C88: Perempuan Melawan Perempuan

Chapter 88: Perempuan Melawan Perempuan

Merly Yurin bermimpi menjadi Mage terkenal suatu hari nanti.

Membuat semua orang hormat. Membuat keluarganya bangga. Kemudian bertemu dengan pria tampan dan mapan, akhirnya menikah dan bahagia membentuk keluarga kecil.

Itu adalah mimpi gadis biasa.

Awalnya Merly merasa mustahil untuk mewujudkan mimpi idealnya. Talentanya petarungnya bukanlah yang terbaik di Keluarga Yurin. Memiliki wajah yang lumayan cantik, takdir yang menunggunya adalah dinikahkan ke keluarga bangsawan lain untuk tujuan politik.

Semua itu berubah ketika ia bertemu dengan Mama Ross.

Arwah wanita itu dengan sabar membimbingnya. Perlahan-lahan membentuk percaya diri Merly, untuk menjadi wanita yang lebih baik ketika dewasa nanti.

Mama Ross bahkan karena saking sayangnya pada Merly, sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.

Hidup Merly semakin bahagia, dan masa depannya semakin cerah setiap hari bersama Mama Ross.

Hingga suatu hari lagi, ia bertemu dengan arwah lain.

“Hehe, aku gak nyangka ada bocah belasan tahun yang berani menantang Gong Tiramikal-ku.”

“Tolong belas kasihannya, Tuan Gyl. Gong Tiramikal gak berpengaruh padanya karena dia sudah membuat kontrak denganku,” suara Mama Ross terdengar memelas, hampir menangis.

“Aku juga sebenarnya gak mau beresin bocah di bawah umur. Apalagi cewek. Tapi apa kamu bisa buat dia berguna?” suara Gyl terdengar seperti menyiratkan sesuatu hal kotor.

“...”

“Jangan bilang minta ampun aja. Kalau dia gak berguna, tetap harus aku beresin. Kalau aku membiarkan satu orang saja menyelip tanpa alasan, apa yang bakal dipikirkan kampret-kampret dari atas langit itu? Hmm? Mereka bakal mengira aku sudah menjadi lembek setelah tiga belas ribu tahun bersembunyi. Emoh, emoh! Kalau begitu urusannya bakal jadi pengaruh buruk buat bisnisku.”

Mama Ross menggertakkan giginya. Sedang Merly memeluk lutut duduk di pojok ruangan.

Mama Ross... aku gak mau mati.

Apakah benar dia akan membunuhku?

Merly Yurin tak berhenti-hentinya menangis. Tapi ia berusaha untuk tak bersuara. Takut-takut membuat arwah jahat itu menjadi kesal, dan langsung membunuhnya tanpa diskusi lagi.

Tempo hari, Mama Ross sudah membawa Merly dan kakak sepupunya Jerin pergi dari Desa Badril untuk menghindar dari Gyl. Menurut pengalamannya hidup tiga belas ribu tahun yang lalu, hidup dekat dengan arwah ini hanya meminta bencana jatuh ke rumah sendiri.

Namun tak ia sangka, walau sudah berlari sekuat tenaga, tetap terikat benah merah takdir antara mereka dan arwah psikopat ini.

“Aku akan membayar untuk nyawa Merly...” akhirnya Mama Ross berkata pelan, membulatkan tekadnya.

Gyl diam sesaat sambil mengelus-elus dagunya. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya, namun tetap ia menggelengkan kepala. “Kamu sudah menjadi arwah sekarang. Yang hidup dibayar dengan yang mati. Bukannya nanti bakal akunya yang merugi?”

Mama Ross mengepalkan tangannya. Ia sudah menduga tawarannya bakal ditolak. Lagi pula ini bukanlah pertama kalinya ia menawarkan hal yang serupa di depan Gyl. Tentu saja harga tawarannya melemah sekarang.

“Apa gak ada cara lain, Tuan Gyl?” tanya Mama Ross pasrah.

“Dari tadi kamu menyebutkan kesalahan yang membuatku kesal, Ross. Sebaiknya kalau kamu mau memelas kamu perbaiki dulu kesalahanmu itu.”

