C84: Para Pembunuh Kiriman Tatalghia Kingdom

Chapter 84: Para Pembunuh Kiriman Tatalghia Kingdom

Di jalan menuju Desa Badril.

Tempatnya beberapa puluh kilometer dari utara Desa Badril. Jalan ini menghubungkan Desa Badril dengan desa tingkat tiga lainnya.

Karena dua desa yang dihubungkan oleh jalan ini tak begitu berkembang kondisi ekonominya, jalan tersebut kondisinya sama sekali tak terawat. Hanya sekedar terbentuk dan tak ditumbuhi rerumputan liar karena terlalu sering dilewati oleh penduduk dan pengelana.

Bisa dibilang juga ini adalah jalur dagang antar dua desa yang bersangkutan.

Matahari bertengger di atas kepala, seperti berjarak sepuluh jengkal di atas kepala karena iklim di sini sangat kering ketimbang tempat lain di Benua Tiramikal.

Hal ini sangat mengesalkan bagi pendatang, terutama mereka yang sebelumnya tinggal di daerah dataran tinggi yang pada dasarnya sejuk dan sinar matahari sangat bersahaja.

Saat ini, di jalan tersebut, melintas kereta kuda sederhana.

Suara reyot terdengar samar-samar ketika kereta kuda itu berusaha menjaga kecepatan di atas tanah berbatuan. Kudanya juga sudah tua, warna tubuhnya cokelat pudar seakan sudah terlekang oleh usia serta mata kuda tersebut tak lagi bugar memperlihatkan vitalitas hewan penarik kereta kuda.

Penampilan seperti itu sebenarnya tak asing terlihat pada kereta kuda pedagang dua desa. Jika keretanya sudah separah itu, biasanya pedagang tersebut adalah pedagang miskin. Suplai yang dibawa di dalam kereta kuda hanya seadanya saja. Hanya bandit yang kurang kerjaan yang akan merampok kereta kuda seperti ini.

Tapi diam-diam, tiga orang di atas kereta kuda tersebut bukanlah pedang miskin.

Mereka bahkan bukanlah pedagang.

“Nomor Tujuh, mukamu gak ada semangat sama sekali. Apa kamu gak puas bayaran kali ini?” tanya salah seorang yang duduk di belakang kereta kepada temannya yang paling muda di situ.

“Bang Lima, bukannya aku gak puas atau ngeluh, tapi dari tadi perasaanku gak enak.”

Yang mengemudi di depan adalah yang paling dewasa. Seorang pria paruh baya berwajah lonjong dan bermata sayu. Ketika mendengar dua temannya berbincang setelah beberapa jam hening, ia pun menoleh ke belakang dan berkata, “kalau kamu ragu, turun di sini juga gak apa-apa. Aku sama nomor lima sebenarnya juga sudah cukup. Asal ada celah buat nyelip perhatian Purple Garden Sect, masalah bakal beres. Kamu tetap dapet lima puluh persen bagianmu walaupun gak ikut masuk ke Desa Badril.”

Sekarang mereka menyamar menjadi pedagang. Tapi sebenarnya mereka tak memiliki nama, hanya menyebut rekan dengan urutan berdasarkan senioritas.

Tiga orang ini adalah Nomor Tiga, Nomor Lima, dan Nomor Tujuh. Mereka adalah anggota guild pembunuh bayaran kecil, tapi handal, yang disewa oleh Tatalghia Kingdom.

“Mm, gak apa-apa kamu mundur sekarang. Lawan kita Purple Garden Sect, kalau ketauan habis sudah kita bertiga,” kata si Nomor Lima. “Kamu sebaiknya memutuskan kalau kita sudah dekat Desa Badril.”

Si kusir, Nomor Tiga, berkata: “Kalau Purple Garden Sect kurang dari setahun membawa pasukan mereka ke sini, aku bisa jamin enam puluh persen misi kita bakal sukses. Delapan puluh lima persen aku jamin kita bisa kabur dengan nyawa kita. Itu hitung-hitunganku. Kalau kamu ragu sama lima belas persennya, aku bakal menghentikan kereta kuda ini dan membiarkanmu turun.”

