Jadi ia menggelengkan kepala.

“Orang-orang aneh itu menyebutmu Bos Shira. Coba kamu cek mereka. Kayaknya mereka ngajak kamu main. Tapi jangan terlalu banyak bergaul sama berandalan seperti itu, nanti kamu bisa ketularan jadi bego juga.”

Setelah berkata demikian, Mila pergi dari situ.

Shira berjalan lagi menuju gerbang. Di situ, ia melihat tiga wajah yang lumayan tak asing menunggu.

“Bos Shira!” sahut salah seorang dari mereka. Ia adalah Pilek, anak buah Bony yang dulunya mengikuti Shira saat ia berlatih seorang diri di gunung waktu itu. “Ayo kita bentuk party terus hunting di hutan. Sekarang desa sedang sepi, cukup empat orang aja nanti hasil jarahan kita bakal berlimpah.”

Shira mengangkat alisnya ketika melihat tiga pemuda yang tiba-tiba bersikap akrab ini.

Ingatannya masih segar. Dulunya ia sempat takut keluar untuk menghindari dibully tiga orang ini. Terutama oleh Bony. Saat Shira kecil dulu ia selalu takut pada Bony yang beberapa tahun lebih tua darinya.

Tapi sekarang, entah mengapa ia tak bisa merasa benci pada tiga orang ini. Barangkali karena jeda puluhan tahun semenjak kesadarannya terjebak di laut, ia hanya menganggap bullyan mereka hanyalah iseng anak kecil di masa lalu.

Terlebih lagi, Shira merasakan aura yang tak asing keluar dari tubuh Bony. Aura kakek itu... Immortal Blood Knight?

Saat Shira melihat ke wajah Bony, pemuda awal dua puluh yang dulu ia takuti itu malah membuang wajahnya. Seperti ia malu untuk membalas tatapan Shira sekarang. Ia mengerti gerik isyarat seperti itu, menandakan seseorang sedang merasa bersalah.

Beberapa detik menimbang, akhirnya Shira menjawab. “Empat orang aja? Oke. Kalian jalan di depan.”

Loading...