“Apa yang salah dari ucapanku?”

“Dari tadi kamu panggil aku Tuan Gyl. Jangan formal-formal gitu. Sudah kubilang kan panggil aja aku Abang Arwah Baik Hati.”

“Abang Arwah Baik Hati...” Mama Ross menggigit bibir bawahnya. “Apa ada cara lain utnuk membuat Merly berguna untuk abang?”

Gyl pun menyeringai puas. “Hmm... cara untuk membuatnya berguna ya? Hmm. Ada kok. Ada, ada! Uhuk uhuk!”

“Mama Ross, apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Pelan-pelan. Kamu punya cukup waktu. Ramuan tadi bisa menaklukkan laki-laki mana pun dalam hitungan menit. Jadi gunakan waktu luangnya untuk mempersiapkan dirimu.”

“...”

Sebuah tangan lembut meraba penasaran tubuh Shira, tetapi gemetar karena enggan dan gugup. Setelah itu, samar-samar Shira melihat siluet seorang gadis melonggarkan bajunya.

Wajah Merly jadi merah menyala. Ini bukanlah pertama kalinya ia melihat anak laki-laki bertelanjang dada, pemuda di keluarganya sering memamerkan badan bugar mereka saat latihan. Tapi untuk membuka sendiri baju laki-laki, beda lagi ceritanya.

“Hanya sebentar saja, dan Mama jamin masalah kita akan beres sesudahnya,” kata Mama Ross pelan menenangkan gadisnya.

Merly mengangguk. Melihat pemuda di depannya. Yang sudah tak sadarkan diri tapi jelas tubuhnya sudah memanas. Hanya butuh usaha kecil bila seseorang ingin melakukan hal aneh padanya.

shrek shreeek

Sontak saja, terdengar suara langkah kaki menyeberang semak-semak dari dekat mereka.

Mama Ross mengerutkan alisnya. Ia sudah memastikan sebelumnya, semua orang sudah pergi dari sini. Tak ada hawa keberadaan manusia yang mendekat, karena itu ia menyuruh Merly untuk memanfaatkan kesempatan mereka.

Tapi jelas saat ini, suara langkah kaki terdengar datang ke arah mereka.

Merly juga merasakannya. Ia pun panik dan cepat-cepat membereskan baju Shira.

Namun sialnya, ia tak cukup cepat. Sebuah wajah tak asing pun muncul memergoki perbuatannya barusan.

Wajah Merly menjadi pucat. Sosok yang datang barusan adalah Polio.

“Apa yang kamu lakukan pada Bos Shira?” tanya Polio memicingkan matanya, menatap lekat-lekat Merly dengan wajah penuh curiga.

“Aku gak ngapa-ngapain. Jangan salah paham. Ini gak seperti yang kelihatannya,” Merly menjawab cepat-cepat, takut perbuatannya barusan ketahuan oleh Polio.

Tapi suaranya jelas terdengar panik. Polio semakin mengerutkan wajahnya lebih curiga lagi.

Ia menyimak wajah Shira yang tak sadarkan diri. Dengan wajah teler seperti itu, tanpa menyelidiki dan berkesimpulan pun, Polio bakal bisa tahu kalau Shira sudah dibius.

“Kelihatannya? Kelihatannya kamu baru saja mau... memperkosa Bos Shira?” Polio pelan-pelan berkata, langsung melempar bom yang membuat wajah Merly menciut seperti siput.

“Gak...” Merly ingin membantah, tapi angin langsung menyapu suara yang terlalu pelan.

“Cewek macam apa kamu? Di mana moralmu? Cewek memperkosa cowok? Kalau aku gak kembali tepat waktu, kejadian paling memalukan bakal terjadi di sini!”

“Gak gitu...” suara Merly, karena saking pelannya, lagi-lagi di sapu oleh angin sebelum orang lain sempat mendengarnya. Air mata pun mulai berlinang di sudut matanya.

“Gak usah ngelak. Lepasin bos Shira, dasar kamu lacur!”