Tak ada yang menyalahkan bila Nomor Tujuh, yang usianya nampak tak lebih dari dua puluh, mundur dari misi ini. Mereka masuk ke kandang singa. Hanya saja, saat ini tiga pembunuh tersebut tak yakin apakah hutan yang mereka lalui ini sudah menjadi wilayah kekuasaan singa tersebut.

Nomor Tujuh menggelengkan kepala. “Kalau aku mundur kali ini, bagaimana mungkin aku bisa mempertahankan muka kakak adikku?”

Dua seniornya tersenyum dan mengangguk kecil.

“Kalau kamu sudah berkata seperti itu, berarti kamu sudah siap gugur di sini,” simpul si Nomor Lima.

“Ya! Aku siap!” kata Nomor Tujuh mantap, mencoba membangun kepercayaan dirinya.

“Haha, gak perlu terlalu bersemangat kayak gitu juga,” Nomor Tiga mengeluarkan tawa lebar. “Asalkan kita dapat bocah bernama Shira Yashura, sama beberapa anggota keluarga itu, tugas kita selesai. Kalau Purple Garden Sect bener-bener muncul, kita gak perlu mati-matian lawan mereka. Kabur juga gak apa-apa. Toh sebenarnya Tatalghia Kingdom juga bayar kita untuk ngecek kekuatan sama pengaruh Purple Garden Sect di wilayah ini.”

“Apa perasaanmu masih gak enak juga,” tanya si Nomor Lima kepada juniornya yang paling muda.

“Sedikit,” jawab Nomor Tujuh.

Beberapa saat kemudian, di jalan yang sepi, mereka bertemu dengan kereta kuda yang rodanya terlepas.

Hanya sepasang suami istri yang mengendarai kereta kuda itu. Si suami sedang sibuk jongkok dan mengganti roda kereta dengan yang baru. Sedang istrinya tengah mengelus lembut perutnya yang timbul karena hamil.

“Ada orang di depan,” kata Nomor Tiga pelan.

“Apa kita ganti kendaraan sekarang?” tanya si Nomor Tujuh yang paling muda di situ.

Nomor Tiga, sebagai seorang yang mengambil keputusan di regu pembunuh tiga orang tersebut, memicingkan matanya memperhatikan kereta kuda yang ada di depan.

Kereta kuda yang mereka gunakan sudah banyak terlihat di desa sebelumnya. Bila ada mata-mata di situ, ada kemungkinannya mereka akan masuk jaring yang dibuat oleh musuh mereka. Pembunuh yang berpengalaman tak akan menggunakan kendaraan dan identitas yang sama selama beberapa hari, sehingga keberadaan mereka lebih sulit untuk dilacak.

Bentuk kereta kuda tersebut biasa, warnanya pun sudah agak memudar. Sama sekali tak mencolok. Tapi masih perlu diperhatikan dari dekat bila mereka ingin mencuri kereta kuda ini. Lagi pula sama saja cari mati bila kereta kuda yang mereka curi nanti dikenali oleh orang-orang di desa selanjutnya.

Nomor Lima dan Nomor Tujuh diam, menunggu keputusan Nomor Tiga senior mereka.

“Ayo kita lihat dulu dari dekat,” katanya kemudian.

Kereta kuda yang dinaiki oleh tiga pembunuh yang menyamar sebagai pedagang itu pun memelan saat menghampiri pasangan yang roda kereta mereka rusak.

“Butuh bantuan?” sapa Nomor Tiga kepada si suami yang kerepotan memperbaiki kereta kudanya.

Si suami mendongak, melihat wajah asing yang memasang senyum ramah kepadanya. “Oh, terima kasih. Aku gak biasa mengurusi hal seperti ini.”

Tiga pembunuh itu pun turun dari kereta kuda mereka. “Coba kulihat,” kata Nomor Tiga dengan nada percaya diri, berpenampilan seperti orang asing yang dapat diandalkan.

“Wah, makasih lagi. Kami terselamatkan sekarang,” si suami bangkit dan menurunkan topinya dan menempelkannya di dada sebagai gerik isyarat sopan, menampilkan kepalanya yang botak plontos.

Istrinya tersenyum lebar. Parasnya yang lumayan cantik untuk wanita desa, sangat segar dipandang. Tak berkata apa-apa seraya terus mengelus lembut perutnya yang hamil.