Pada saat itu juga, sebuah energi dahsyat menyeruak dari tubuh Merly. Sebuah kekuatan layaknya monarki yang melihat dunia dari atas, menggema lewat medium udara, membuat burung-burung yang tadinya santai bertengger di pepohonan pada terbang panik ke angkasa.

Dari punggung Merly, sebuah gas halus dan gaib, muncul, pelan-pelan membentuk lekuk tubuh wanita bergaun putih.

“Sombongnya!” sontak Mama Ross meraung usai memunculkan dirinya pada dunia. “Berani juga kamu bocor-bocorin mulut kotormu itu kepada anak didikku. Anak muda, apa kamu mau cari mati?!”

“Tadi kupikir ada apa aura heboh tiba-tiba muncul. Ternyata tante-tante lanjut usia,” cibir Polio.

“Lidahmu setajam pedang, anak muda. Apa kamu tau lidah juga senjata yang bisa membunuh? Terutama paling efektif untuk membunuh diri sendiri? Kalau kamu berani, ngomong kayak gitu sekali lagi di depanku,” Mama Ross sebenarnya terlalu malas untuk mengurusi anak-anak generasi muda. Tapi kehormatan seseorang dipertaruhkan sekarang. “Anak muda. Sebaiknya kamu mundur selagi ada kesempatan. Lupakan apa yang kamu lihat barusan.”

“Humph. Ada yang berniat buruk pada Bos Shira, mana mungkin aku mundur.”

“Coba berpikir dua kali. Jangan remehkan aku karena sekarang aku arwah. Kalau kamu tau identitasku yang sebenarnya, bahkan leluhurmu pun bangkit dari kubur untuk meminta maaf bersujud di depanku.”

Mama Ross mendengus. Dengan nada arogan dan mata memandang rendah pemuda ini, ia ingin membentuk aura otoritas sehingga masalah ini bisa ia selesaikan tanpa harus menggunakan tinju.

“Gak perlu leluhurku bangkit lagi. Aku tau siapa kamu,” kata Polio pelan dan hati-hati, menatap lekat arwah Mama Ross.

“Oh, ya? Kalau begitu kamu tau apa yang harus kamu lakukan sekarang.”

“Hmph! Kamu lacur tua, yang ngajarin lacur kecil untuk berbuat hal asusila.”

“Kamu cari mati!!!” teriak Mama Ross. Tanpa peringatan sekali pun, bola api muncul di tangannya. Tak ada perintah, teriakan, atau rapal, sebuah skill elemen api tingkat tinggi langsung melayang ke arah Polio.

Kecepatan bola api itu begitu cepat, Polio tak sempat mengelak.

BOOOM!!!

Bola api itu pun meledak, menciptakan kobaran api yang melahap tanah, pepohonan, dan sebagian isi gunung menjadi merah terbakar.

Suhu api itu begitu tinggi. Batang pohon sekejap menjadi arang, kemudian jadi abu gosong. Jangan bicarakan soal anak muda yang di dalamnya. Seharusnya dia sudah menjadi manusia panggang sekarang.

“Hmph! Lain kali di dunia selanjutnya, siap-siap mati kalau berani ngomong begitu di depanku lagi.”

Merly menjadi pucat melihat kobaran api di depannya. “Mama Ross... Mama membunuhnya?”

Mama Ross melihat Merly dari sudut matanya. “Jangan banyak dipikirkan lagi. Lebih baik bakal masalah diselesaikan segera, sebelum menjadi besar di kemudian hari.” Mama Ross membuat dinding api yang menutup area itu, menyamarkannya seperti kebakaran hutan. “Sekarang cepat lakukan, mumpung gak ada orang yang melihat.”

“Iya...”

Merly menoleh ke arah Shira. Namun saat matanya jatuh ke pemuda itu, ia langsung mengangkat alisnya.

Mama Ross juga melihat sesuatu yang ganjil. “Posisinya bergeser saat kita gak melihat. Jangan bilang dia bergerak dengan sendirinya?”

Shira sudah dibius, rentan diserang oleh orang lain. Karena itu, bergerak dengan keinginannya sendiri, hampir mustahil tanpa diberi minum ramuan untuk melawan efek obat Mama Ross.

Mama Ross tiba-tiba berpikir, bagaimana ia tak bisa mendeteksi kehadiran Polio sebelumnya.

Seharusnya, bila ada manusia atau makhluk hidup, akan terdeteksi oleh Mama Ross. Jangankan Polio, petarung yang lebih kuat pun akan kesulitan untuk menyembunyikan aura keberadaan mereka dari Mama Ross.

“Ada yang salah!” desis Mama Ross. Akhirnya ia pun menggunakan sebuah skill untuk memeriksa jejak-jejak mana di udara. Berjaga-jaga bila seseorang menggunakan sihir untuk mempermainkan mereka.

Dan benar saja. Mama Ross mengerutkan alisnya ketika melihat, ada jejak mana berlemen afinitas asing dari arah Polio berdiri tadi.

Mama Ross fokus menyelidiki. Mengikuti arah benang mana tersebut berasal.

Hasilnya, membuat arwah wanita itu terkejut bukan main. Seseorang yang menggunakan skill sihir untuk mempermainkannya, bukanlah orang asing yang misterius, melainkan Shira yang sedang tak sadarkan diri di depannya!

“Aneh! Benar-benar aneh...” gumam Mama Ross. Seorang yang tak sadarkan diri, tak mungkin bisa menggunakan sebuah skill.

Apa ini adalah hasil kerja sebuah artifact? Yang tiba-tiba menyala saat mekanisme pertahanan diri Shira mulai bekerja.

“Arwah itu gak mungkin akan memilih seorang bocah biasa...”

“Mama Ross...”

“Apa yang kamu tunggu sekarang. Cepat copot celananya!” perintah Mama Ross.

Wajah Merly memerah lagi setelah mendapatkan perintah demikian.

Mama Ross juga merasa canggung akan perkataannya sendiri. Tapi entah mengapa ia merasakan suatu hal yang genting, jadi ia tak menghiraukan masalah sepele seperti itu.

Tapi seseorang tak setuju. Sebuah tawa pun menggema di angkasa.

“Hahahaha! Buas sekali! Memang salut aku sama salah satu dari tujuh perempuan penyokong Benua Tiramikal. Kalau gak vulgar dan nakal seperti itu, mana mungkin bisa selamat dari perang tiga belas ribu tahun yang lalu!”

Merly terkejut ketika mendengar suara itu. Ia melihat ke arah Mama Ross, yang mengerutkan dahinya dalam-dalam.

Suara itu jelas milik Polio. Tapi anehnya, selain masih hidup, ia tahu identitas Mama Ross sedalam itu.

Satu hal yang jelas sekarang. Orang ini bukanlah Polio!

“Siapa kamu!” raung Mama Ross, menengadah ke angkasa. Tak ada sosok yang muncul sekarang, jadi ia hanya berteriak ke arah sumber suara.

“Siapa aku gak penting. Tapi yang jelas aku gak sekotor kamu. Yang ngaku suci tapi dalemnya ternyata perempuan liar. Hahaha!”

Mendengar nada mengejek dan terdengar jijik pada dirinya, Mama Ross mendengus. Ia bisa menebak, dari nada angkuh ini, orang yang ia hadapi adalah perempuan. Ia juga bisa menebak kalau sikap orang ini sangat berpikiran sempit dan penuh dengan rasa iri dan dengki di hati!

Lagi pula, Mama Ross sudah terbiasa saling benci dengan perempuan lain semasa hidupnya. Ia tak berpikir kalau akan bertempur mati-matian dengan perempuan lain saat pertama kali bertemu adalah hal yang tak wajar.

“Sombong sekali kamu jahanam! Coba perlihatkan dirimu kalau berani!” desis Mama Ross.

“Buat apa? Nanti aku ketularan kotor lacur tua jadinya!”

“Jahanam! Rasakan apiku dan kembalilah kamu ke neraka!”