Dengan akrab si Nomor Tiga bertanya masalah dan berbincang-bincang dengan si suami. Sedang Nomor Tujuh mengambil posisi di belakang si suami yang sibuk mengobrol dengan Nomor Tiga.

Di saat yang bersamaan, Nomor Lima bergerak mendekati si istri sambil pura-pura meregangkan badannya yang kaku karena perjalanan panjang.

Wanita hamil tersebut hanya tersenyum dan mengangguk kecil kepada Nomor Lima. Nampak tak sadar mereka akan dibunuh dan kereta kuda mereka dicuri sebentar lagi.

Nomor Lima menoleh ke arah juniornya Nomor Tujuh ketika ia sudah selangkah dengan wanita hamil itu. Pura-pura akan melewatinya, tetapi diam-diam berkoordinasi dengan Nomor Tujuh untuk menyerang pasangan suami istri ini pada saat yang bersamaan.

Nomor Tujuh memberikan angguk kecil, tanda ia sudah siap.

Nomor Lima pun dengan gesit dan lincahnya mengeluarkan pisau kecil yang tersembunyi di tubuhnya, menggunakan trik kecil untuk menusuk perut hamil wanita itu, membuatnya bingung dan kesakitan, hingga akhirnya dihabisi ketika benar-benar lengah dalam keterkejutan serangan dadakan tersebut.

TSK!

Pisau menembus baju wanita itu, menikam perut hamilnya. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya, malah membuat si Nomor Lima panik.

“Taik!” dalam waktu sepersekian detik ketika pisaunya menusuk perut hamil wanita tersebut, Nomor Lima merasakan seperti ia menusuk balon, bukannya daging manusia.

Ia menarik kembali pisaunya, mencoba menyerang area vital wanita itu, yang agak merepotkan dicapai dari sudut dan arah dari situ. Tapi ia terkejut, tiba-tiba tangannya yang memegang pisau ditarik oleh wanita hamil tersebut.

Nomor Lima terbelalak. Pupil matanya mengecil seperti bintik ketika ia menyadari, senyum wanita itu menghilang, meninggalkan dingin di matanya yang kejam.

Tak sempat pembunuh itu menarik napas selanjutnya, wanita hamil yang ia serang sudah melancarkan serangan balasan.

Lehernya ditusuk oleh pisau tersembunyi yang mirip dengan senjatanya sendiri.

“Ekkh...” erangan Nomor Lima yang meredam kabur dari bibirnya. Suaranya sangat kecil tapi sempat di dengar oleh Nomor Tiga.

Nomor Tiga melompat refleks. Berguling dan mencoba menghindari diri dari jangkauan musuh.

Ketika ia melihat dua rekannya, wajah Nomor Tiga langsung tenggelam.

Rekannya Nomor Lima tertusuk pisau di leher, darah mengucur, beberapa detik kemudian ia tewas. Sedang Nomor Tujuh jangan ditanya lagi. Sebuah anak panah tanpa sebab dan tanpa suara tiba-tiba saja sudah menembus jantungnya dari punggung. Tubuhnya pun ambruk tak bernyawa lagi.

Wajah Nomor Tiga semakin menghitam, ketika ia melihat wajah si suami menguap menjadi kabut berwarna ungu, memperlihatkan wajah putih mulus dan cantik seorang wanita. Sedang si istri, kabut ungu menguap melalui celah-celah kain bajunya. Perutnya yang hamil tiba-tiba menghilang.

“Purple Bloom Agent!” saat nama itu terselip dari bibirnya, Nomor Tiga tahu kesempatannya untuk selamat hanya beberapa puluh, bahkan belasan persen. Ia tak menyangka mereka bakal ketahuan sebelum sampai ke Desa Badril.

Kejadian ini membuat Nomor Tiga berkesimpulan bahwa pasukan Purple Garden Sect sudah cukup lama menanam akar fondasi di wilayah ini, sampai-sampai pengaruh dan jaringan informasinya begitu ketat hingga profesional seperti tiga orang pembunuh ini terjebak begitu saja.

Dua rekannya, dalam waktu yang begitu cepat, tiba-tiba saja meregang nyawa. Hati Nomor Tiga mengerut ketika mengingat ia sama sekali tak mendengar suara tali panah ditarik, atau bising anak panah melesat membelah angin.

Dari situ saja, ia bisa menyimpulkan regu yang menyergap mereka adalah pasukan elite. Purple Bloom Agent.

Pembunuh tersebut merasakan bahaya yang semakin pekat lagi menggerogoti kulitnya yang kering. Ia harus kabur sekuat tenaga dari situ!

Namun sayang, belum sempat ia mengambil keputusan ke arah mana kakinya akan berlari, sebuah pisau lempar sudah menancap di belakang kepalanya. Menembus tulang tengkoraknya dan menusuk tepat di otak. Ia pun tewas seketika.

Sect Master Yeela membawa Ryntia, Erin, dan dua murid barunya ke kaki gunung Desa Badril.

Ia sudah membaca laporan tentang Bhela Malikh. Potensinya memuaskan, dan temperamennya ketika dicermati menunjukkan bahwa ia bisa bersikap profesional. Bibit yang bagus bahkan untuk sekte besar seperti Purple Garden Sect.

Tapi Sect Master Yeela ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana performa murid barunya di lapangan. Jadi ia mengunjungi Keluarga Malikh hari ini dan meminta Nenek Sari untuk memberikan dua gadisnya, Bhela dan Lyla, pergi ke hutan di belakang desa.

Sebenarnya ada agenda yang lebih penting hari ini. Sect Master Yeela mendengar bahwa Lyla berhasil menemukan bakat tersembunyi Momon.

Momon, saat ini, adalah makhluk yang paling diperhatikan Purple Garden Sect. Tapi di antara mereka, hanya beberapa orang yang tahu asal-usulnya.

Sect Master Yeela sudah sering bertemu dengan arwah singa kabut ungu saat ia mengunjungi leluhur Purple Garden Sect. Jadi ia selalu mengingat aura singa berbulu ungu yang ribuan tahun menjaga sektenya itu. Dan sekarang, samar-samar ia merasakan aura yang mirip menyeruak dari tubuh Momon.

Sect Master Yeela, Ryntia Elzier, Erin Chyltabel, Bhela Malikh, dan Lyla Blackwood. Lima perempuan itu masuk ke sebuah toko kecil beberapa menit yang lalu.

Ryntia mentraktir Bhela dan Lyla banyak peralatan, ramuan, dan bekal serta anak panah. Uang yang dikeluarkan sangat banyak ketimbang konsumsi Bhela dan Lyla seperti biasanya. Tetapi Ryntia Elzier hanya tertawa kecil ketika dua adik seperguruannya yang masih manis-manis ini merasa enggan dibayarkan olehnya.

“Terima saja. Nanti di kesempatan lain kalian bakal melihat item-item yang dimiliki oleh sekte kita,” bujuk Erin sebagai kakak kedua.

Bhela dan Lyla akhirnya menerima. Lyla dapat lebih sedikit daripada Bhela, karena pada dasarnya ia sama sekali tak bertarung. Selama ini, bila Bhela hunting bersama party, Lyla selalu ikut untuk bisa memetik tanaman herbal liar yang tumbuh di gunung dan hutan.

“Lyla, aku dengar dari Nenek Sari kamu menemukan bakat Momon?” tanya Sect Master Yeela lembut.

“Mn. Momon ternyata pintar, bisa menemukan benda yang kucari dengan mudahnya,” jawab Lyla dengan suaranya yang manis dan polos.

“Oh, seperti bagaimana?”

“Kalau aku menjelaskan benda yang ingin kucari kepada Momon dan melepaskannya, dia akan pergi untuk mengambilnya sendiri. Beberapa menit kemudian dia akan kembali dengan benda yang kuinginkan.”

“Apa kamu ingin Momon mencarikanmu tanaman herbal langka?”

“Mm!” Lyla mengangguk keras dan bersemangat, sudah tak sabar melepas Momon untuk mencarikannya tanaman herbal langka nanti.

Sect Master Yeela tersenyum. Semakin besar afinitas Lyla dengan Momon, maka potensinya barangkali tak tertinggal jauh dengan tiga kakak seperguruannya. Mungkin nanti, bila Momon bisa tumbuh menjadi makhluk kabut ungu yang hebat, status Lyla di Purple Garden Sect tak kalah dengan eselon tertinggi sekte bahkan sang Sect Master sekalipun.