Tak sungkan-sungkan mereka saling melempar kata-kata kasar. Saling adu mulut satu sama lain. Walau terlihat seperti pertengkaran perempuan biasa, tapi sejarahnya, bagi para perempuan petarung tingkat tinggi seperti ini, yang terjadi selanjutnya jauh lebih mengerikan ketimbang saling jambak rambut.

Mama Ross langsung mengeluarkan skill sihir paling destruktif yang ia miliki di gudang persenjatannya.

BUUUUZZZ!!!

Bunga api berwarna ungu raksasa mencuat dari atas gunung. Hampir memanggang separuh permukaan gunung tersebut.

Kalau saja tak ada sebuah kekuatan misterius dari luar yang melindungi gunung Desa Badril, tempat itu sudah hancur sekarang.

Semua orang di Desa Badril, yang melihat kejadian ini dari bawah, semua mengangakan mulut mereka.

“Seorang pahlawan lewat! Hanya seorang pahlawan berkekuatan tinggi saja yang bisa menciptakan api sedahsyat itu! Pasti ada orang goblok di atas gunung yang membuatnya marah,” kata seorang warga desa.

“Benar sekali. Untuk kita orang-orang awam, di hadapan pahlawan seperti itu, seharusnya merendah seperti semut dan jangan sekali-sekali membuatnya kesal!”

“Hei, hei... apa kalian merasa... api di atas gunung ini kayak pernah kejadian sebelumnya ya...”

Hampir semua orang merasakan api tersebut sangat tak asing, tapi sama sekali tak bisa mengingatnya! Karena ketika memori mereka mencoba meraba-raba ingatan tentang peristiwa yang meliputi api yang sebelumnya, efek Gong Tiramikal yang tertanam di kepala mereka langsung berfungsi, membuat mereka lupa dan tak tahu apa-apa seperti domba yang digiring dengan mudahnya.

Sedang Mama Ross, yang menggunakan skill destruktif tersebut, tak yakin apakah ia mengenai si jahanam yang membuatnya kesal. Ia mengerutkan alisnya, menunggu reaksi.

Sontak dari dalam sisa percik apinya di udara, muncul kabut ungu pekat yang mengambang. Pelan-pelan, kabut ungu tersebut menjadi padat, mengeras, dan membentuk rantai-rantai ungu yang bergeliat seperti ular.

Rantai tersebut nampak hidup. Gerakannya lincah, menyerang ke arah Mama Ross.

Respons Mama Ross pun menciptakan pelindung dari api untuk melindungi tubuhnya. Namun tak seperti dugaannya, rantai itu berbelok tak mengarah kepadanya.

Rupanya pun ia mengincar Merly!

Mama Ross berusaha untuk menghentikan rantai berwarna ungu tersebut. Tapi ia kalah cepat. Tak sampai hitungan detik, tubuh Merly sudah terlilit rantai berwarna ungu, terangkat ke udara seperti boneka yang tergantung pasrah.

“Hmm... sudah berapa tahun kamu hidup sama lacur tua ini? Aku bertanya-tanya dalam hati, apa sebelumnya kamu sudah ketularan kotornya perempuan tua itu?” kata suara Polio, bernada menggodai.

Wajah Merly pucat pasi. Karena tak bisa bergerak oleh lilitan rantai, ia pun memanggil-manggil nama Mama Ross untuk meminta tolong.

Sedangkan wajah Mama Ross sendiri, sudah berubah dari biasanya.

Kini ia tak lagi menjadi wanita elegan seperti sebelumnya. Wajahnya berubah menjadi buas, seperti iblis perempuan yang baru keluar dari penjara neraka, penuh dengan hawa membunuh.

“LEPASKAN... MERLY... SEKARANG JUGA!!!”

BUUUZZZZZ!!!

Aura Mama Ross tiba-tiba menjadi lebih pekat berkali-kali lipat. Melihat Merly ditawan, Mama Ross tak segan-segan membeli kekuatan dengan inti sari kehidupannya.

Itu adalah kekuatan yang hendak ia gunakan saat hampir bertarung dengan Gyl di puncak gunung Desa Badril sebelumnya!

Loading...