“Hmm, Ryntia, bukannya itu adikmu Bonithon?” Erin tiba-tiba melihat sosok Bony berjalan masuk ke toko lain. Di belakangnya ada tiga pemuda, yang satu sangat mencolok karena baru kehilangan tangannya beberapa hari ini.

“Bony sudah akrab dengan Shira?” Ryntia mengangkat alisnya. Ia tahu di masa lalu, hubungan Shira dan Bony sangat keruh sekali. Jika Bony bisa meringankan keadaan, akan tenang rasanya di masa depan karena baik Bony, Ryntia, atau Purple Garden Sect, tak bisa melepaskan diri dari kontrak yang mereka buat dengan Immortal Blood Knight.

“Itu bagus. Aku kira aku harus turun tangan supaya dua anak itu bisa akrab,” kata Sect Master Yeela menganggukkan kepalanya lembut.

Beberapa saat kemudian Bony, Pilek, Polio, dan Shira di belakang mereka keluar dari toko itu. Mereka sama sekali tak menyadari ada mata yang memperhatikan saat mereka menaiki tangga gunung Desa Badril.

Beberapa menit lagi berlalu. Sect Master Yeela dan yang lain masih di toko tersebut. Saat ini, seorang wanita berparas biasa dan tak mencolok membuka pintu dan menghampiri Sect Master Yeela.

“Lapor Sect Master. Ada ikan lagi yang masuk jaring,” bisiknya di sebelah telinga Sect Master Yeela.

“Sudah yang ke delapan kali. Tatalghia Kingdom sepertinya sudah sadar fondasi kita di sini,” kata Sect Master Yeela pelan.

“Sect Master, tolong berikan perintah selanjutnya!”

“Lebarkan sedikit pertahanan. Lain kali, bila ikan lain masuk jebakan, biarkan masuk ke dalam kolam dan mari kita lihat bagaimana mereka berenang di wilayah kita.”

“Siap, laksakan!”

Sect Master Yeela teringat sesuatu. “ Apa kalian sudah mendapatkan informasi yang kuminta?”

Wanita yang membawa pesan tersebut tahu Sect Master Yeela akan meminta hal tersebut. Jadi ia sudah menyiapkan sebuah gulungan bersamanya sebelum masuk ke toko ini.

Sect Master Yeela membuka lembaran gulungan itu dan tersenyum ketika melihat isinya. Beragam informasi tentang riwayat hidup seseorang, kepribadiannya, koneksinya, sejarah keluarganya... tertulis jelas dan rinci di situ.

Selain informasi-informasi tersebut, ada pula sketsa pensil detail seorang gadis kecil mungil. Tetapi usianya tujuh belas tahun sekarang.

“Lapor Sect Master Yeela. Bawahan Anda tadi melihat gadis yang ada di dokumen itu muncul bersama Tuan Gyl.”

“Oh,” Sect Master Yeela sedikit terkejut. Ia mengira Gyl masih akan menyembunyikan gadis ini di Desa Badril.

“Selain itu, Tuan Gyl sepertinya juga membawa gadis itu ke gunung sekarang.”

“Hmm? Apa yang diinginkan Tuan Gyl untuk membawa gadis kecil seperti dia kemari?”

“Kami masih belum mengerti motivasi Tuan Gyl,” kata wanita itu menggeleng kecil pasrah. “Tuan Gyl adalah sosok yang paling sulit diganggu oleh Purple Bloom Agent. Jika kami terlalu dekat dia selalu menyerang balik.”

“Menyerang balik?”

Jelas wanita yang melapor tersebut, walau sangat hormat dan patuh kepada Sect Master Yeela, merasa enggan untuk menjelaskan apa yang ia maksud dengan Gyl menyerang balik.

“Gadis itu sepertinya sudah ada di atas gunung sekarang, mengingat Tuan Gyl mempunyai sarang di puncak gunung.”

“Mm. Laporan yang bagus. Kamu bisa mundur sekarang.”

Wanita itu pergi secepat ia datang, tak ada yang menyadari kehadirannya di toko tersebut selain Sect Master Yeela, Ryntia, dan Erin.

Sect Master Yeela mengedipkan matanya melihat sketsa wajah gadis di dokumen yang ia pegang.

“Gadis bernama Merly Yurin ini sangat manis. Apa Tuan Gyl mau mencalonkannya juga ke dalam daftar harem Shira?”

Loading...